
"Beneran Ray hehe" Ucap Vani, "Ray?" Panggilnya. ia langsung datang menghampirinya dan duduk di samping Ray
Ray merasa terkejut dengan kehadiran Vani secara tiba tiba, "Vani? Kenapa kamu disini?" Tanyanya
"Aku... Kebetulan lewat sini" Jawab Vani sambil tersenyum
"Rumahmu bukan ke arah sini, kebetulan apanya?" Ucap Ray
"Hehe, aku cari kamu"
"Kamu naik sepeda itu sampai sini?"
"Hufh... Iya, kasih aku minum lah. Haus tau, tadi nggak sempat mampir ke minimarket" keluh Vani. Ray berdiri dari duduknya
"Tunggu disini" Ucap Ray. ia pergi membeli minuman di minimarket terdekat, sementara Vani tetap menunggunya di kursi taman
("Hum... perasaan tadi di markas dia dingin banget, kenapa udah balik normal?") batin Vani penasaran. ia menaikkan pandangannya dan menatap ke arah langit, ("Udah gelap aja tuh langit")
saat mengamati wilayah sekitarnya, ia tidak sengaja melihat orang yang sebelumnya ia jahili di ujung taman berjalan mendekat ke arahnya, "Anying si Bambank!" Ucapnya. ia langsung melepas jaket yang ia kenakan dan berbaring di atas kursi taman sembari menutupi wajahnya dengan jaket itu, ("moga dia buta maps")
langkah kaki Bambang terhenti ketika ia melihat sesuatu, ("Sepertinya aku tahu ini sepeda siapa") batin Bambang ketika ia melihat sepeda yang terparkir tidak jauh dari tempat Vani berada, "Owh, iya iya.. Ini sepeda anak cewek yang ngibulin aku tadi kan? Mana dia, hah!" Ucapnya sembari mengamati sekitarnya. pandangannya terhenti dan tertuju pada orang yang menurutnya terasa mencurigakan karena berbaring di atas kursi taman dengan wajah tertutup. ia langsung berjalan menghampirinya
("Anjirr, kayak ada yang lagi jalan kesini!") batin Vani
("hmm.. apa dia cewek itu? aku lupa warna bajunya, aku harus cek. Kalau salah orang, bisa minta maaf") batin Bambang. ia memberanikan diri untuk mengecek orang di balik jaket itu. ketika ia hendak menarik jaket yang menutupi orang itu, seseorang menghentikannya, "Berhenti disitu!" Teriak orang dari arah belakangnya. dengan cepatnya, Bambang menoleh ke asal suara
("Oh, itu suara Ray. Bagus Ray, usir dia") batin Vani
"Apa masalahmu?" Tanya Bambang
"Jangan ganggu dia" Ucap Ray
__ADS_1
"Siapa Kamu?! Dia tidur sembarangan di taman, aku cuma mau bangunin" Ucap Bambang
"Taman ini milik umum, terserah dia mau tidur dimana"
"Ini milik umum kan? Aku ingin duduk disini, bangunkan dia"
"Kamu bisa duduk di kursi kosong itu, pergi dari sini" Ucap Ray sembari menunjuk kursi lain di taman itu
"Tcih.. Nggak ada gunanya berdebat dengan orang sepertimu" Ucap Bambang Kesal. ia melangkah pergi dari tempat itu
("Sepertinya dia sudah pergi") batin Vani senang. Dengan cepat ia membuka jaketnya dan bangkit dari kursi, "Duag!!" kepalanya menyundul dagu Ray cukup keras, "Akh..." Teriak Ray kesakitan. ia langsung memegang dagunya dan berjalan mundur membuat jarak dengan Vani
"Ray!" Ucap Vani terkejut. ia segera menghampiri Ray, "Aduh.. Ray, maaf nggak sengaja", "Coba liat" Ucapnya sembari memegang dagu Ray untuk mengecek keadaannya
"Deg..", "Blush..." wajah Ray merona, ("Dia terlalu dekat") batin Ray, "Ah, nggak usah Van. Ini nggak sakit" Ucapnya sembari mencoba menghindari Vani, ("nggak baik buat jantungku")
"Beneran? Nggak sakit?" Tanya Vani
"ha? apa?" tanya Vani bingung
Ray memberikan sebotol air minum yang ia bawa pada Vani, "lupakan, ini minumanmu"
"Makasih Ray" Ucap Vani sambil tersenyum. ia membuka botol itu dan meminumnya, "Glek.. glek.. glekk.. "
"Ah, leganya..", "Kamu mau Ray?" tawarnya sembari mengangkat lebih tinggi botol minuman yang ia pegang
"Nggak perlu, itu bekasmu" Ucap Ray
"Hehe, becanda" Ucap Vani. Mereka berdua kembali duduk di kursi taman. Suasana taman itu terlihat cukup sepi di malam hari, sangat jarang kendaraan maupun seseorang yang melintas di sana
("Huft... Aku harus bilang sekarang") batin Vani. ia menoleh ke arah Ray dan menyatukan kedua tangannya, "Ray, aku benar benar minta maaf, pas itu aku nggak ada niatan buat acuhin kamu. Aku tahu kamu pasti kesal gara gara itu. Aku benar benar minta maaf" Ucapnya bersungguh sungguh
__ADS_1
Ray merasa terkejut dengan apa yang baru saja Vani katakan kepadanya, ia merasa sedikit lucu karena itu, "Bhaks.. Ahahahaa.. Apa yang kamu lakukan"
"minta maaf, malah diketawain" ucap Vani dengan ekspresi datar
"Aku nggak marah. Maaf udah buat kamu cemas" Ucap Ray sambil tersenyum
"Trus? Kenapa kamu jauhin aku? sama kenapa sikapmu berubah pas aku datang?" Tanya Vani
Ray merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sesuatu, "Aku cuma bingung nentuin waktu yang tepat buat kasih ini ke kamu" Ucapnya sambil menunjukan sebuah kalung pada Vani
"Kalung?" Tanya Vani
"Dua hari yang lalu kamu ulang tahun kan, Aku nggak tau barang apa yang kamu suka, jadi aku ambil kalung ini" Ucap Ray, ("aku tahu kamu suka sekali game, tapi sakuku nggak akan cukup walau cuma buat beli sebuah kaset game")
"Owh, ahahahaha. Kamu nggak perlu repot repot beliin aku beginian Ray" Ucap Vani sambil tertawa kecil
"kamu nggak suka ya" Ucap Ray murung
"Eh.. Bukan gitu, mana!" Ucap Vani sembari merebut kalung dari tangan Ray, ("Kenapa orang tuaku sama Ray kasih aku beginian sih. Mereka kan tahu, aku tipe orang yang nggak suka beginan. Harusnya mereka kasih aku game, pc baru atau apalah, yang berguna") batinnya, ("Tapi, nggak masalah. Aku bisa simpan pemberian mereka di laci")
"Mau aku pakaikan?" Tanya Ray
("Njerrr, masa pakai beginian. Mau nolak, tapi nggak bisa") batin Vani, "Oke" ucapnya, ("Malah setuju") Vani memberikan kalung itu pada Ray dan Ray memasangkannya di leher Vani
"Cantik" Ucap Ray sambil tersenyum
"Hehe, aku kan emang cantik" Ucap Vani bangga
"Kalungnya" Ucap Ray
"F*ck!" Ucap Vani lirih sembari menepis tangan Ray
__ADS_1