
Di pagi harinya, Vani terbangun dari tidur. ia langsung bangkit dari kasurnya dan turun ke lantai bawah, ia menghampiri telepon rumah, ("Kenapa Khakim dari kemarin nggak kelihatan") batin Vani. ia memutuskan untuk menghubungi Kim
"Tut..tut.. Tut..", 'Hallo?' sapa Kim dari telepon
"Khakim Kemana? Kenapa nggak pulang dari kemarin?" Tanya Vani
'Kakak lagi ngurus sesuatu di Negara A, kamu di situ baik baik aja kan?' tanya Kim dari telepon
"Kakak di negara A? Kenapa nggak bilang ke aku" Ucap Vani
'Kakak udah telpon kamu berkali kali, tapi nggak kamu angkat. Kakak juga kirim kamu banyak chat'
"Hm.. Handphoneku kan di mobil Khakim"
'Sepertinya kakak akan sedikit lama di negara A, kalau kamu mau ambil sendiri handphonemu di mobil kakak, kuncinya di apartemen'
"Yang bener kak? Khakim bakal lama disitu?" Tanya Vani
'Iya, udah dulu ya, kakak lagi buru buru mau ke lokasi. Oh ya, pin apartemennya masih sama kayak dulu' Ucap Kim dari telepon
"Iya Kak. Sampaikan salamku juga ke mama sama papa" Ucap Vani senang
'Sepertinya sulit' Ucap Kim dari telepon. ia langsung memutuskan telepon nya
"Sulit apanya kak?", "Tut.. tut.. tut... " Panggilan berakhir
("Apa maksudnya coba?!") batin Vani penasaran, ("Bodoamat dah, yang penting hari ini aku bisa bawa mobilnya Khakim hehe" ), "Sekarang telpon Kak Zuan dulu, muehehehee" Ucapnya sambil tersenyum lebar. ia menghubungi Zuan
"tutt.." "Hallo Kak Zuan?" Ucap Vani senang
'Little Van? Ada masalah apa? Saya sebentar lagi datang untuk menjemput' Ucap Zuan dari telepon
"Eh, nggak perlu Kak. Lagian kak Zuan kan harus urus perusahaannya Khakim, pasti berat. Hari ini aku bisa berangkat sendiri" Ucap Vani
__ADS_1
'Terimakasih telah menghawatirkan saya Little Van, tapi saya tidak terganggu dengan hal ini. Saya bersedia menjemput anda setiap hari'
("Tapi akunya yang nggak bersedia") batin Vani, "Nggak perlu Kak Zuan, barusan aku telpon Khakim. Katanya aku disuruh sampaikan ke Kak Zuan, hari ini ada rapat penting dan dia nggak bisa datang. Jadi dia suruh Kak Zuan buat jadi perwakilannya", ("Tapi boong") sambung batinnya
'Begitu ya, Setahu saya tidak ada rapat terdekat. kalau begitu saya akan memastikannya'
"Eh.. Jangan, Khakim lagi sibuk, dia nggak mungkin terima telpon Kak Zuan, lebih baik kak Zuan langsung ke kantor buat siapin berkas buat bahan rapat" Ucap Vani
'Baiklah kalau begitu. Little Van, pastikan pulang tepat waktu, kemarin saya sibuk jadi tidak bisa cek ke rumah' Ucap Zuan dari telepon
"Kemarin sehabis pulang, aku langsung tidur" Ucap Vani
'Baguslah kalau begitu. Saya akan menutup teleponnya' Ucap zuan
"Oke" Ucap Vani. Zuan memutuskan telponnya
Setelah itu, Vani kembali ke kamarnya dan pergi membersihkan diri. Beberapa menit kemudian ia selesai bersih bersih, ia memesan taxi online lewat komputer di kamarnya
Beberapa saat kemudian, taxi yang ia pesan datang. ia dengan cepat berlari keluar dari rumahnya dan menghampiri taxi. ia masuk ke dalam taxi
"Baiklah" Ucap supir taxi. ia mulai melajukan taxinya
("Eh?? Aku lupa sarapan, bibi pasti udah siapin sarapannya. tadi malah langsung lari ke depan dan nggak bilang apa apa ke dia") batin Vani, "Gampang, nanti aku telpon" Ucapnya lirih
"Iya ada apa?" Tanya supir taxi
"Eh.. Bukan apa apa" Jawab Vani sambil tersenyum
"Owh, baiklah. Kalau gitu setelah ini saya akan segera ke sana. oh ya, bagaimana keluargamu sekarang?" Tanya Supir taxi
"Saya tinggal sendiri Pak" Jawab Vani sambil tersenyum
"Wah, syukur deh udah punya dua anak. Umurnya berapa aja?" Tanya supir taxi
__ADS_1
("Siapa yang punya anak njerrr, ni supir kagak beres sumpah") batin Vani. ia memiringkan badannya dan melihat ke arah supir, ("Njerr, dia lagi telpon. Pantes dari tadi nggak nyambung") ia menepuk pelan pundak supir taxi "Pak! Mohon taati peraturan, dilarang menelpon saat berkendara. Saya bisa komplain ke atasan bapak Loh" Ucapnya tegas
'Udah dulu ya, pelanggannya ngamuk, bye' Ucap supir lirih
("Njerr, kedengeran g*blok!!") batin Vani kesal, ("Btw, bahasanya keren ugha ni bapak bapak")
"Maaf dek, tadi temen lama telpon. Oh ya, jangan komplainin saya ke atasan ya, nanti gaji saya bisa di potong" Ucap Supir
"Hum.. Karena bapak lumayan, saya maafkan" Ucap Vani
"Saya lumayan tampan ya? emang iya sih, saya juga ngerasa begitu. Tapi, di umur yang ke tiga puluh dua ini saya belum juga dapet jodoh. Setiap saya ngajak pacaran cewek cantik, saya selalu di suruh ngaca mulu" Jelas Supir murung
"Om masih tiga puluhan? Nggak nyangka" Ucap Vani terkejut, ("Mukanya udah tua, tadi aku kira dia bapak bapak njerr") sambung batinnya
"Iya... Btw panggil kakak aja, kalau bapak atau om nanti kelihatan tua" Ucap supir
"Hm...baik, kak supir wkwk" Ucap Vani sambil tertawa kecil
"Saya ini payah dalam urusan percintaan" Ucap supir
"Saya juga nggak tahu apa itu cinta. Jadi maaf ya, nggak bisa kasih saran" Ucap Vani
"Nggak apa apa, lagian kamu masih sekolah kan. Belajar dulu yang rajin ya" Ucap supir
"Siyap kak" Ucap Vani sambil tersenyum lebar
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan apartemen jalan Wadark nomor 5, "Kita sampai" Ucap Supir
"Wih, nggak nyesel naik taxinya kakak. Nggak kerasa udah sampai aja di tujuan. Nanti aku kasih bintang lima deh! Biar kakak semangat cari jodohnya" Ucap Vani senang
"Ahahaha, bisa aja adek ini. Walau sudah muji saya, tetap saja saya nggak bisa ngurangin biayanya, ini harga tetap. Maaf ya dek" Ucap supir taxi sambil tersenyum kecil
("Siapa yang minta keringanan njerr") batin Vani, "Aku tulus padahal!" Ucapnya dengan muka datar. ia membayar taxi itu dan turun dari taxi
__ADS_1
"Makasih Kak Supir" Ucap Vani sambil melambaikan tangannya. Supir itu melajukan taxinya sambil tersenyum ke arah Vani