Cewek Berandal SMA 2

Cewek Berandal SMA 2
CBS2_050


__ADS_3

Seketika pikiran Kim mendadak kosong. ia hanya terdiam menatap dua peti di hadapannya. Nenek Kim datang menghampirinya, "Hiks.... Nak Kim" Ucap Nenek Kim sambil memeluk Kim. Kim menoleh perlahan ke arah Neneknya, "Nenek.. Apa maksudnya inii" Ucap Kim dengan mata berkaca-kaca


"Hiks.. Jangan menangis di hadapan mereka nak.. mereka akan sedih" Ucap nenek kim sedih


"Ma.. ma.. Pa..pa" panggil Kim lirih. air matanya mulai mengalir dengan sendirinya


"Ayo pergi, biarkan mereka beristirahat dengan tenang" Ucap Nenek Kim sambil menarik Kim perlahan pergi dari ruangan itu. Nenek Kim membawanya duduk berkumpul di sofa dengan Kakeknya


"Mereka sudah ditakdirkan meninggal, jangan menangis" Ucap Kakek Kim. Kim hanya terdiam berjalan pergi menuju taman belakang rumah kakeknya. ia duduk di sebuah kursi taman seorang diri, ("Kenapa jadi seperti ini") batin Kim. ia menghapus air matanya dengan tangannya, ia menarik nafas panjang dan menatap ke arah langit 'Mama.. Papa.. Selamat tinggal. Terima kasih untuk semuanya' Ucap Kim lirih dengan senyum di wajahnya


Ia mengambil handphone di sakunya dan menelpon seseorang, 'Hallo Presdir Kim, Saya turut berduka dengan kepergian orang tua presdir' Ucap bawahan Kim dari telepon


"kapan orang tuaku ditemukan?" Tanya Kim


'Mayat pertama yang di temukan saat presdir melakukan pencarian kemarin adalah orang tua presdir, tadi malam setelah di lakukan otopsi, di temukan penyebab kematian orang tua presdir dikarenakan tenggelam' Jelas bawahan Kim dari telepon


("Harusnya aku langsung mengeceknya kemarin") batin Kim, "Tapi mereka berdua bisa berenang, kenapa tenggelam" Ucap Kim


'Menurut penyelidikan. Kemungkinan besar saat mereka terjun dari pesawat, jarak mereka terlalu dekat sehingga saat membuka parasut, parasut mereka bertabrakan dan terbelit. Mereka jatuh keperairan dan tertimpa parasut' Jelas bawahan Kim


"Baiklah, cukup" Ucap Kim. ia langsung memutus telponnya, ("Aku bdoh. Kenapa aku biarkan mereka pulang dengan pesawat umum") batin Kim, "Hiks.. Maafkan Kim mama papa*.. Gimana bisa Kim nggak menangis di situasi seperti ini" Ucapnya sedih sembari meneteskan air mata


Di lain tempat. Kaituo telah sampai di negara B, ia turun dari pesawatnya dan keluar dari bandara, "Tuan Kaituo, mobil sudah di siapkan. kemana tuan ingin pergi?" Ucap Hide


"Hide, kau tinggal lah di sini. Aku pergi sendiri" Ucap Kaituo


"Bagaimana bisa? Tuan Kaituo belum pernah kesini sebelumnya" Ucap Hide


"Kau anggap aku b*doh?" Ucap Kaituo


"Baiklah jika anda yakin, maka saya akan mencoba untuk percaya" Ucap Hide

__ADS_1


"Terimakasih Hide" Ucap Kaituo. ia masuk ke dalam mobil dan melajukannya pergi dari bandara. Di dalam mobil ia menghubungi Kim dengan handphonenya


"Tutt..." "Kim" Ucap Kaituo


'Ada apa Kai?' Tanya Kim dengan nada sedih dari telepon


("Dari nada bicaranya sepertinya dia udah tahu") batin Kaituo, "Suaramu kenapa. Kau nangis ya? dasar cengeng"


'Terserah katamu' Ucap Kim dari telepon


"Kepergian mereka bukan akhir dari segalanya, kau tau kan?"


'Aku lagi nggak mau diceramahi'


"Di mana alamat rumah Vani?" Tanya Kaituo


'Vani di rumah sakit keluarga Osamu di jalan xxxx' Ucap Kim dari telepon


"Baiklah aku segera kesana" Ucap Kaituo, "Kim, kau harus mengikhlaskan kepergian mereka. Jangan cengeng lagi atau aku akan bawa Vani kesana sekarang juga buat pergokin tangisanmu"


"Aku tau, serahkan padaku. Sekarang aku sedang menyetir mobil, sampai jumpa" Ucap Kaituo. Kim memutuskan teleponnya dengan Kaituo. Kaituo melajukan mobil ke arah rumah sakit keluarga Osamu


Sementara itu, perasaan Vani menjadi lega setelah sebelumnya mendapat kabar baik dari Kim. ia merasa bosan karena terus berada di dalam ruangan. ia mencoba melakukan sesuatu, "Huft.. Syukurlah mereka selamat" Ucap Vani senang sembari bangkit dari hospital bed dan mengintip ke pintu ruangan, ("kenapa mereka berdua ngga pergi pergi") batinnya kesal. ia membuka lebar pintu itu dengan tangan kirinya


"Ceklek" Seketika, kedua perawat yang berjaga di depan pintu kaget dan langsung menoleh ke arah Vani


"Bhaks.. Ahahahahaaa, kenapa kalian kaget begitu" Ucap Vani sambil tertawa keras


"Ternyata Nona Vani, bagaimana keadaan anda?" Tanya salah satu perawat


"Seperti yang kalian lihat, aku udah baikan" Ucap Vani sambil tersenyum lebar

__ADS_1


"Apa ada yang dibutuhkan?" Tanya perawat


"Hum.. nggak ada, aku mau pulang, kasih jalan" Ucap Vani. Saat ia hendak berjalan melalui dua perawat itu, perawat itu menghadang Vani dengan tangannya, "Awas woy tangannya!" Ucap Vani


"Maaf, Nona Vani. Kami di perintahkan untuk menjaga ruangan ini dan tidak membiarkan nona Vani pergi meninggalkan ruangan ini" Jelas perawat


"Ini kan rumah sakit Khakim, kenapa kalian ngelarang ngelarang. punya hak apa kalian?" Tanya Vani ngegas


"Maaf nona Vani. Tapi ini perintah langsung dari Presdir Kim, melewati Seketaris Zuan dan di sampaikan oleh Dokter Doni" Ucap perawat


("Dokter Doni? Kayak pernah denger namanya") batin Vani , "Hum.. Jadi, yang suruh kalian jaga di sini bukan Khakim langsung kan?" Tanya Vani


"Benar" Ucap Perawat


"Tapi ini berdasarkan perintah dari Presdir Kim" Sambung perawat lain


"Oke oke.. Kalau gitu, aku mau keluar ganti perban diruangan dokter Doni" Ucap Vani


"Tidak bisa nona Vani" Ucap perawat


"Tapi ini udah waktunya ganti. Kalau infeksi gimana coba, kalian mau tanggung jawab?" Ucap Vani yang mulai kesal


"Kalau begitu nona Vani kembali saja ke dalam, saya akan segera menghubungi suster untuk datang dan mengganti perban" Ucap Perawat


'Yah.. T*i' Ucap Vani lirih


"Ada apa Nona Vani, saya tidak mendengarnya" Ucap Perawat


"Dasar!! T*i Anj*nkk!!" "Brakk" Teriak Vani ngegas sambil membanting pintu


"Nona Vani mulutnya sangat sopan dan ramah yaa" Ucap perawat

__ADS_1


"Kamu benar, aku jug..." Ucap perawat terhenti, " Cklek" Vani kembali membuka pintu, "Woy.. Jangan gibahin orang sakit!" Ucapnya, "Brak" ia kembali menutup pintu ruangan itu


"Maaf Nona Vani" Ucap kedua perawat


__ADS_2