![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Marons sedang berdiri diparkiran sambil berpikir. Sehingga tidak menyadari kehadiran Danny. Banyak hal berputar di kepalanya dan membutuhkan jawaban. Danny menepuk punggung Marons pelan untuk menyadarkannya.
"Bagaimana, Danny. Apa kita bisa pulang dulu? Aku ingin mandi untuk membersihkan tubuh dan pikiranku, agar aku bisa berpikir dengan baik sebelum aku benar-benar gila." Ucap Marons lalu masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka oleh Danny.
"Iyaa... Kita bisa pulang. Kau istirahat dulu, baru kita bicara dan datang lagi ke sini untuk lanjutkan BAP nya." Ucap Danny, yang sudah duduk di samping Marons dengan rasa khawatir. Dia menjalankan mobilnya keluar dari kantor polisi.
"Apakah mereka bisa buktikan siapa bapak bayi itu?" Tanya Marons tiba-tiba membuat Danny terkejut dan langsung rem mobilnya. Dia bersyukur, mereka belum keluar sampai di jalan raya, sehingga tidak terjadi tabrakan beruntun, karena tindakannya yang berhenti tiba-tiba.
"Apa maksudmu, Marons? Kau bukan bapak bayi itu?" Tanya Danny yang sudah bisa menguasai pikiran dan tindakannya. Dia mulai menebak, kenapa tadi Marons kesal dan emosi. Dia jadi menjalankan mobilnya pelan, agar tidak terjadi rem mendadak lagi saat mendengar penjelasan Marons.
"Jalankan saja mobilmu agak cepat, karena aku ingin segera tiba rumah. Nanti kita bicarakan ini di rumah. Aku butuh tenaga dan ketenangan untuk memikirkan dan membicarakan semua ini." Ucap Marons sambil menggerakan tangannya, meminta Danny menjalankan mobilnya lebih cepat.
Setelah tiba di rumah, saudara kedua orang tuanya menyambutnya dengan pelukan turut berduka. Marons hanya bisa ucapkan terima kasih, lalu berjalan mendekati Ibunya. Dia ingin minum sesuatu yang panas, jadi dia meminta tolong Ibunya membuatkan minuman untuknya dan Danny. Setelah berbicara dengan Ayahnya sebentar, dia segera masuk kamar untuk mandi sebelum keluarga yang lain mengajaknya bicara.
"Mau letakan minum ini dimana?" Tanya Ibunya setelah dia keluar dari kamar. Ibunya dan Danny sudah menunggunya, dengan minuman panas di ruang makan. Ibunya meletakan minuman panasnya di meja makan.
"Terima kasih Bu. Aku dan Danny mau bicara sebentar di ruang kerja. Jika ada keluarga yang tanya, tolong Ibu jelasin, ya. Sementara ini kami jangan diganggu dulu. Kalau Ibu mau istirahat, istirahat saja." Ucap Marons sambil mengelus pundak Ibunya dengan sayang. Dia bisa merasakan rasa khawatir Ibunya dari sentuhan tangannya di lengannya. Marons mengenakan sweater menutupi kaos berkeraknya, agar bisa menutupi perban di tangannya.
__ADS_1
"Marons, baiknya kau pamit dengan semua yang ada datang ini. Mungkin mereka mau pulang, karena jenasahnya belum ada di sini. Jadi biarkan mereka pulang dulu, nanti besok baru Ayah beritahu mereka lagi." Ucap Ayah Marons yang datang mendekati mereka. Ayahnya mengerti, mungkin Marons capek dan ingin beristirahat. Jadi dia tidak akan diganggu lagi.
Marons mengangguk, mengerti maksud Ayahnya lalu mendekati semua keluarganya untuk pamit. Kemuadian dia bersama Danny menuju ruang kerjanya sambil membawa cangkir minuman di tangan. Bibinya sedang sibuk melayani keluarga dan juga membantu Ibunya, jadi Marons tidak memintanya untuk menyediakan minuman di ruang kerja seperti biasanya.
Setelah berada di dalam ruang kerjanya, Marons dan Danny duduk di sofa sambil minum kopi instan buatan Ibunya. "Apa maksud ucapanmu tadi? Apa benar kau meragukan bayi dalam kandungan Rallita adalah anakmu?" Tanya Danny yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Bukan meragukan, tetapi aku yakin, bukan anakku. Jika kau bisa menyelidiki untuk memastikan siapa bapaknya, silahkan. Mungkin kematiannya ada berhubungan dengan bayi itu." Marons tidak bisa menyembunyikan emosinya.
"Kau ingat peristiwa tiga bulan lalu, yang aku ceritakan padamu? Yang aku minta pendapatmu, karena mau memulangkan dia ke orang tuanya? Sejak saat itu, aku tidak pernah menyentuhnya. Jadi tidak mungkin bayi itu anakku." Ucap Marons yakin. Danny melihat Marons dengan serius sambil mengingat peristiwa tiga bulan lalu itu. Marons datang ke rumahnya, kemudian menceritakan apa yang terjadi.
Flashback.
Tanpa setahu Rallita, Marons sedang melihatnya. Dia mengatakan sedang di rumah, saat Marons menanyakan sedang dimana. Marons langsung berjalan mendekati mereka dengan rahang yang sudah kaku. Ketika Rallita melihat Marons telah berdiri di dekatnya sambil memegang ponsel di telinganya, dia terkejut dan pura-pura tidak bersama pria di sampingnya.
Padahal Marons sudah melihat kemesraan mereka sejak tadi. Marons sudah menangkap basah perbuatannya, tapi masih berusaha mengelak. Dia mengenal pria yang ada di sampingnya, karena Rallita bilang itu temannya waktu datang ke pesta pernikahannya. Didukung dengan reaksi Rallita dan pria di sampingnya berbeda saat melihat Marons, makin membuka kedok mereka. "Kalian beruntung, saya ada pertemuan di sini. Jika tidak, saya akan menghajar kalian berdua sampai tidak tau jalan pulang." Ucap Marons yang sudah geram melihat mereka.
Rallita berusaha memberikan berbagai alasan kenapa ada di situ, tetapi Marons sudah tidak percaya lagi pada semua ucapannya. Dia berbalik dan pergi meninggalkan mereka.
Flash off.
__ADS_1
Semenjak itu, Marons tidak pernah lagi menyentuh Rallita dalam arti berhubungan suami istri. Dia merasa jijik dan tidak mau bercampur dengan wanita yang tidak tahu menghormati perkawinannya.
"Jadi setelah itu, kalian sudah tidur terpisah?" Tanya Danny penasaran, melihat waktu tiga bulan cukup lama.
"Tidak... Masih tidur bersama. Aku suruh dia pindah tidur di kamar yang lain, tetapi tidak mau. Dia akan gedor-gedor pintu kamar untuk minta masuk tidur. Aku jadi malu dengan tetangga atau Bibi, jika mendengarnya. Dikira aku yang gedor pintu minta masuk, karena dikunci. Jadi aku biarkan saja dia tidur di kamar. Aku lebih banyak pergi tugas di luar kota, di kantor cabang untuk menghindari ribut." Marons mengatakan itu sambil menahan emosinya.
Sedangkan Danny mendengar dan heran dengan sikap Marons. "Kenapa kau tidak pulang tinggal sementara di rumah orang tuamu?" Tanya Danny penasaran dengan apa yang dilakukan Marons. Bertahan tinggal seatap dengan istri seperti itu, sangat mengkhawatirkan.
"Bisa saja aku lakukan itu, tetapi bukan menyelesaiksn masalah, malah menambah masalah. Jika orang tuaku tau dan ikut campur, makin memperunjing persoalan. Aku sedang memikirkan cara yang baik agar bisa bicara dengan orang tuanya tentang kelakuan Rallita.
Jadi jika kami berpisah, orang tuanya sudah tau penyebabnya. Aku salah juga, waktu itu karena emosi, tidak foto mereka sebagai bukti. Aku juga tidak menyangka, Rallita sangat pintar berbohong dan plying victim." Ucap Marons emosi memikirkan kejadian itu dan pertengkarannya dengan Rallita.
"Apa kau tidak pernah berpikir tidur bersama dengannya itu sangat beresiko? Dia bisa saja membunuhmu di atas tempat tidur saat kau sedang tidur." Ucap Danny serius, memikirkan kondosi yang Marons ceritakan.
"Astagaaa... Aku tidak pernah memikirkan itu. Mungkin dia selingkuh, tetapi aku tidak berpikir dia bisa membunuh." Ucap Marons, tapi dia jadi bergidik memikirkan apa yang dikatakan Danny. Tanpa curiga tidur bersama wanita yang sudah terbukti tidak jujur dan suka playing victim.
...~***~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1