C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Dektetif Swasta


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Marons jadi terdiam memikirkan apa yang akan terjadi jika dia terseret dalam peristiwa ini dan harus balak balik kantor polisi untuk pemeriksaaan dan disangkakan sebagai pembunuh. Dia menarik nafas panjang dan dalam.


"Danny, kau sudah dapat orang yang bisa bantu untuk menyelidiki kasus ini? Aku percaya polisi akan bersikap profesional, tapi ada saja yang tidak terduga. Di kepalaku ini, belum bisa berpikir, apa yang terjadi. Jika kami harus berpisah, tapi tidak dengan cara yang begini." Marons merasa sedih untuk pernikahannya yang seumur jagung dan berakhir dengan cara yang menyedihkan.


Dia terlalu shock, hingga belum bisa mencerna semua yang terjadi. Segalanya sembraut dan tidak jelas. Tidak tahu mau mengurai dari yang mana. Sedangkan kepalanya sedang penuh dengan berbagai pertanyaan dan belum ada kepastian dalam semua hal. Termasuk rencana pemakaman istrinya. Semuanya serasa mau memecahkan kepalanya.


"Aku sudah minta tolong saudaraku di Surabaya. Dia pernah menangani kasus pembunuhan di sana dan dia berhasil memecahkan kasus pembunuhan tersebut karena dibantu oleh seorang dektetif swasta yang disewa oleh keluarga korban. Semoga dektektif itu bisa membantu kita juga." Ucap Danny berharap. Dia membutuhkan seseorang yang mampu mendukungnya untuk mengumpulkan bukti.


"Jika orangnya bersedia, nanti sekretarisku akan mencari tempat tinggalnya selama berada di sini untuk membantu kita. Walaupun hubungan kami kurang baik, tapi aku ingin tahu siapa yang membunuhnya." Marons juga berharap, mungkin dengan adanya bantuan dektetif, bisa membantu mereka mengurai apa yang sedang terjadi.


"Apakah orangnya hanya bisa menyelidiki kasus pembunuhan? Ataukah detektifnya bisa mengerjakan tugas yang lain?" Tanya Marons, karena kematian Rallita membuat dia berpikir, ada banyak hal dibalik kematiannya yang mengenaskan dan penuh misteri.


"Secara umum, dektetif bisa memantau, melakukan investigasi, mengumpulkan dan menganalisis informasi. Detektif akan mengumpulkan potongan bukti dan fakta hingga kebenaran dapat terungkap secara lengkap." Ucap Danny menjelaskan peran yang bisa dilakukan seorang dektetif.


"Jadi dalam kasus ini, dia akan sangat membantu, jika kasus ini disidangkan. Mungkin bisa bantu menyingkapkan hal lain, saat menyelidiki kasus pembunuhan ini. Nanti kita lihat dan bicara juga dengan orang tua Rallita. Bisa saja mereka akan sewa dektetif untuk membantu penyelesaian kasus pembunuhan anak mereka." Ucap Danny lagi, mengingat orang tua Rallita berduit.


"Iya, nanti aku bicara dengan orang tuanya setelah ini. Kau urus yang ini dulu, supaya ada kepastian." Marons berbicara sambil memijit keningnya.

__ADS_1


"Aku sedang menunggu telpon saudaraku, karena aku hubungi tidak bisa, jadi aku sudah kirim pesan. Semoga sudah ada kepastian secepatnya, sebelum selesai autopsi." Ucap Danny berharap, agar mereka bisa berjaga-jaga.


"Iya, Danny. Aku mau menyewa dektetif swasta, bukan saja untuk menghindariku dari jerat hukum, tapi aku ingin tahu juga tentang kehidupan Rallita di luar sana. Aku menikah dengannya seperti kucing dalam karung. Semua yang diperlihatkan padaku setelah menikah, berbanding terbalik saat pacaran." Marons berkata demikian, karena perilaku Rallita yang manis hilang setelah mereka menikah.


"Aku yang terlalu sibuk atau terlalu cuek dengan rumah tanggaku. Aku pikir, orang tuanya pengusaha, sudah terbiasa dan mengerti tetapi berbeda 180 derajat kelakuannya dari saat pacaran." Ucap Marons merenungi kehidupan rumah tangganya. Rallita tidak berpengertian seperti yang diperlihatkan saat berpacaran.


"Setelah menikah ko' yang buruk-buruk darinya kelihatan semua. Membuat ribut hampir tiap hari, bikin capek, pusing dan sakit kepala." Marons mengingat dan jadi membandingkan.


"Kau tenang saja dulu, aku mau hubungi saudarku supaya ada kepastian. Jika tidak bisa, kita harus secepatnya mencari orang lain untuk bisa membantu kita." Ucap Danny coba menenangkan Marons, karena melihatnya duduk sambil memijit kening dan pelipisnya.


°***°


Kaliana tadinya bekerja sebagai ivenstigator di kepolisian, sehingga mengenal dengan polisi dan cara kerjanya. Dia mengundurkan diri untuk mendirikan kantor dektetif swasta, karena tidak suka terikat dengan banyak aturan yang harus dipatuhi. Jiwanya yang bebas, suka menyelidiki dan menganalisa berbagai kasus, membuat dia lebih memilih menjadi dektektif. Sehingga dia mendirikan kantor dektetif swasta.


Semua itu dia lakukan setelah kedua orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat. Semua uang yang dia dapatkan, dia gunakan untuk menghidupinya dan menyewa tempat untuk bekerja. Dia juga membeli perlengkapan pendukung sebagai penyelidik, diantaranya membeli mobil kesukaannya. Dia memodifikasi mobil tersebut sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.


Sekarang dia telah pindah dan sudah memiliki tempat kerja yang baru di Jakarta. Keempat pegawai yang membantunya di Surabaya ikut dengannya ke Jakarta. Dua wanita dan dua pria. Satu sudah pensiun dari kepolisian tapi masih kuat dan semangat bekerja. Sehingga bisa membantunya dengan cepat dan cekatan, untuk mendapatkan bukti-bukti yang dibutuhkan. Yang seorang lagi, kuasai IT untuk mempermudah kinerjanya mencari seseorang. Sedangkan kedua wanita bekerja di kantor menangani admistrasi, tapi kadang-kadang ikut juga bekerja di lapangan.


Saat sedang berbicara dengan keempat pegawainya, telponnya bergetar. "Kalian rapikan dokumennya, ya. Saya mau terima telppon." Kaliana langsung merespon panggilan di ponselnya, setelah tahu siapa yang telpon. Rekan polisi di Surabaya yang pernah bekerja sama dengannya.

__ADS_1


"Halloo, Anna. Kau lagi sibuk menata kantor baru?" Tanya rekan polisinya, saat Kaliana merespon panggilannya.


"Iya, Mas. Lumayan sibuk nih. Baru pindah dan sudah mulai bekerja. Bagaimana, Mas." Tanya Kaliana. Dia tahu, tidak mungkin hanya telpon untuk menanyakan kabarnya.


"Ini aku mau minta bantuanmu. Saudaraku pengacara di Jakarta. Dia sedang menangani kasus pembunuhan. Dia minta tolong, cari dektetif swasta untuk membantunya. Kau sekarang sudah di Jakarta, akan lebih mudah untuk menangani ini." Rekan polisinya mencoba menyakinkan Kaliana.


"Waaahh... Ini kami baru pindah dan lagi sibuk-sibuknya, Mas. Apa Mas tidak bisa minta tolong yang lain? Aku belum bisa konsen untuk menangani kasus pembunuhan." Ucap Kaliana mencoba menolak, karena dia juga belum hapal seluk beluk Jakarta.


"Aku bisa saja merujuk orang lain. Tetapi saudaraku minta kau. Dia tahu penyelesaian kasus di Surabaya, jadi mengharapkanmu. Kau bicara dengannya dulu, sebelum ditolak." Rekan polisinya terus mencoba dan berharap Kaliana mau menerima kasus tersebut.


"Ini kasus pembunuhan siapa, Mas." Ucap Kaliana tidak enak untuk tidak bertanya.


"Saudaraku pengacara pribadi seorang pengusaha. Istrinya meninggal ...." Rekan polisinya menceritakan kasus pembunuhan yang terjadi. Sekarang dia belum jadi tersangka, baru diperiksa sebagai saksi. Tetapi kau tau sendiri, jika salah sedikit bisa jadi tersangka. Saudaraku butuh bantuanmu untuk menyelidiki dan siapkan bukti-bukti, agar saudaraku bisa membelahnya jika terjadi sesuatu. Saksi ini bukan hanya clientnya, tetapi juga sahabatnya. Jadi dia ingin membantunya semaksimal mungkin." Ucap Rekan polisi untuk menggugah hati Kaliana.


"Kau bisa bertemu dengan mereka. Supaya kau lebih mengenal siapa yang berkasus. Kau juga bisa lihat di sosial media, karena cukup banyak diberitakan. Clientnya seorang pengusaha muda yang sukses. Istrinya juga dari keluarga terpandang dan berduit. Kau cari saja nama Marons Kasmara. Kau akan lihat profilnya.


"Mas, sebut siapa? Marons Kasmara? Istrinya yang dibunuh?" Tanya Kaliana terkejut. Nama itu tidak pernah hilang dari ingatannya dan dia tahu siapa Marons Kasmara.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2