Cewek Berandal SMA 2

Cewek Berandal SMA 2
CBS2_077


__ADS_3

Sfx:"duarrrrr"


"Zrrrrrrsssshhhhhhh....." Hujan deras tiba tiba turun


("Serasa nggak diberkahi makan berdua sama Ray. Turun ujan deres banget, perasaan udah musim panas deh. Apa ini karma gara gara aku ambil mobil tanpa bilang bilang ya") batin Vani


Ray kembali setelah sebelumnya membayar dari kasir, "Nih.. Maaf, aku lupa pesan minuman" Ucap Ray sambil memberikan segelas minuman


"Hehe.. Tau aja aku butuh minuman wkwk" Ucap Vani sambil tertawa kecil. ia menerima minuman itu dan meneguknya, "em.. Di luar hujan, mau pulang sekarang?" Tanyanya


"Sudah jam enam. Kalau kamu mau kita bisa jalan lewat emperan toko sampai rumahku. Tapi harus muter lumayan jauh" Ucap Ray


"Hm... Gimana kalau terobos aja? Udah lama aku nggak hujan hujanan" Ucap Vani sambil tersenyum


"Pemikiran b*doh.. Kalau sakit gimana?" Ucap Ray


"Kalian berdua mau pulang?" Tanya seseorang dari belakang Ray. Mereka berdua menoleh ke arah orang itu


"Iya.. Kita lagi susun strategi buat pulang" Jawab Vani


"Ahahhaa... Susun strategi. Di luar hujan lebat banget loh, anginnya juga kenceng. Tunggu reda aja" Ucap Rinny


"Tapi.. Udah jam enam, kasihan juga Vani pulangnya" Ucap Ray


"Oh iya.. Ray kan belum bisa nyetir, hehe. Jadi nggak bisa anterin" Ucap Rinny


"Awas aja kalau aku bisa nyetir, jangan harap numpang di kendaraanku" Ucap Ray


"Ahahaha.. Iya deh iya. Oh... Tunggu sebentar" Ucap Rinny teringat. ia kembali ke belakang dan mengambil sesuatu. Setelah itu ia kembali membawa sesuatu, "Jeng jengg.. Kalian beruntung, di kedai ini ada payung. Nih.. Pakai aja" Ucapnya sambil memberikan payung ke Vani


"Beneran nih? Pakai aja?" Tanya Vani


"Iya.. Toh pelayan disini pulangnya nunggu hujannya reda" Ucap Rinny


"Ini.. Payung satu satunya di kedai ini?" Tanya Vani


"Iya.. Payung lainnya udah rusak dan cacat" Jawab Rinny


"Kalau begini.. Jadi nggak enak terimanya. Gimana kalau payung ini aku tukar" Ucap Vani


"Nggak perlu.. Pakai aja" Ucap Rinny


"Eh.. Ray, jam berapa kedai mie ini tutup?" Tanya Vani


"Sekitar.. Jam delapan malam" Jawab Ray


Vani menghubungi seseorang


"Tutt"

__ADS_1


'Hallo Little Van? Ada yang bisa saya bantu?' Tanya Zuan dari telepon


"Kak Zuan, tolong kirimkan payung untuk kedai mie di deket kompleks rumah Ray. Kedai ini udah banyak bantu aku, jadi tolong ya kak" Ucap Vani


'Baiklah Little Van, berapa payung yang dibutuhkan?' Tanya Zuan dari telepon


"Hmm.. Kira kira cukup untuk pelayan kedai" Jawab Vani


'Seribu payung, bagaimana?' Tanya Zuan dari telepon


"Tunggu bentar, aku tanyain" Ucap Vani. ia menjauhkan handphonenya, "Seribu payung, cukup?" Tanya Vani. Saat mendengarnya Ray dan Rinny terkejut


"Apa ? Seribu? Kamu kira ini lapak payung apa" Ucap Ray terkejut


"Terlalu banyak untuk kedai kecil seperti ini, Untuk apa?" Sambung Rinny terkejut


"Kak Zuan, kakak kira mau jualan payung apa? Ini restoran kecil kak" Ucap Vani


'Ahahaha.. Maaf Little Van. Saya kira anda sedang berada di restoran mewah. Jadi.. Untuk restoran kecil, seratus buah payung bagaimana?' Tanya Zuan dari telepon


"Aku tanyain lagi" Ucap Vani. ia kembali menjauhkan handphonenya, "Seratus? Gimana?" Tanyanya


"Masih terlalu banyak, di kedai mie ini hanya ada sepuluh pelayan" Jawab Rinny


"Sepuluh doang??" Tanya Vani terkejut


"Kamu.. Dari tadi nggak lihat? Ini di kedai, bukan restoran mewah" Ucap Ray


'Hanya sepuluh pelayan?? Little Van ada dimana sebenarnya?' Tanya Zuan terkejut


"Udah kubilang kan, ini di kedai mie sekitar kompleks rumahnya Ray" Jawab Vani


'Baiklah Little Van, pesanan anda akan sampai dalam tiga puluh menit' Ucap Zuan dari telepon


"Oke Kak.. Kalau gitu, bye bye" Ucap Vani


"Tutt.. Tutt.. Tutt" panggilan berakhir


"Udah... Nanti ada orangku yang kesini" Ucap Vani


"Jadi merepotkan" Ucap Rinny


"Nggak masalah kak, makasih udah nyediain mie yang enak" Ucap Vani


"Ahahaha.. Bisa saja" Ucap Rinny dengan senyum kecil


"Kalau gitu, kita pamit dulu kak. Kuy Ray.." Ucap Vani


"Duluan kak" Ucap Ray. Vani dan Ray berjalan keluar dari kedai itu

__ADS_1


"Zrrrrrssshhhh......."


"Kamu nggak dingin?" Tanya Ray


"Kamu nggak lihat? Aku pake jaket tebel gini" Jawab Vani dengan eskpresi datar. ia membuka payungnya


"Berikan, aku yang bawa" Ucap Ray


"Nggak perlu, aku aja" Ucap Vani


Di tengah hujan yang turun sangat lebat, mereka berdua berjalan pulang menuju rumah Ray. Di tengah perjalanan, Vani melihat lengan kiri Ray yang tidak terkena payung dan kehujanan, "Ray.. Mepet lagi, lengan bajumu basah tuh" Ucap Vani


"Oh.. Iya, aku nggak sadar" Ucap Ray. ia sedikit mendekat pada Vani


"Nggak sadar katamu? Bhaks.. Aahhahaaa, lengan basah kuyup gitu kamu nggak sadar?" Ucap Vani sambil tertawa keras


"Aku terlalu sibuk pikirin hal lain sampai lupa hal begini" Ucap Ray


Setelah obrolan itu, mereka berdua hanya diam dan terus melanjutkan perjalanan. Di tengah suara air hujan yang sangat keras, perasaan Ray terasa menggebu gebu. Walaupun saat itu turun hujan yang deras dan dingin, Ray tidak merasa kedinginan sedikit pun karena adanya kehadiran Vani. Detak jantung Ray berdetak lebih cepat dari biasanya dan wajahnya kini mulai memerah tersipu


"Deg.. Deg.. Deg.."


("Akh.. S*al, perasaanku benar benar menjadi. Aku pengen gandeng dan peluk Vani") batin Ray yang mencoba menahan perasaannya


"Eh? Ray, kenapa?" Tanya Vani


"Nggak ada, aku cuma ngerasa panas" Jawab Ray sembari memalingkan pandangannya


"Rasa macam apa itu. Hujan dingin gini, kamu kepanasan? Dasar aneh" Ucap Vani sambil tertawa kecil


'Van..' Panggil Ray lirih


"Kenapa?" Tanya Vani


"Aku boleh gandeng tanganmu?" Tanya Ray


"Gandeng? oke" Ucap Vani setuju, ("Ada apa si, gaje banget deh. Cuma gandengan kenapa minta izin") batin Vani penasaran


Ray menggandeng tangan Vani dengan erat dan hangat


Vani merasa sedikit kaget karena merasakan kehangatan tangan Ray, badannya mulai merasa panas dan gelisah. detak jantungnya ikut serta berdetak dengan cepat


"Deg.. Deg.. Deg.."


("Perasaan apa ini, kenapa tubuhku seketika jadi panas? Apa Ray yang salurin panas tubuhnya? Detak jantungku kenapa jadi kenceng, gimana kalau Ray sampe denger") batinnya gelisah. Ia menoleh ke arah Ray, Saat Ray menatap balik. Vani langsung memalingkan pandangannya. Seketika Wajahnya memerah karena malu


"Van? Kamu kenapa?" Tanya Ray


"Ah.. Nggak ada, ayo jalan lagi" Jawab Vani sambil memalingkan wajahnya

__ADS_1


Saat itu, Angin yang sangat kencang berhembus mengenai mereka. Payung yang di bawa Vani tertiup angin dan lepas dari genggamannya. Payung itu rusak dan terbawa angin cukup jauh


"Swoosshhhhh......"


__ADS_2