C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Seiring Waktu 2


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Hati Marons menghangat, ketika melihat dan mendengar respon dari anggota team sopape terhadap kejadian yang menimpanya. Semua rasa kecewa dan sakit yang dialami sepanjang hari menguap begitu saja. Apalagi melihat tatapan Kaliana yang tidak lepas darinya, hatinya makin menghangat.


"Biarkan dia saja, Pak. Mungkin tempat mencari nafkah di tempat Pak Marons cukup sampai sekian waktunya. Kita akan lihat, apakah keluarga korban akan memberikan tempat kerja yang lebih baik untuknya." Kaliana berusaha membesarkan hati Marons, agar tidak terlalu kecewa.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Melihat siapa yang menelpon, Kaliana segera memakai handsfree lalu merespon panggilan Bram. Dia khawatir sapaan Bram didengar oleh anggota team sopape dan ledekin Bram. Apalagi ada Marons bersama mereka.


πŸ“±"Sayangku, cintaku, belum tidurkah." Sapa Bram senang, saat Kaliana merespon panggilannya. Dia terlambat telpon, karena pemeriksaan saksi berjalan lambat dan berbelit-belit. Kemudian dia harus menghadap pimpinan untuk melapor hasil interogasi


πŸ“±"Negriku, bangsaku, sedang mimpi." Jawab Kaliana lalu berdiri dan memberikan isyarat kepada Marons untuk minta waktu sebentar. Marons mengangguk, tapi tidak mengerti dengan jawaban Kaliana yang sangat berbeda saat membalas sapaan.


πŸ“±"Rakyatku, merdekaaa...!" Jawaban Yicoe, Novie dan Putra sambil mengepalkan tangan membuat Kaliana meletakan jari di bibirnya, agar mereka diam karena Bram bisa mendengar mereka. Kaliana mengepalkan tangan ke arah mereka, mengancam.


Kemudian Kaliana berjalan keluar ruangan karena melihat semua anggota teamnya mulai tertawa dan itu mengganggu konsentrasinya. Marons yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, hanya melihat mereka satu persatu, bergantian.


"Apa yang sedang terjadi?" Tanya Marons yang tidak mengerti melihat semua anggota team tertawa senang dan Kaliana sudah keluar dari ruangan.


"Pak, pakai handsfree nya...!" Putra tidak menjawab, tetapi dia memasukan Marons dalam team komunikasi mereka. Yang lain jadi ikut apa yang dikatakan Putra, memakai handsfree juga, termasuk Pak Yosa. Mereka bersikap seakan-akan hendak beraksi menyelidiki sesuatu. Marons jadi ikut lakukan seperti yang diminta oleh Putra.


Pengalaman pernah tanpa sengaja mendengar percakapan Kaliana dan Marons membuat Putra ingin mengulangnya dengan sengaja. Setelah semua memakai handsfree, dia meletakan tangan di bibir lalu mengaktifkan mode komunikasi mereka. Jadi mereka semua bisa mengakses percakapan Kaliana dan Bram.

__ADS_1


Maka terdengarlah percakapan Kaliana dan Bram. Kaliana tidak mengetahui apa yang dilakukan teamnya, karena ponselnya berada di dalam kantongnya.


πŸ“±"Senangnya... Sekarang aku bisa berada di mimpimu. Tadi aku lewat jalur mana, ya. Supaya lain kali bisa lewat jalur itu lagi ke mimpimu." Ucap Bram senang setelah sebelumnya mengganggu Kaliana seputar jawaban asal Kaliana tentang sedang mimpi


πŸ“±"Lewat jalur semak duri..." Ucap Kaliana singkat, karena teringat ada Marons yang menunggu untuk meneruskan pembicaraan mereka.


πŸ“±"Astagaaa... Dalam mimpi pun, kau tetap sadis. Aku akan mengacak-acak mimpimu." Bram mengancam dengan nada riang.


πŸ“±"Kau mau mengacak, atau aku yang meyabetmu dengan duri. Cepat katakan, kenapa kau mengganggu mimpiku." Ucap Kaliana serius, supaya Bram bisa serius. Marons yang mendengar percakapan mereka, bertanya-tanya dalam hati mendengar percakapan Kaliana yang tidak biasa dan akrab.


πŸ“±"Sabarrr sweety, bunny." Ucap Bram yang tidak bisa berhenti menggombal.


πŸ“±"Sweety, bunny lagi dikrangkeng. Cepataaan... Ada apa?" Tanya Kaliana penasaran.


πŸ“±"Bukan aku mengunci mulutnya, tetapi memang tidak ada yang bisa disampaikan padamu. Tadi kami tidak jadi membuka pintu, karena orangnya sedang pergi. Nanti kami akan kembali lagi ke sana bersamanya. Puasss...?" Tanya Kaliana setelah menjelaskan yang terjadi saat pergi dengan Raka.


πŸ“±"Oooh, baiklah. Aku kira ada yang kau sembunyikan dariku. Kau tidak penasaran dengan hasil pertemuanku yang tadi? Ko' kau tenang-tenang saja, seakan-akan itu tidak penting lagi untukmu." Bram memang merasa heran, Kaliana tidak bertanya tentang pertemuannya dengan orang tua dan saudara Rallita.


πŸ“±"Bukan tidak penting. Tadi aku sudah bilang, aku kebanyakan mimpi hari ini, jadi ada beberapa hal yang terlewatkan. Salah satunya, pertemuanmu dengan keluarga korban. Apakah sudah beres semua?" Tanya Kaliana yang baru teringat, saat ditanyakan Bram.


πŸ“±"Sudah selesai, dan aku lakukan seperti yang kau minta. Menembak, setelah mereka melempar salah kepada clientmu. Aku juga sudah melarang mereka ke luar negeri sebelum kasus ini selesai, seperti katamu. Semua percakan aku sudah email. Kau bisa lihat dan analisa sendiri." Bram menjelaskan apa yang perlu Kaliana tahu.

__ADS_1


πŸ“±"Aku jadi penasaran melihat wajah orang tuanya saat mendengar kehidupan anaknya yang amburadul dan juga tentang kehamilannya. Jika masih mau menjadikan Pak Marons kambing hitam, kami akan membuat mereka semua kambing zebra." Ucap Kaliana serius, tapi di ruang rapat Marons hampir bersuara dan yang lain menutup mulut dengan tangan.


πŸ“±"Aku sudah dapatkan yang kau minta. Lengkap semuanya, walaupun harus tarik urat leher dengan ayah korban. Tadinya mereka keberatan, tapi aku katakan bisa datang ke rumah dan ambil sesukaku, akhirnya mereka berikan dengan sedih hati dan terpaksa." Bram menyampaikan bahwa telah mendapatkan rambut dari keluarga korban untuk diselidiki Kaliana. Kaliana sangat senang mendengarnya


πŸ“±"Mantap... Nanti kau titipkan pada Raka, ya. Biar aku mau pergi periksa sekalian saat keluar nanti." Ucap Kaliana makin senang dan bersemangat. Marons menulis di kertas dan berikan kepada Pak Yosa yang ada di dekatnya. Dia menanyakan, Kaliana sedang berbicara dengan siapa, yang mengetahui banyak hal tentang kasus tewas Rallita.


Pak Yosa balas menulis, memberitahukan bahwa itu adalah penyidik kasus tewas istrinya dari kepolisian. Marons mengangguk mengerti, kenapa Kaliana bisa mengetahui banyak hal resmi tentang penyelidikan kasus tersebut.


πŸ“±"Bukannya kita akan bertemu? Mengapa aku harus titip pada Raka?" Tanya Bram, karena ingin bertemu Kaliana dan mentraktirnya. Kaliana telah membuat penyelidikannya fokus dan berbobot.


πŸ“±"Sekarang belum bisa, karena ada yang mau aku periksa. Ini kepalaku dan team sebentar lagi bisa keluar asap, karena sering digunakan untuk berpikir dalam waktu lama." Ucap Kaliana menjelaskan, karena dia belum mau bertemu Bram untuk menjelaskan banyak hal, setelah orang tua Jaret mulai intervensi.


πŸ“±"Naah.. itu satu lagi. Mengapa sampai sekarang kau belum pertemukan aku dengan anggota teammu? Apa anggota teammu ada wanita?" Tanya Bram curiga, karena Kaliana berulang kali tidak mengijinkan dia bertemu dengan teamnya. Dia meyakinkan lagi, karena dia kira Kaliana bercanda tentang anggota team yang akan digombalin olehnya.


πŸ“±"Naah.. Itu juga. Bukan hanya wanita, tapi wanita cantik. Jadi aku tidak mau mereka terkontaminasi dengan gombalanmu?" Ucap Kaliana membuat Bram makin penasaran. Tapi Putra mengangkat dua jempol kepada Yicoe dan Novie. Marons jadi tersenyum bersama Pak Yosa.


πŸ“±"Astaga, Kaliana..! Kau tidak percaya pada teammu? Buktinya kau tidak terkontaminasi dengan gombalanku." Ucap Bram merajuk.


πŸ“±"Bukan tidak percaya pada teamku, tetapi pada gombalanmu. Sudah, aku mau tidur. Dari pada kau makin ambor gombalanmu." Ucap Kaliana yang akan mengakhiri pembicaraan mereka.


πŸ“±"Anna, kau bernafas?" Tanya Bram tiba-tiba membuat team sopape yang sedang menguping langsung terdiam dan menutup mulut mereka, karena tadi tanpa sengaja Marons meniup nafasnya karena kesal mendengar gombalan Bram.

__ADS_1


...~***~...


...~●○€○●~...


__ADS_2