
Vani berjalan menelusuri jalanan yang sepi seorang diri, ia berjalan dengan tatapan yang kosong tanpa arah dan tujuan. Ia terlihat sangat murung dan tanpa ada semangat yang terlihat sedikit pun. Rasa sakit seperti tertusuk duri dan sesak di hatinya membuatnya merasa sangat tertekan
("Kenapa dadaku sesak gini.. Dari tadi kayak ketusuk duri kecil kecil. Salan.. Pen nangis rasanya") batinnya sedih. Ia menghentikan langkahnya di sebuah trotoar dekat jalanan yang sepi. Kakinya merasa lelah setelah berjalan cukup jauh, ia langsung duduk meringkuk di trotoar tanpa memedulikan apa pun, ("Kenapa rasanya sakit banget. Apa begini rasanya sakit hati? Kalau aku tau bakal sesakit ini, harusnya aku pilih nggak jatuh cinta. Kenapa dia perhatian ke aku, padahal dia punya pacar. Apa cuma aku yang berlebihan nanggapinnya. Ah... Aku beneran pen nangis") batinnya sedih*
"Vani?" Panggil seseorang mengejutkannya. Ia langsung menaikkan kepalanya dan menoleh ke arah orang itu, "Jack?" Ucapnya terkejut. Ia langsung bangkit dari duduknya dan berdiri
"Ngapain disini? Ngemis? Di usir dari rumah, jadi gelandangan?" Tanya Jack
"Ahahahaa... lucu" Tawa kecil Vani, "Ku bunuh kau!" Sambungnya dengan ekspresi datar
"Sadis. Matamu merah gitu? nangis kah?" Tanya Jack penasaran
"Ya kali seorang Vani nangis, nggak bakal kali" Jawab Vani
"Trus?" Tanya Jack
"Ngantuk berat aku. Makanya tadi aku duduk, untung kamu dateng. Kalau nggak, ketiduran beneran aku" Jawab Vani
"Hum.. nggak keliatan gitu, siapa yang ganggu kamu?" Tanya Jack
"Nggak ada lah, siapa sih yang berani ganggu aku" Ucap Vani sambil tersenyum
"Nggak percaya, wajahmu aja memar memar gitu" Ucap Jack serius, "Hm... Kamu duduk di kursi itu, tungguin aku, jangan pergi!" Sambungnya. Ia langsung berlari menuju warung makan yang tidak jauh dari tempat Vani berdiri dan masuk ke dalam sana. Sementara itu, Vani menuruti apa yang Jack bilang. Ia pergi menghampiri sebuah kursi panjang dan duduk di sana. Di dalam warung makan, Jack menghampiri Ray yang sedang memakan makanannya, ia duduk di sampingnya. Ray yang menyadari kehadiran Jack, menoleh ke arahnya
"Dari mana kau?" Tanya Ray
"Buang sampah di luar" Jawab Jack
__ADS_1
"Owh.. Abis ni mampir ke toko buku dulu sebelum ke kampus" Ucap Ray sambil melanjutkan makanannya
"Kayaknya nggak bisa" Ucap Jack
"Kenapa?" Tanya Ray penasaran
"Di depan ada Vani" Ucap Jack. Ray merasa terkejut setelah mendengarnya. Ia menatap Jack dengan tajam, "Dia di depan?" Tanya Ray serius
"Iya.. Kayaknya dia lagi sedih, kena masalah mungkin. Matanya merah, keliatannya dia abis berantem, samperin gih" Ucap Jack. Saat itu, Ray langsung meneguk minumannya dengan cepat dan langsung berlari keluar dari warung makan itu
"Kau yang bayar makanannya!" Ucap Ray sambil berlari
"Haaa??" Ucap Jack syok
Di depan warung makan, Ray menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Vani. Saat melihat Vani, ia langsung berlari menghampirinya, "Kamu kenapa?" Tanya Ray. Vani yang sedang menunduk murung langsung menoleh ke asal suara
"Ray? Jack mana?" Tanya Vani
"Aku? Kenapa??" Tanya balik Vani. Ray duduk di samping Vani, "Kamu nggak bisa sembunyiin kesedihan dariku" Ucap Ray
"Tau dari mana aku lagi sedih? aku aja ngga tau" Ucap Vani
"Jack juga ngerasa gitu" Ucap Ray sambil menoleh ke arah Vani
"Jack yaa.. kalian peka banget" Ucap Vani sambil tersenyum kecil
"Kamu beneran kena masalah?" Tanya Ray serius
__ADS_1
"Kamu mau tau?" Tanya Vani
"Ceritain aja, aku bantu kalau bisa" Jawab Ray
"Ini bukan masalah yang bisa di selesaiin dengan bantuan orang lain. kamu juga bakal sedih kalau denger" Jelas Vani
"Aku siap dengerin" Ucap Ray serius
"Oke.. Kalau itu keputusanmu. Kamu tau Ray, selama ini aku suka seseorang. Dan orang itu, bukan kamu" Jelas Vani
"Degg"
"Kamu baru aja menolakku?" Tanya Ray murung. Vani kembali menoleh ke arah Ray, "Liat kan? Sekarang kamu sedih, padahal ku belum cerita masalahku" Sambungnya sambil tersenyum kecil
"Lanjut aja ceritamu" Ucap Ray
"Beneran? Dadamu nggak sakit? Kamu nggak pengen nangis?" Tanya Vani
"Aaaaaa... Huuuuuu.." Ray menarik nafasnya dan mengeluarkannya kembali, "Gapapa, aku nggak akan nangis didepanmu" Jawab Ray sambil menatap tajam Vani
'Kuat juga kamu' Ucap Vani lirih, "Aku akan lanjutkan ceritaku. akhir akhir ini aku sadar kalau aku suka sama Kai. Dia selalu ada di sampingku, pas aku sakit dia yang rawat aku, dia selalu perhatian ke aku dan dia bilang dia suka aku juga haha. Trus tadi pagi di halaman sekolah, dia nyapa aku bawa cewek disampingnya, dia dengan bangga kenalin cewek itu ke aku. Dia bilang kalau cewek itu pacarnya pake ekspresi bahagia banget di depan mataku. Kamu tau rasanya.. ak.. aku.." Jelas Vani dengan terbata bata. Ia tidak sanggup melanjutkan ceritanya, ia terdiam membisu dan mencoba untuk tidak menangis
"Udah, aku paham" Ucap Ray
'Ray maaf' Jawab Vani lirih
"Gapapa kalau kamu mau nangis, ga perlu ditahan" Ucap Ray. Saat itu Vani hanya terdiam dan menatap ke arah Ray dengan matanya yang berkaca kaca, 'Ray.. aku boleh pinjam punggungmu?' Tanya Vani lirih. Saat itu, Ray langsung membalikkan badannya dan Vani menyandarkan kepalanya di punggung Ray. Tanpa suara sedikit pun, ia menutup kedua matanya dan air mata kesedihannya mulai mengalir dengan sendirinya membasahi pipinya
__ADS_1
Beberapa saat kemudian,
"Heh? nangis?" Tanya seseorang. Saat mendengarnya, Vani tersadar dan membuka kedua matanya. Dengan cepat ia mengangkat kepalanya dari punggung Ray dan langsung mengusap air matanya. Ray menoleh ke asal suara