
'Buruan tutup pintunya' Ucap Agnes lirih. Setelah menutup pintu, mereka kembali memanjat keluar dari pagar teras
"Hahhh.. Sia sia aku manjat" Ucap Awani kecewa
"Njerr, yang bilang di ruang ke lima kan kamu kamvang!" Ucap Agnes kesal
"Yee.. Harusnya jangan percaya" Ucap Awani
"Di percayain nggak tau di percayain kau.. Sini ku gedik" Ucap Putri yang ikut kesal
"Awani sesat" Sambung Agnes
"Cukup kalian bertiga, masih ada hal yang harus kita lakukan sekarang" Ucap Ray
"Ray.. Kamu beneran yakin kalau Vani di ruangan Empat? Jangan jangan kamu asal ngomong lagi" Ucap Agnes
"Kita cek dulu, kalau benar aku yakin. Kalau salah, aku ragu" Ucap Ray
"Njerrr.. gini amat. Mending kita turuti apa kata suster. Kita balik besok lewat pintu depan yang bener" Ucap Agnes dengan ekspresi datarnya
"Ray benar, menurut perhitunganku juga kamar ke empat" Ucap Jack
"Nilai matematikamu berapa?" Tanya Putri
"Lumayan, tapi masih bisa di percaya" Ucap Jack
"Baiklah.. Kalau kalian berdua yakin, ayo coba" Ucap Agnes
Mereka berlima memanjat pagar teras ruangan ke empat. Setelah semua berada di dalam teras. Jack hendak mencoba melakukan hal sama yang ia lakukan sebelumnya, "Jepit rambut?" Ucap Jack sambil menadahkan tangan kirinya
"Put.." Ucap Agnes
"Lah, aku cuma pakai satu, yang tadi mana?" Ucap Putri
"Apa? Jack, yang tadi di mana?" Tanya Agnes
"Masih di pintu sebelah" Ucap Jack
"Yah.. Gimana sih .." Ucap Agnes kecewa
__ADS_1
"Sekarang gimana njerrr" Ucap Putri yang ikut kecewa. Awani mencoba membuka pintu ruangan itu, "Klek.." "Oh, bisa.." Ucap Awani terkejut. Semua pandangan tertuju padanya
"Canggih amat tangan kamu. Tanpa kunci bisa buka" Ucap Putri terkejut
"Aku baru aja menemukan kekuatanku, mungkin ini awal dari perjalananku sebagai pemilik kekuatan Wuahaha" Ucap Awani senang
"Kamu bisa menjadi pahlawan Aw" Sambung Putri
"Kamu benar Put. Kalian berempat jangan cemas, ada pahlawan disini. Tidak ada yang perlu di takutkan kecuali yang menakutkan Wuahaha" Ucap Awani bangga
"Stress, pintu ini emang nggak kekunci" Ucap Agnes sambil berjalan masuk ke dalam ruangan itu
"Kamu nggak percaya aku Nes?" Tanya Awani
"Kamu sesat" Jawab Agnes cuek. Mereka berempat ikut masuk ke dalam ruangan itu
Di dalam ruangan, mereka melihat Vani yang sedang berbaring dan tidak sadarkan diri di atas hospital bed. Mereka menghampirinya, "Padahal siang tadi dia masih sadar, sekarang kenapa dia jadi begini, nggak sadarkan diri" Ucap Putri
Ray menggenggam tangan Vani, "Vani.. kamu baik baik aja? Jawab aku" Ucapnya cemas
"Baik dari mananya? dia nggak sadar gitu" "Lagian, dasar aneh.. Orang nggak sadar di tanya" Ucap Agnes dengan ekspresi datar
"Momen paan?" Tanya Agnes
"Em... Entahlah, aku juga gatau hehe" Ucap Awani sambil tertawa kecil
"Padahal sebelumnya udah aku larang buat naik mobil, eh.. Masih nekat. Sekarang nyeselkan kamu Van?" Ucap Agnes
"Kamu juga, ngapain tanyain orang nggak sadar? Nggak bakal ke jawab" "Btw, kamu larang Vani naik mobilnya kapan? Kok nggak inget ya" Ucap Putri
"Barusan aku bilang" Jawab Agnes, "Van.. Kamu nggak bosen apa kecelakaan mulu, sakitin diri sendiri. Suka bikin orang cemas aja"
"Kalian ceramahin orang tidur? Nggak guna sumpah" "Kita bangunin dulu, biar dia bisa denger" Ucap Awani kesal. ia menghampiri Vani dan mencoba membangunkannya. Ray menghadang Awani
"Jangan ganggu dia, biarin istirahat" Ucap Ray
"Kesel aku tuh.. Pagi tadi dia bolos nggak ngajakin kita!" "Kena karma kan sekarang!" Ucap Awani ngegas
"Mungkin dia tahu kejadian seperti ini bakal terjadi.. Jadi dia nggak mau ngelibatin kita dalam kecelakaan" Ucap Putri
__ADS_1
"Njer, t*lolnya.. Kalau dia tahu, kenapa tetap pergi!" Ucap Agnes
"Mungkin dia tahu, takdir nggak bisa di ubah" Ucap Putri
"Ngelantur nih anak" Ucap Agnes
"Kalian sebaiknya pulang, di luar sudah gelap. Besok kalian harus ke sekolah, aku yang akan jaga Vani" Ucap Ray
"Nggak bisa, mana mungkin kita serahin Vani ke kalian. Mending kalian yang pulang, trus kita yang jaga Vani" Ucap Agnes
"Aku masih ingin di sini" Ucap Ray
"Kalau gitu, kita berlima tunggu dia sampai sadar" ucap Awani
"Aku keluar cari makanan" Ucap Jack
"Hm.. Baiklah" Ucap Ray
"Aku ikut, susah kalau di bawa satu orang" Ucap Agnes
"Oke" Ucap Jack. Mereka berdua keluar dari ruangan itu untuk membeli makanan
Satu jam kemudian, Agnes dan Jack kembali membawa beberapa bungkus makanan. Mereka meletakkan makanan itu di atas meja, "Kalian makan dulu. Dari siang pasti kalian belum makan kan? Kalian juga nggak sempat pulang buat mandi" Ucap Ray. Mereka berlima makan bersama di atas meja yang sama. Setelah kenyang, mereka membereskan sisa bungkusan makanan
Beberapa saat kemudian, tanpa melakukan apa pun. satu persatu dari mereka mulai bosan dan mengantuk. Mereka tertidur di berbagai tepat di ruangan itu. Di tengah malam, Vani mengalami mimpi buruk. ia membayangkan orang tuanya tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir dengan sendirinya. ia merasa terkejut dan langsung tersadar dari mimpinya, "Mama!" Ucap Vani terkejut. Ray yang tertidur di kursi sampingnya terbangun karena mendengar suaranya
"Vani" Ucap Ray. Vani menoleh ke arah Ray, "Ada apa?" Tanya Ray cemas
"Ray? Kamu disini" ucap Vani sambil mengusap air matanya dengan tangan kirinya. Saat melihat sekelilingnya, ia melihat teman temannya yang sedang tertidur pulas, "Mereka juga disini"
"Kenapa kamu menangis? Ada yang sakit?" Tanya Ray
"Nggak, aku cuma mimpi buruk" Ucap Vani
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?" Tanya Ray cemas
"Aku gapapa" "Terimakasih udah khawatirin aku" Ucap Vani
"Dasar b*doh.. Apa yang kamu lakukan sebenarnya, kebut kebutan di jalan emangnya keren?" Ucap Ray
__ADS_1