
"Hanya sekali.. Hiks.. sekali lagi.. biarkan aku menebus kesalahanku" "Hiks.. Maafkan aku karena dulu pernah membenci kalian.. " "Sekarang.. Aku mohon kembalilah.. Jangan begini.. Aku nggak bisa terima.. Hiks.. Hiks" Ucap Vani sedih
"Akh.. Sal!" Seru Vani. ia mengusap air mata di pipinya dan berlari keluar dari ruangan itu. Tanpa menghiraukan apapun, dengan cepat ia berlari keluar dari rumah itu dan berlari menelusuri trotoar, ("Hiks.. Kenapa kalian baik ke aku sebelum kalian mati?! harusnya kalian tetap nggak peduli dan pergi mati!"), ("Dengan begitu, dadaku nggak akan sesesak ini dan aku nggak perlu nangis*")
Di saat yang bersamaan, Ray baru saja sampai di depan rumah kakek Vani. ia Langsung berlari masuk ke dalam rumah dan menghampiri Kaituo yang sedang berdiri bersandar ke tembok, "Dimana Vani?" Tanya Ray cemas
"Dia bersama Kim di taman belakang, bagaimana kau bisa disini?!" Jawab Kaituo
"Apa dia udah tau?" Tanya Ray
"Aku belum kasih tau" Ucap Kaituo. Saat itu, Kim datang menghampiri mereka berdua, "Kai, Vani dimana?" Tanya Kim. Saat mendengar pertanyaan Kim, Ray dan Kaituo sontak merasa terkejut
"Bukannya kau sama dia?!" Tanya Kaituo
"Dia tadi lari" "Kayaknya aku salah ngomong" Ucap Kim
Ray menoleh ke arah Kaituo, "Bukannya kau dari tadi disini?" Tanyanya
"Aku baru aja balik dari belakang" jawab Kaituo
"Gimana bisa?" "Apa dia udah tau kematian orang tuanya?" Tanya Ray
"Iya" Jawab Kim
"Gawat! Sekarang dia hilang. Pasti dia ga bisa kontrol emosinya, kita harus cepat cari dia sebelum ada hal buruk!" Ucap Ray panik
"Ayo pencar" "Kalian berdua cari di luar! Aku cari di dalam!" Ucap Kim
__ADS_1
"Baik Kim" Ucap Kaituo. Kim mencari Vani di seluruh ruangan yang ada di rumah itu
"Kau tau tempat yang sering di datangi Vani?" Tanya Ray
"Oh.. Aku tau satu tempat" "Masuk ke mobil" Ucap Kaituo. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Kaituo segera melajukan mobilnya ke tempat yang ia maksud
Beberapa saat kemudian, mobil mereka terhenti karena lampu merah
"Akh.. S*al. Jalanan terlalu ramai" Ucap Kaituo kesal. Saat melihat sekelilingnya, Kaituo tidak sengaja melihat Vani yang sedang berlari menuju penyeberangan lampu merah
"Itu Vani!" "Kau turun susul dia!" Ucap Kaituo. Ray turun dari mobil dan berlari mengejar Vani
Vani masih saja meratapi kejadian yang membuatnya merasa depresi. Tanpa memedulikan apa pun, dengan air mata yang terus saja mengalir, ia berlari menyeberang lampu merah yang sudah berakhir. Supir Mobil dari arah berlawanan merasa terkejut dengan kehadiran Vani yang secara tiba tiba muncul di hadapannya, "Tinnnn!!!"
"Awas!!" Teriak Ray. Tanpa berpikir apa pun Ia berlari dan melompat ke arah Vani. Vani terdorong dan mereka berdua tersungkur di pinggiran jalan. Saat menyadari keberadaan Ray, Vani mulai menangis dengan keras, "Hiks.. Hiks.." "Hiks.. Ray.. Maafkan aku... maaf.."
"Mama.. Papa.." "Hikss.. kenapa mereka tega tinggalin aku.." "Hikss.. Ray.. tolong bawa mereka kembali.. "
"Mereka nggak pergi, mereka akan selalu ada di hatimu" "Udah cukup nangisnya, kamu nggak boleh nunjukin kesedihanmu ke orang tuamu nanti, mereka pasti nggak akan suka dan ikut sedih" Ucap Ray, 'Aku juga.. hatiku terasa hancur saat liat kamu begini' Sambungnya lirih
Saat tangisan Vani mulai mereda, Ray melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Vani dengan tangannya, "Hust.. kamu harus tunjukin ke orang tuamu kalau kamu itu baik baik aja tanpa mereka, kalau kamu bisa mandiri. Biar mereka bisa tenang dan nggak perlu cemasin kamu dari atas sana" "Ayo bangun, kamu harus antar orang tuamu ke peristirahatan terakhir mereka. Jangan buat mereka menunggu" Ray membantu Vani berdiri. Namun Vani tidak mengucapkan sepatah kata apapun, ia masih merasa sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa orang tuanya
Kaituo menepikan mobilnya di samping mereka berdiri. ia keluar dari mobil dan menghampiri mereka, "Ayo pulang" Ajak Kaituo. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan Kaituo melajukan mobilnya kembali ke rumah kakek Vani
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah kakek Vani. Kaituo membawa Vani keluar dari mobilnya dan mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Saat melihat Vani, Kim segera menghampirinya
"Vani.. Dari mana aja kamu" "Jangan buat mama sama papa mencemaskanmu" Ucap Kim cemas
__ADS_1
"Aku baik baik aja" Ucap Vani dengan tatapan kosong
"Kamu nggak keliatan begitu" Ucap Kim, "Kita harus temui mama sama papa untuk terakhir kalinya"
'Nggak.. Aku udah liat mereka tadi, Khakim aja' Ucap Vani lirih
"Kamu harus ikut ke pemakanan" Ucap Kim
"iya" Ucap Vani
Selama pemakaman berlangsung, Vani hanya terdiam membisu melihat peti kedua orang tuanya perlahan menghilang dari pandangannya dan tertimbun tanah. Setelah pemakaman berakhir, perlahan orang orang mulai pergi meninggalkan pemakanan. Di sana hanya tersisa, Vani, Kim, Ray dan Kaituo
"Kalian berdua bisa pulang duluan" Ucap Kim
"Baiklah" "Jaga Vani Kim" Ucap kaituo. ia menarik Ray pergi dari pemakaman
"Mereka semua udah pergi, kamu bisa kasih salam terakhirmu ke mama sama papa" 'Kamu boleh nangis, ga perlu ditahan' Ucap Kim lirih
Mendengarnya, tangisan Vani pecah seketika "Hiks.. Mama.. Papa.."
"Mama sama papa udah tenang di sana" Ucap Kim sambil tersenyum Kecil. ia memejamkan matanya, ("Mama, papa. Terimakasih atas semuanya. Terimakasih telah melahirkan kita berdua. Terimakasih atas kasih sayang yang kalian berikan pada kami selama ini. Maafkan Kim dan Vani atas semua kesalahan yang pernah kami buat, Maaf karena Kim dan Vani belum bisa bahagiain kalian. Maaf karena Kim dan Vani belum bisa jadi seperti apa yang kalian inginkan. Semoga kalian bisa tenang di atas sana") batinnya
'Mama, papa.. Maafin aku..' Ucap Vani lirih
"Udah.. Kita harus pulang" "Hari udah mulai gelap" Ucap Kim
"Tapi.. Gimana dengan mereka berdua?" "Malam ini pasti akan sangat dingin, setidaknya beri mereka selimut" Ucap Vani
__ADS_1
"Mereka akan baik baik aja" "Ayo" Ucap Kim. ia menggandeng Vani dan berjalan meninggalkan pemakaman. Mereka berdua kembali ke rumah orang tua mereka