
"Hum.. Ray, mana hair dryernya?" Tanya Vani
"Di dalam laci meja itu, ambil aja" Jawab Ray sambil menunjuk ke arah salah satu meja di dalam kamarnya. Vani menghampiri meja itu dan mengambil hair dryer, ("Stop kontaknya manaa") batin Vani bingung sambil mengamati sekitarnya. Beberapa saat kemudian, ia melihat stop kontak di ujung ruangan dan ia segera menghampirinya
Saat vani sedang berjalan menuju ujung ruangan, Ray menghentikannya, "Di belakangmu juga ada" Ucap Ray. Vani berbalik dan ia melihat stop kontak di tembok samping kasur Ray
"Oh.. Ahahahaa.. Nggak liat di samping kasurmu ada stop kontak" Ucap Vani sambil tertawa kecil. Ray berjalan menghampirinya, "Berikan padaku.. aku yang pasang" Ucap Ray. Vani memberikan hair dryer yang ia bawa pada Ray. Ray mencolokkan kabel hair dryer itu ke stop kontak dan ia duduk di pinggiran kasurnya
"Sini.. aku bantu keringin rambutmu" Ucap Ray
Vani sedikit merasa senang, "Yakin nih?" ia menghampiri Ray dan duduk di lantai persis di depan Ray, "Mau Ray! Aku suka rambutku di keringin orang lain" Ucapnya bersemangat. Ray menekan tombol on pada hair dryer
"Znggggggggg........" Ray mulai mengeringkan rambut Vani
"Kamu sering begini?" Tanya Ray
"Iya, biasanya sih Khakim, sekarang dia nggak disini. Kadang aku minta ke Bibi, kadang aku keringin sendiri. Kalau akhir akhir ini sih ada Kai, aku bisa minta ke dia" Jawab Vani
"Kamu.. Sebaiknya jaga jarak sama Kaituo" Ucap Ray
"Kenapa?" Tanya Vani penasaran
"Aku takut dia akan macam macam sama kamu" Jawab Ray
"Kai Nggak mungkin jahat, toh aku juga pintar berantem. jadi aman" Ucap Vani
"Aku cuma nggak suka pas kamu dekat sama dia" Ucap Ray
"Degg"
("Apa maksudnya lagi?") batin Vani penasaran, "Ray, maksu..." Ucap Vani terhenti, "Selesai.. Rambutmu pendek, cepat keringnya" Saut Ray
Vani berdiri dari duduknya, "Oh.. Makasih" Ucapnya yang masih canggung. Ray Ikut bangkit dari duduknya
__ADS_1
"Tunggu bentar, aku buatin kamu coklat panas" Ucap Ray sambil tersenyum
"Eh.. Ray tunggu" Ucap Vani. Ray menoleh kearahnya dan saat itu Vani duduk di pinggiran kasur tempat Ray duduk sebelumnya
"hm?" gumam Ray bingung
"Sini sini.. rambutmu juga basah kan" Ucap Vani sambil tersenyum
"Nggak perl.."ucap Ray terhenti, "Gantian!" Sambung Vani berharap
"Ah.. Yaudah" Jawab Ray mengalah. ia duduk di lantai tempat Vani duduk sebelumnya
"Zingggggggggggg....." Vani mulai mengeringkan rambut Ray
"Hum.. Ray, punggungmu lebar juga ya. Tadi juga aku sempat lihat perutmu kayaknya sixpack, aku boleh liat lagi?" Ucap Vani, ("Aku penasaran, tadi aku salah liat nggak ya. Kai rajin ngegym tapi nggak sampai begitu") sambung batinnya
"Blushh..." Wajah Ray memerah karena merasa malu
"Eh? Telingamu kenapa jadi merah?" Ucap Vani terkejut
"Iya, aku mau itu" Jawab Vani
"Kamu yakin? mau itu?" Tanya Ray lagi
("Kenapa ekspresi Ray begitu? Apa dia malu?") batin Vani bingung, "iyaa.. eh?" Ucap Vani terhenti, ia menyadari sesuatu, ("Apa maksudnya itu? kok ambigu") batinnya terkejut. "Ahh.. Ray kamu salah paham! itu maksudku, aku.. aku cumaa..." Ucapnya terbata bata, "ah.. Maaf, pikiranku jugs kacau" Sambung Ray sambil berdiri dari duduknya, "Aku.. buatin kamu coklat panas" Ucapnya sambil berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Vani sendiri
"Cklek.."
"Brak"
"Deg.. Deg.. Deg"
("Ray salan, apa yang kau pikirkan tadi!") batin Ray tegang. ia menarik nafasnya dan membuangnya, "Aaaaaaaaaaa... Hhuuuu...", *("Lupakan apa yang terjadi barusan, jangan buat Vani ngerasa nggak nyaman di sampingku") batin Ray. ia pergi ke dapur untuk membuatkan Vani coklat panas
__ADS_1
Sementara itu, Vani masih duduk di pinggiran kasur sambil memikirkan hal rumit yang menimpanya beberapa saat lalu
"Deg.. Deg.. Deg.."
("kenapa aku jadi cemas gini, apa aku salah ngomog?") batinnya cemas. 'Perasaanku gaenak, mending aku ganti baju trus pulang' Gumamnya lirih. Ia membawa bajunya yang sebelumnya ia keringkan ke dalam kamar mandi di samping kamar Ray dan mengganti pakaian yang ia kenakan
Beberapa saat kemudian, ia selesai mengganti pakaiannya. Ia keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamar Ray untuk meletakkan baju Ray. Ia bermaksud untuk pulang saat itu juga, Saat hendak menggapai gagang pintu
"Cklekkk"
" Braggg" Pintu itu terbuka dan wajah Vani tertampar pintu dengan keras
"Akhhhh... Bngke!" Teriak Vani terkejut
"Hah?!" Sambung Ray terkejut. Saat Vani menyadari orang yang membuka pintu itu adalah Ray, ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Adududuh.. Sakit woy.. Akhh*.." Ucapnya kesakitan. Ray langsung meletakkan cangkir yang ia bawa di atas meja dan langsung menghampiri Vani
"Kamu nggak papa?" Tanya Ray Cemas
("Nggak papa palakau botak!") batin Vani, "Ah.. Aku gapapa, tenang aja" Ucapnya sambil menahan sakitnya
"Beneran? Mau aku bantu jalan?" Ucap Ray yang masih cemas
"Mukaku doang yang kena, jalan mah masih bisa" Ucap Vani
"Kenapa kamu di belakang pintu? Kamu mau keluar?" Tanya Ray
"Iya, aku mau pulang" Jawab Vani
"Kamu nggak betah di rumahku? Atau kamu nggak betah karena sesuatu?" Tanya Ray
"Eh.. Bukannya gitu, tapi..." Ucap Vani terhenti, "Apa.. Aku nggak seasik Jack" Sambung Ray murung
"Ah.. Bukan gitu.. Ahahaha.. Ayo kita ngobrol dikit lagi sebelum aku pulang.." Ucap Vani sambil tertawa kecil
__ADS_1
"Baguslah, ayo duduk. Ada satu hal yang mau ku omongin" Ucap Ray serius