Cewek Berandal SMA 2

Cewek Berandal SMA 2
CBS2_105


__ADS_3

Pesanan mereka berdua jadi dan pelayan mengantarnya menuju meja mereka, pelayan itu meletakkan makanan di atas meja mereka dengan hati hati, “Selamat menikmati” Ucap pelayan ramah


“Makasih“ Ucap Agnes. Pelayan itu pergi dari meja mereka berdua menuju meja lain untuk melayani pengunjung lainnya. Mereka berdua melihat dua mangkuk makanan yang mereka pesan di atas meja hadapan mereka


“Masih sama kayak dulu, mie ayam. Nggak ada yang berubah” Ucap Vani dengan ekspresi datar


“ahahaa... Cuma namanya doang yang ganti” Ucap Agnes sambil tertawa


“Its okay.. Selamat makan” Ucap Vani kalem. Mereka berdua menyantap Chicken Noodle dan meminum es teh sampai habis. Setelah selesai, Agnes pergi membayar di kasir dan kembali ke meja. Ia mengajak Vani pulang ke rumah, “Yok pulang” Ajak Agnes. Vani berdiri dari duduknya dan mereka berdua berjalan keluar dari restoran itu. Mereka masuk ke dalam mobil dan Vani melajukan mobilnya kembali ke rumah


Sesampainya di rumah, Vani memasukkan mobilnya ke dalam garasi. mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah Vani. Di depan pintu, Vani membuka pintu rumahnya


“cklekk” pintu terbuka. Ia merasa sedikit terkejut melihat Kaituo yang berdiri persis di belakang pintu yang ia buka. Mereka berdua sempat bertatapan mata, namun Vani segera mengalihkan pandangannya dan langsung melangkah pergi melewati Kaituo menuju kamarnya di lantai dua. Kaituo merasakan perubahan sikap yang terjadi pada Vani, ia merasa penasaran akan penyebabnya


“Apa yang ganggu pikiranmu?” Tanya Kaituo tanpa menoleh ke arah Vani. Saat mendengarnya, Vani sempat menghentikan langkahnya menaiki anak tangga. Namun ia tidak memberikan respon dan melanjutkan jalannya menuju kamar. Agnes yang melihat situasi itu, berniat meringankan keadaan, “kaituo!!” Sapa Agnes yang masih berada di depan pintu. Kaituo menoleh ke arah Vani, namun Vani sudah hilang dari pandangannya. Ia kembali menoleh ke arah Agnes


“Kenapa dia? Apa dia dapat masalah?” Tanya kaituo penasaran


“ahahahaha.. bukan gitu. dia makan kebanyakan tadi, mungkin dia lelah dan.. ngantuk” jelas Agnes sambil tertawa kecil. Kaituo menatap Agnes dengan muka serius, “Bilang yang jujur, aku nggak suka orang bohong” ucap Kaituo serius


(“Ya kali aku bilang kalau Vani suka sama Kaituo, nggak mungkin kan aku yang bilang. Mending nunggu Vani yang bilang sendiri”) batin Agnes, “Aku nggak nyembunyiin apapun. ah.. udah lah, ku juga capek. Aku susul Vani” Ucap Agnes. Ia berjalan melewati Kaituo dan mempercepat langkahnya menyusul Vani yang sudah berada di kamarnya. Di depan kamar Vani, Agnes membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamar. Di sana ia melihat Vani yang sedang duduk diam melamun di pinggiran kasur. Agnes menghampirinya dan duduk di sampingnya, “Woy! Jan ngelamun. kesambet ntar!” Ucap Agnes. Vani menyadarinya dan menoleh ke arah Agnes


“Malam ini kamu tidur di kamar lain ya.. aku pen sendiri” Ucap Vani


“What? Tujuanku nginep disini buat nemenin kamu. tapi kamu suruh aku tidur di kamar lain?” Tanya Agnes kaget


“hm... iya, maaf” jawab Vani singkat


“daijoubu desu ka?” tanya Agnes


[“kamu baik baik saja?”]

__ADS_1


“daijoubu.. hontou dayo” Jawab Vani serius


[“aku baik baik saja... beneran kok”]


“Usoo.. demo kawaii” ucap Agnes dengan senyuman


[“ boong.. tapi imut”]


“woyy... ko ga nyambung. bakayaro!!” ucap Vani


[“*g**blok!!”]


“anjirr wibu marah” ucap Agnes


“bhakss ahaha.. bapak kau wibu. s*alann.. lagi sedih kamvret, malah ngelawak” Ucap Vani dengan tawa kecil


“Emang kamu bisa sedih?” Tanya Agnes ragu


“iya dah iya” ucap Agnes


Di sisi lain, Kaituo masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Vani. Ia berniat menghampiri Vani di kamarnya untuk menanyakannya. Di depan kamar Vani, Kaituo terhenti, “Van.. aku masuk ya” Seru Kaituo. Namun tidak ada yang merespon panggilannya, (“kok sepi?? Mereka tidur?”) sambung batinnya, (“oh iya baru inget.. astagaa”) Kaituo langsung membuka pintu kamar Vani dan masuk ke dalam


“cklekkk”


ketika masuk, Agnes dan Vani menoleh ke arahnya. Melihat keberadaan Kaituo, Vani langsung mengalihkan pandangannya


“woy! Penyusup!!” Seru Agnes, “jan masuk kamar orang sembarangan woyy!!” Sambungnya


“aku udah minta izin dari depan, kalian diem aja. Nggak ada yang jawab, aku masuk” Ucap Kaituo


“apaan? Orang ga ada suara apa apa juga” Ucap Agnes

__ADS_1


“di luar juga baru turun hujan, kalian nggak denger?” Tanya Kaituo


“hujan apanya?” Ucap Agnes ragu. Ia berdiri dari duduknya dan membuka tirai jendela kamar Vani. Ia terkejut melihat hujan yang turun begitu deras, ia menutup kembali tirai itu dan menoleh ke arah Kaituo, “kok ujan si? Deres banget, tapi nggak ada suaranya” ucap Agnes bingung


“ahahahahaaa.. jelas nggak denger lah. kamar ini udah di pasang peredam suara di dindingnya” Jelas Kaituo dengan tawa Kecil


(“pantes ada yang aneh di kamarku, ternyata itu toh”) Batin Vani tersadar


“oh.. berarti itu Van! tadi kamu ngerasa kamarmu beda kan! di pasang peredam suara ternyata” Jelas Agnes bersemangat


“aku dah tau. udah ngga ada urusan kan? keluar dari kamarku” Ucap Vani tanpa menoleh


“nah loh Kaituo.. keluar kau. udah di usir juga.. hushh.. hushhh” Ucap Agnes mengusir


“kamu juga, aku mau istirahat” Sambung Vani. Agnes terkejut dan langsung menoleh ke arahnya, “haa??” Ucap Agnes bingung. Kaituo menghampiri Agnes dan menarik tangannya, “ayo keluar” Ajak Kaituo. Ia menarik paksa Agnes keluar dari kamar Vani


“brakk"


Saat mendengar suara pintu tertutup, Vani menoleh ke arahnya, “haaah....” ia menghembuskan nafas panjang


“kalau di pikir pikir, aku kek bocah. ngapain juga aku tertekan gara gara Kai? Ga guna kan?”


“AAAA!!!!” ia berteriak kencang secara tiba tiba. Ia menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya, (“s*al.. s*al.. s*al!! kenapa aku harus rasain perasaan ini?! kenapa cinta pertamaku harus bertepuk sebelah tangan? Kenapa?! dadaku sesak lagi... untung aja ruangan ini dilapisi peredam suara. aku bisa menangis sepuasnya”) Dadanya mulai terasa sesak, air matanya yang sudah tidak bisa terbendung mulai mengalir keluar membasahi wajah dan tangannya. Padahal kedua tangannya sudah mencoba menahan air matanya, namun air matanya sulit untuk dikendalikan. Ia menangis tersedu sedu di dalam kamar yang sudah dilapisi peredam itu, (“kenapa aku begini? Kenapa aku lemah banget? Kenapa air mataku keluar sendiri? Apa aku jadi cengeng?”) Banyak pertanyaan melintas di pikirannya yang tidak bisa ia jawab dengan kepintarannya. Di kamarnya yang sunyi dan lampu yang di biarkan redup, ia hanya bisa mendengar isakan tangisannya sendiri. Untuk pertama kalinya ia melepaskan semua kesedihan dengan tangisan tanpa seseorang yang menemaninya


Sejenak ia merasa bayangan Ray berada disisinya, memeluknya dengan erat dan berkata,' Gapapa, ada aku di sini' ia mengingat bahwa di setiap kesedihan dalam hidupnya, ada orang yang selalu berada disisinya dan mencoba menenangkannya. Ia menyesal telah merasa jatuh cinta, jatuh cinta hanya akan membuatnya merasa sakit dan kecewa. Ia terlalu larut dalam kesedihannya, kedua tangannya terlepas dari wajahnya dan tergeletak lemas di atas kasur


Tangisannya terhenti dan air matanya mulai mengering, mata dan pikirannya yang kosong membuat lamunannya mulai bangkit


“brakkk!!!”


Pintu kamarnya terdobrak dari luar dan terbuka dengan lebar. Hal itu membuatnya tersadar dan merasa terkejut. Dengan cepat ia menoleh ke arah pintu kamarnya. Di depan pintu, ia melihat Agnes berdiri seorang diri dengan memasang senyuman lebar di wajahnya. Saat Agnes menatap balik dirinya, ia langsung mengalihkan pandangannya untuk menghindari kontak mata

__ADS_1


Agnes berjalan menghampiri Vani yang sedang duduk diam di pinggiran kasur dan mengambil sesuatu di atas kasur tempatnya duduk sebelumnya. Ia menunjukan apa yang baru saja ia ambil pada Vani, “handphoneku ketinggalan.. hehe” Ucap Agnes cengengesan


__ADS_2