
Pukul 15.00,
"Huuh.. sepertinya cukup untuk hari ini" Ucap Kaituo sembari mengambil minuman dingin dari cooler box
"Tapi masih seri" Ucap Citra
"Nggak masalah, kita bisa tanding di lain waktu. tangkap!" Ucap Kaituo sembari melemparkan sebotol minuman pada Citra. Citra menangkap botol itu dengan kedua tangannya, "Makasih"
"Panggil yang lainnya. Abis ini kita buat BBQ an di sini" Ucap Kaituo
"Pesta BBQ? Asikk" Ucap Citra bersemangat
"Kamu bisa ambil bahan di kulkas dapur Villa?"
"Bisa.. Aku akan ambil"
"Aku bantu" Ucap Jorhan. Citra menoleh ke arahnya dan mengangguk. Mereka berdua pergi ke villa untuk mengambil bahan makanan
"Aku ambil alatnya" Ucap Kaituo
"Biar saya saja tuan Kaituo" Ucap Zuo
"Nggak perlu, biar aku aja" Kaituo berjalan menuju Villa. Di depan Villa, ia terhenti, ("Kalau nggak salah, tempat simpan alat masak di dapur ujung. potong jalan lewat kolam aja deh") sambung batinnya. Ia berjalan menuju kolam berenang
"Sayang!!" Panggil seseorang. Kaituo menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara. Ia melihat Nova berlari menghampirinya. Di saat yang bersamaan, Vani juga mendengar suara itu. Ia berenang perlahan ke tepi kolam dan mengintip mereka
"Kenapa kamu disini?" Tanya Kaituo
"Menunduklah, aku mau bilang sesuatu" Ucap Nova bersemangat. Kaituo menundukkan badannya agar Nova bisa mencapai telinganya, "Cupp" Nova mencium bibir Kaituo. Kaituo sedikit terkejut dengan apa yang Nova lakukan padanya
"Sayang.. Kamu udah berani yaa" Goda Kaituo
"Itu hadiah buatmu, permainan volimu tadi bagus banget"
"Dasar.. Kamu" Kaituo mencubit pelan pipi Nova
"Hehee"
"Kamu mandi ganti baju gih. Habis ini kita pesta BBQ"
"Iya sayang, tunggu yaa. Bye bye" Ucap Nova. Ia masuk ke dalam villa dan berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Kaituo melanjutkan perjalanannya untuk mengambil alat pemanggang
("Dia datang!") Batin Vani. Melihat kedatangan Kaituo, ia segera menenggelamkan badannya ke dalam air. Beberapa menit menahan nafas di dalam air, ia naik ke permukaan, 'Hahh.. Rekor baru.. Tujuh menit, Nice' Gumamnya. Ia keluar dari kolam berenang dan tanpa mengeringkan badannya ia berlari masuk villa hingga sampai di kamarnya. Di dalam Kamar, ia membersihkan diri
Di sisi lain, Agnes tersadar dari tidurnya. Ia terlalu santai hingga tertidur di atas ban renang panjang. Ia membuka kacamata yang ia kenakan, "Anjay.. Ketiduran" Ia berpegangan pada ban renang itu dan turun dari sana. Saat badannya masuk ke dalam air, kakinya tidak menyentuh dasar. Ia langsung mempererat pegangannya dan menoleh ke belakangnya. Melihat pesisir pantai yang cukup jauh dari posisinya, ia terkejut hebat, "Bngsad!! Nggak nyampe dasar!" Dengan cepat Ia segera naik ke atas ban renang itu. Ia mulai cemas dengan keadaannya sendiri, "Gimana kalau ada hiu? Gimana kalau aku nggak bisa pulang?! Gimana kalau ini hari terakhirku hidup?! Oh no!! Dosaku masih banyak!" Ucap Agnes cemas. Ia kembali menoleh ke arah pesisir pantai. Dari jarak yang cukup jauh, ia merasa melihat kedua temannya berdiri di sana. Ia mencoba memberikan sinyal dengan melambai lambaikan kedua tangannya, "Woy! Tolong!!! Woy!!" Teriaknya panik
Di pesisir pantai, Awani dan Putri sedang mengabadikan momen ketika mereka mengenakan bikini dengan kamera. Awani tidak sengaja melihat sinyal dari Agnes, ia menghentikan aktivitasnya saat itu, "Eh.. Itu Agnes tadi kan?" Ucap Awani sambil menunjuk Agnes di kejauhan. Putri melihat ke arah yang ditunjuk, "Oh iya.. Agnes. Ngapain dia sampai sana. Lihat, Dia seneng banget kayaknya, sampai ngelambai segitunya"
"Bales yuk" Ucap Awani
"Oiii.. Agnes! Yahuuu..!!" Mereka berdua membalas lambaian tangan Agnes dengan bersemangat
"Eh.. Tunggu.." Ucap Awani terhenti, ia menurunkan tangannya, "Woy!! Agnes nggak bisa berenang!!" Teriaknya tersadar
"Agnes?" Mendengar teriakan Awani, Jack berlari menghampirinya, "Agnes kenapa?"
"Lihat.. Agnes ga ada otak! Dia nggak bisa berenang, tapi kenapa bisa sampai sana!" Jelas Awani sedikit khawatir
"Dia nggak bisa berenang?!" Jack langsung berlari menuju perairan
"Tunggu!" Ucap seseorang yang menghentikan langkahnya. Jack menoleh ke arahnya, "Pake sky boat itu!"
"Makasih" Ucap Jack. Ia berlari menuju sky boat dan mengendarainya dengan cepat sampai ke tempat Agnes, "Jangan takut, raih tanganku" Dengan tangan yang gemetaran, Agnes meraih tangan Jack dan naik ke atas sky boat. Ia memeluk punggung Jack dengan erat, "Jack.. Hiks.. Huwaaa..." Agnes tidak bisa menahan rasa takutnya terhadap laut lepas, ia menangis dengan keras
"Jangan takut, aku di sampingmu"
"Makasih Jack. Hiks.. maaf aku malah nangis sekarangg.. Hikss.. "
"Dah gapapa, lain kali ku ajari berenang"
"Hiks.. Engga mau. Gimana kalau ada hiu, Hiks.. Jack bawa aku kedaratan"
"Baiklah.. Berhenti menangis dan pegangan yang erat"
"Iya" Agnes mempererat pelukannya. Jack mengendarai sky boat itu kembali ke pesisir pantai. Melihat kedatangan mereka, Awani dan Putri langsung datang menghampirinya. Agnes turun dari sky boat dengan kaki yang gemetaran
"ahahaha... Lihat kakimu" Ucap Awani yang tidak bisa menahan tawanya
"b*doh.. Kenapa kamu bisa sampai sana?" Sambung Putri
"Hiks.. Aku ketiduran.. bangun bangun di tengah laut" Jawab Agnes dengan ekspresi sedih dan seakan meminta belas kasih
"Liat.. Dia mau nangis.. Aaaaaa kasihan, sini peyuk" Ucap Putri. Mereka bertiga berpelukan bersama. Setelah perasaannya membaik, Agnes melepaskan pelukannya, "Balik ke kamar trus ganti baju kalian! Nggak malu apa pakai daleman di luar gini" Ucap Agnes sembari berjalan meninggalkan mereka berdua
"Woy! Bikini bukan daleman!" Ucap Putri. Agnes menoleh kearahnya
"Sama aja!"
__ADS_1
"Beda!"
"Kata Vani sama titik! Aku nggak mau pelukan sama kalian kalau kalian pakai itu lagi!" Teriak Agnes sambil berjalan. Ia kembali ke kamar di villa untuk membersihkan diri
"Hmm.. ya udah ganti aja deh, hampir sore juga" Ucap Awani. Ia dan Putri menyusul Agnes kembali ke Villa
Kaituo kembali melewati kolam sembari membawa alat pemanggang, ia melihat lantai pinggiran kolam berenang yang basah di suatu titik, "Kok basah? Tadi ada yang berenang disini?" Tanyanya bingung, "Hmm.. aneh banget"
Pukul 16.00,
Mereka semua berkumpul di pantai dan membuat pesta BBQ, Zuo dan Ray berdampingan bertugas memanggang, "Kamu Zuo kan?" Tanya Ray
"iya"
"Wajahmu nggak asing, kita pernah ketemu sebelum liburan ini?" Tanya Ray. Citra dan Jorhan menghampiri mereka berdua karena merasa penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan
"Iya juga.. wajahmu nggak asing" Sambung Citra. Jack datang bergabung dan mengambil daging yang sudah matang, "Dia bos anak jalanan yang kita lawan tahun lalu" Jelas Jack kalem. Mendengarnya, Citra, Ray dan Jorhan terkejut
"Heh? Seriusan?!"
"Iya benar sekali" Jawab Zuo sambil tersenyum kecil
"Nggak masalah, dari awal kesini aku udah amati dia. nggak ada yang mencurigakan" Ucap Jack
"Anda memata matai saya?" Tanya Zuo
"Buat jaga jaga"
"Jack gantikan aku" Ucap Ray
"Oke" Jawab Jack. Ray mengambil beberapa daging yang sudah matang dan membawanya pada Vani. Ia duduk di samping Vani, "Mau?" Tawar Ray. Vani menoleh ke arahnya, "Nggak.. Nggak suka daging"
"Hmm.. Oke. jagung bakar? Sosis?"
"Nggak laper"
"Kamu ada masalah?"
"Nggak ada"
"Kamu sedih?"
"Nggak juga"
"Kamu mau apa?" Tawar Ray. Mendengarnya dari Ray, terpintas suatu ide di kepala Vani, "Mau temenin aku liat sunset?" Tanya Vani berharap
"Nggak masalah, sampai di tempat itu pasti dah sunset"
"Heh? Dimana?"
"Aku pengen ke sana, di atas sana" Ucap Vani sembari menunjuk ke arah tebing tinggi yang cukup jauh dari kawasan Villa
"Tebing itu? Tinggi banget. Jangan, nggak boleh, liat dari sini aja"
"Hmm.. ya udah, aku pergi sendiri" Ucap Vani sambil berdiri dari duduknya
"Jangan!"
"Aku tetap pergi!"
"Jangan egois! bahaya!"
"Nggak masalah" Vani berjalan menuju tebing itu
"Tunggu.. aku temenin!" Ucap Ray sembari mengejar jalan Vani
"Aku tau jalan terobosan, kita lewat hutan. sisi tebing sebelah sana lebih rendah, kita naik lewat sana"
"Gimana kamu bisa tau?!"
"Tadi pagi aku sempat jelajah hutan, tapi cuma di pinggiran. kalau nyasar, ku bisa putari pantai sampai ke Villa"
"Kapan kamu keluar?"
"Pas kalian tidur"
"Dasar bandel"
"Biarin" Mereka berdua masuk ke dalam hutan agar tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka. Mereka menelusuri pinggiran hutan sampai di bawah tebing
"Kita beneran naik ke atas?" Tanya Ray
"Naik ke bawah. Kamu takut? Tenang aja, aku udah coba naik tadi pagi. Batuannya kayak tangga"
"Hmm.. Kenapa tadi pagi nggak ajak aku? Kalau kamu kenapa napa gimana?!"
"Naik aja"
__ADS_1
Vani mulai memanjat tebing yang tingginya lebih dari sepuluh meter itu, Ray juga ikut memanjat tebing itu dari sisi lain. Beberapa menit memanjat, Ray terlihat sampai lebih duluan dari pada Vani. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Vani dan menariknya ke atas tebing
"Hosh... Huffhh.. Kenapa kamu bisa sampai duluan?" Tanya Vani sembari mengatur pernafasannya
"Aku sering manjat tebing dulu, tebing begini bukan apa apa"
"Wahh.. Keren, lain kali ajak aku"
"Sekarang nggak bisa, terlalu berat" Ucap Ray murung
"Maaf" Ucap Vani tertunduk. Ray menaruh tangannya diatas kepala Vani dan mengacak acak rambutnya, "Bukan salahmu, ayo duduk disitu" Ucap Ray. Mereka berdua duduk di atas batuan tebing
"Langitnya mulai berwarna orange. Butuh waktu tiga puluh menit buat sampai kesini. Tapi.. Pemandangan yang disuguhkan nggak buat perjalanan kita sia sia" Ucap Ray
"Iya" Jawab Vani singkat. Ray menoleh ke arahnya, "Kenapa? kamu masih sedih?"
"Aku nggak sedih.. beneran"
"Ada yang ganggu pikiranmu?"
"Hmm.. sebenarnya tadi pas aku renang, aku lihat orang..." Ucap Vani terhenti. Ia teringat kejadian first kissnya dulu dengan Ray, ("Nggak mungkin aku bilang ke Ray soal kiss!") Sambung batinnya
"Orang? Apa salahnya liat orang?" Tanya Ray
"Orang itu bukan orang" Ucap Vani sembari menatap kedua mata Ray
"Maksudmu?"
"Lupakan.. Aku boong. Ray fotoin aku!" Ucap Vani sambil berdiri dari duduknya
"Oke, jangan berdiri terlalu jauh, tebing ini agak miring, banyak kerikil licin"
"Nggak papa" Vani berjalan ke pinggiran tebing itu dan melihat ke bawah, "Woaahh.. Tinggi banget. Di bawah banyak batu lancip, jatuh bahaya nih. auto jadi sate"
"Jangan minggir minggir makanya, hadap sini Van" Ucap Ray. ia mengambil beberapa foto Vani
"Lagi lagi" Ucap Vani bersemangat. Saat kaki kiri Vani mundur, ia tidak mendapat pijakan yang tepat, "Eh?" Ia terjatuh dari tebing, "Grapp" Di saat yang bersamaan Ray meraih tangan Vani dengan tangan palsu kirinya
"Srekk.." Batuan kerikil yang licin pada tebing yang lumayan miring itu membuat sepatu Ray terpeleset dan ia ikut terjatuh dari tebing. Namun tangan kanan Ray berhasil berpegangan pada sisi tebing yang cukup kuat. Vani berpegangan pada tangan kiri Ray. Mereka berdua bergelantungan di tebing yang cukup tinggi itu, "Deg.. Deg.. Degg" Perasaan takut dan cemas menghantui mereka
"Vani! Jangan banyak gerak!!"
"Ray! gimana ini!!" ("b*dohnya aku!") Batin Vani cemas
"Dasar b*doh, ku bilang jangan minggir!!"
"Ray!! Lepasin aja! tanganmu nggak kuat!"
"Nggak akan ku lepasin!! Aku akan menaikanmu!"
"Ray.. please, nggak lucu kan kita jatuh berdua. Kamu naik aja!"
"Jangan ngomong gitu! Aku nggak akan lepasin tanganmu! kalau aku harus merelakanmu, lebih baik aku ikut jatuh sama kamu!"
"Hiks.. Ray b*doh!" Perasaan takut Vani mulai membuat air matanya keluar
"Vani.. tahan.. Kita akan selamat!" ("Aku nggak bisa naikin Vani dengan tangan palsu ini, apa yang harus ku lakukan?!")
"Hiks.. Percuma Ray, nggak ada yang tau kita disini"
"Jack! Jorhan! tolong!!" Teriak Ray, "TOLONG!! KU MOHON SIAPA AJA!!"
Di bawah tebing, Jack mencari keberadaan mereka melalui sinyal dari handphone Ray, ia tidak sengaja mendengar teriakan dari Ray, "Suara itu.. Mereka di atas!" Ucap Jack. Ia segera memanjat ke atas tebing dengan cepat
"Udah, mustahil Ray. Hiks.. Maafin aku, selama ini banyak buat kamu dalam keadaan berbahaya. Aku bahkan buat kamu kehilangan masa depan. Sekarang aku buat kamu dalam bahaya lagi. Hiks.. mungkin setelah kejadian ini. hiks.. hidupmu nggak akan terganggu lagi. Lepas aja Ray yaa, ku mohon. kamu harus naik ke atas"
"*Ku mohon.. Jangan ngomong begitu! Aku nggak bisa hidup tanpamu*!" Air mata Ray mulai menetes keluar
"Jangan lebay Ray.. kamu nggak bisa hidup tanpa oksigen, bukan aku. Masih banyak orang lain yang lebih baik dariku" Ucap Vani dengan senyuman di wajahnya
"Kumohon bertahanlah.."
"*Tanganku sakit, aku ngga kuat lagi. tanganmu pasti lebih sakit. *Lepasin Ray, cengkraman tangan palsu ini terlalu kuat, tanganku sakitt"
"*Vani!! Dengarkan aku!! Kamu pasti bisa*!"
Mereka berdua kembali terdiam
"Ray.. maaf, seharusnya aku nggak ajak kamu kesini, seharusnya aku dengerin kamu buat nggak kesini"
"Patss..."
"eh?" Ucap Vani terkejut. Tangan palsu Ray tidak kuat menahan beban dan terputus dari tubuh Ray. Saat menyadarinya, dengan cepat Ray menoleh ke arah Vani. Namun ia hanya melihat wajah Vani yang tersenyum mulai menjauh darinya, "VANIII!!" Teriak Ray menggema. Saat Ray hendak melepaskan pegangannya dan menyusul Vani, Jack meraih tangannya, "RAY! JANGAN BDOH!" Teriak Jack. Ray menoleh ke arah Jack dan menatapnya dengan matanya yang berkaca kaca
"Jack lepaskan aku.. Vani.. Gimana dengan dia. Aku akan menyusulnya.. Lepasin Jack. Ku mohon.. Lepasin.. Vani.. Dia.. Dia*.." Ray merasa sangat hancur saat melihat Vani terjatuh. Ia tidak memperdulikan apapun lagi yang menimpanya. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir di pipinya
"Ray! Kuatkan dirimu! Ini bukanlah akhir! Jangan gila!" Ucap Jack. Ia menarik Ray hingga sampai di atas tebing. Ia menyeretnya ke tengah tebing
__ADS_1
..._________SEASON 2 THE END_________...