C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Warna Warni.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di sisi yang lain ; Marons berdiri dengan segera untuk meninggalkan ruang kerjanya yang sudah terasa gerah baginya. "Segera cari sekretaris yang bukan hanya pintar, tapi juga jujur dan tau diri. Yang pikiran dan akalnya sehat, agar tidak mudah dungu dengan hal bodoh." Ucap Marons sambil berjalan keluar meninggalkan ruang kerjannya.


Marons menyerahkan penyelesaian sekretarisnya kepada Asisten Ayahnya, HRD dan Security. Dia tidak ingin berlama-lama berada di ruangan tersebut dan melihat sekretaris yang telah menghianatinya. Bagi Marons, apapun alasannya, sekretarisnya sudah berkhianat dan hampir membuatnya celaka dan susah.


Marons berjalan cepat menuju lift khusus. Setelah di dalam lift, dia menghubungi Danny untuk bertemu dengannya. Sebagaimana mereka telah berjanji untuk bertemu seusai pulang kantor. Hanya sekarang, Marons memajukan jam pertemuannya, agar bisa mengurangi rasa marah yang belum juga surut akibat perbuatan sekretarisnya.


Setelah berada di ruang kerja Danny, Marons duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya, lalu meniup nafasnya dengan kuat. Melihat apa yang dilakukan Marons, Danny menjadi heran. Marons tidak biasamya seperti itu, jika baru kembali dari luar kota. Selalu banyak hal yang dia ceritakan. Baik tentang pekerjaan atau para pengawainya.


"Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu di kantor cabang?" Tanya Danny sambil meletakan air mineral di meja depan Marons.


"Di kantor cabang baik-baik saja. Yang tidak baik itu, di kantor pusat di ruang kerjaku...." Ucap Marons lalu menceritakan apa yang terjadi dengan sekretarisnya.


Marons menceritakan apa yang dilakukan Kaliana dan teamnya untuk mengamankan dia dari orang yang disewa oleh orang tua Rallita. Marons bercerita sambil mengingat apa yang terjadi di Malang dan juga dengan sekretarisnya di ruang kerjanya. Hal itu membuat emosinya berubah level, turun naik.


"Astagaaa... Berarti itu bukan hanya isyu atau gosip. Mereka benar-benar mau menjebakmu. Kau harus berterima kasih untuk Kaliana dan teamnya. Mereka sangat peka dan cepat bertindak, sehingga bisa meloloskau. Aku sudah dengar, ada masalah dengan Jaret dan sepertinya orang tuanya mulai intervensi penyelidikan polisi. Begitu juga dengan mantan mertuamu." Danny berkata serius sambil duduk di depan Marons.


"Apa kau sudah bicarakan isyu itu kepada Kaliana?" Tanya Marons ingin tahu, karena Kaliana dan team bisa bertindak tepat dan mengetahui tentang ada orang dekat dengannya yang terlibat.

__ADS_1


"Aku belum sempat bicarakan dengan Kaliana, karena selain dia lagi sibuk, aku mengangap itu hanya hoax. Sepertinya Kaliana bekerja dengan orang dalam sehingga mereka bisa menanggapi semua yang berhubungan denganmu dengan serius, cepat dan tepat." Ucap Danny yang menyadari, Kaliana bisa mengetahui banyak hal secara benar dan pasti.


"Iyaa.. Mereka memiliki reverensi yang lengkap. Aku sebenarnya curiga dengan orang lain yang sering aku lihat di berbagai tempat, ketika aku lagi bertugas. Tapi Kaliana gerak cepat saat melihat orang yang duduk bersamanya. Sepertinya Kaliana tau reputasi orang itu buruk, hingga mengamanku dari orang itu." Ucap Marons, mengingat Pak Yosa menyebut nama orang itu, kemudian Kaliana langsung mengatur perjalanan dan penerbangannya.


"Sebenarnya, mereka bisa bertindak begitu karena kau juga yang membantu mereka dengan kepekaanmu terhadap orang itu. Jika kau cuek, mereka tidak akan tau kalau kau sedang diikuti." Ucap Danny yang mengakui, Marons cukup peka dengan orang yang ada di sekitarnya.


"Aku mungkin bukan peka, tetapi sekarang gampang curiga melihat orang yang sama berulang kali di berbagai tempat yang aku datangi. Seperti kemarenan, aku sempat bertanya kepada security, apakah orang tersebut adalah karyawan perusahaan. Tetapi karena jawabannya bukan, kecurigaanku makin bertambah dan aku katakan itu kepada Kaliana." Ucap Marons mengingat alasan kenapa dia bisa tahu ada yang mengikutinya.


"Apapun itu, kau sekarang harus berhati-hati. Sepertinya orang tua Rallita sakit hati kepadamu, karena mungkin mereka berpikir kau yang membunuh anaknya, atau menyuruh orang yang melakukannya." Ucap Danny mengingatkan Marons, karena dia sudah pernah bertemu orang tua Rallita dan mengetahui sikap mereka terhadap Marons.


"Kau jadi datang ke acara Ulang Tahun, Dewi?" Tanya Danny, mengingat suasana hati Marons yang tidak baik. Sehingga mungkin saja dia tidak mau ikut dengannya dan Yogi.


"Jadiii... Aku perlu meluruskan pikiran dan emosiku yang seperi tali tersimpul. Bergerindel memikirkan apa yang baru terjadi. Kalau orang tua Rallita berpikiran negatif tentangku, aku bisa memaklumi. Mungkin mereka kecewa atau sakit hati karena mendengar apa yang dikatakan anak mereka." Marons mencoba melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda.


Danny melihat Marons dengan hati sedih. Dia dikhianati oleh wanita-wanita di sekitarnya karena berhubungan dengan pria bermasalah. Baik istrinya, begitu juga sekretarisnya.


"Kalau begitu, mari kita pergi. Jangan sampai Yogi dan Dewi menunggu kita terlalu lama. Jam segini, jalanan suka padat dan macet." Ucap Danny lalu mengambil tas dan kunci mobilnya.


Setelah tiba di tempat parkir, Marons mengambil ole-ole yang dibawanya untuk diberikan kepada Danny yang hendak naik ke mobilnya. "Ini ole-ole untukmu. Nanti sudah asyik ngobrol, aku lupa memberikannya. Sekalian aku titipkan punya Yogi." Ucap Marons sambil menyerahkan dua paperbag kepada Danny. Dia khawatir tiba-tiba harus pulang terlebih dulu, dan lupa memberikan bagian Yogi.

__ADS_1


Mereka berangkat dengan mobil masing-masing. Saat tiba di restoran tempat dimana mereka akan makan malam, Yogi dan Dewi telah menunggu dan menyambut mereka dengan senyum sengang. Terutama Dewi, dia menyambut kedatangan Danny dan Marons dengan semyum sumbringa.


"Ada apa denganmu? Baru pulang dari luar kota bukannya happy, tapi wajahmu seperti jas dokterku yang tidak disetrika, kusuuuuttt...." Yogi yang melihat perubahan wajah Marons dari biasanya yang tenang dan hangat.


"Sekretarisnya melakukan loncat indah dengan orang yang mengikutinya ..." Danny menceritakan apa yang terjadi dengan Marons dan sekretarisnya. Danny tahu, Marons sudah malas menceritakannya, sehingga dia coba memberikan gambaran penyebab wajah Maron yang kusut masai.


"Astagfirullah... Kirim dia ke tempatku, mungkin otaknya perlu disuntik vitamin. Atau otaknya perlu dibedah dan dicangkok otak kancil..." Yogi jadi emosi mendenfar penuturan Danny. 'Pantes Marons jadi snewen, sekretarisnya koplak.' Yogi berkata dalam hati, tidak mau berucap lagi, karena akan membuat Marons makin kusut.


"Lalu ada apa dengan tanganmu itu? Kenapa jadi merah dan hampir membiru seperti itu? Apa Dewi bisa membuat warna indah seperti itu?" Tanya Marons, mengalihkan pembicaraan dari seputar hidupnya. Dia menyadari, ini hari kebahagiaan Dewi, jangan sampai rusak karena suasana hati dan wajahnya.


"Ini bukan ulah Dewi, tapi tadi ada seorang gadis tomboy cantik yang hampir mematahkan tanganku, karena keisenganku." Ucap Yogi, sambil memgangkat tangannya dan memamerkannya.


"Masih juga belum berkurang isengmu. Syukur tidak patah. Bisa-bisa kau pensiun dini karena isengmu." Ucap Danny membuat Marons tersenyum.


"Sebenarnya, aku tidak iseng. Aku heran, tapi senang melihat gadis tomboy cantik itu ada di rumah sakit. Aku secara refleks towel bahunya. Eeehh... Dia langsung mengambil tanganku dan memelintirnya." Yogi menceritakan penyebab tangannya menjadi merah, membiru.


"Oooh ... Ada Dewi yang bisa merawat tanganmu. Makanya, jangan tangan suka maju dulu, sebelum mulut menyapa." Marons tersenyum dalam hati, mengetahui siapa yang telah memelintir tangan Yogi.


"Ucapanmu sama saja dengannya." Yogi mengingat apa yang dikatakan Kaliana, saat mengetahui dia yang mentowel bahunya. Dewi jadi tertawa, mengingat kejadian tersebut di lobby rumah sakit dan melihat Yogi pura-pura kesal kepada Marons.

__ADS_1


...~***~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2