CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 10


__ADS_3

“Kamu masih disini, sayang?” tanya Gilang saat memasuki rumah dan menemui sosok gadis yang sangat dicintainya.


“Aku akan pulang setelah kamu makan, duduklah dan makan. Kamu pasti lapar setelah lelah bekerja.” Tia mengambilkan makanan untuk Gilang. Melihat calon istrinya yang sangat perhatian, Gilang mendekati Tia yang sudah selesai menyiapkan makanan dipiring yang sudah lengkap dengan nasi dan lauk pauknya, tak lupa dia mengecup kening Tia dengan lembut dan memeluknya sebelum dia duduk.


“Tak sabar rasanya ingin segera menikahimu, Tia. Aku sungguh bahagia dengan moment disaat aku pulang dengan lelah dan kamu menyambutku dengan senyumanmu. Serasa hilang semua beban pekerjaanku.”


“Satu bulan lagi kita akan bersama secara resmi, Lang. Aku juga sudah tidak sabar rasanya.” Balas Tia.


“Makanlah, setelah itu cepat mandi. Keburu malam.” Tia melepaskan pelukannya.


“Nanti tunggulah aku sebentar, setelah mandi aku akan mengantarmu pulang.”


“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.”


“Mama dan Gaby kemana? Aku tidak melihatnya dari tadi.”


“Tadi Mama sempat turun saat Gaby pulang dari kursusnya. Setelah makan sebentar, mereka naik kembali masuk kekamar masing-masing.”


“Hemm . . . kebiasaan mereka. Pasti kamu kesepian selama menungguku, kan?”

__ADS_1


“Tidak, aku terus berdebar menunggu kepulangan calon imamku.” Tia tersenyum lirih.


“Ahhh, sejak kapan kamu belajar gombal?”


“Sejak aku jadi pengangguran. Aku punya banyak waktu untuk membaca buku apapun itu.”


“Berarti ada hikmahnya juga, bukan?” tanya Gilang dengan raut wajah santainya.


“Tentunya. Apalagi aku bisa terus bersamamu, orang yang sangat aku cintai.”


“Wahhh . . . luar biasa calon istriku ini, tambah klepek-klepek aku dibuatnya.” Ucap Gilang dengan makanan yang masih penuh dimulutnya. Membuat Tia tertawa terbahak-bahak karena tingkah lucunya.


“Kamu yakin tidak ingin aku antar?” tanya Gilang mencoba meyakinkan.


“Tentu saja, aku tidak mau kamu kelelahan karena harus mengantarkanku pulang dan harus kembali lagi kerumah.”


“Ahhhhh!!! Aku lupa menanyakan ini. Bagaimana tadi persiapan pernikahan kita?”


“Semuanya sudah beres. Aku tidak bisa cerita karena harus bergegas, nanti kita bicarakan saja ditelepon. Atau kamu bisa tanya Mama, beliau tahu semua detailnya.”

__ADS_1


“Baiklah, hati-hati dijalan, sayang.” Gilang mengecup bibir Tia singkat.


“Bye . . . “ Tia melambaikan tangannya saat memasuki mobilnya. Dan dengan lancar dia berhasil keluar dari halaman depan rumah Gilang.


Saat diperjalanan, entah kenapa tiba-tiba terbesit dalam benaknya tentang kejadian hari ini. Dia menimbang-nimbang apakah yang dilakukannya adalah hal yang tepat, atau dia sedang terjerumus dalam kesalahan. Semuanya menjadi perhatian Tia, tapi senyuman Gilang yang terpatri di ingatannya membuatnya melupakan semua kekhawatirannya dan meyakinkan langkah yang ditempuhnya.


***


“Hallo, Tia.” Sapa seseorang lewat panggilan telepon.


“Ya, Gilang. Ada apa?”


“Bisakah turun sebentar, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Sekarang aku sudah berada dilantai bawah apartemenmu.”


“Sekarang? Tapi aku belum mandi, Lang. Bisa menungguku 15 menit?” tanya Tia dengan penuh harap.


“Tentu saja bisa. Semua waktuku untukmu, sayang.”


Setelah itu Tia langsung bergegas membasuh seluruh badannya. Dia meninggalkan semua rutinitasnya didalam kamar mandi, dan juga untuk tidak menggosokkan lulur keseluruh tubuhnya, karena seseorang sudah menunggunya di bawah. Dengan cepat dia mengenakan baju yang dapat ia lihat didalam lemarinya, untung saja Tia merupakan gadis yang cinta akan kebersihan dan kerapian. Walaupun dia tergesa-gesa, tapi dia dapat menemukan baju yang cantik dipandang mata.

__ADS_1


Dengan atasan model sabrina yang berwarna putih gading  dan celana jeans, membuat penampilan Tia nyaris sempurna untuk setelan casual. Tanpa menggunakan make up yang berlebih, gadis ini mengandalkan lipstick yang menghiasi wajahnya agar kulit putihnya tidak terlihat pucat. Karena tidak ada waktu untuk mengatur rambutnya yang lurus sebahu, dia menggulungnya bak pragawati. Saat dia akan berjalan keluar kamar, disabetnya tas kecil berwarna putih yang akan menyempurnakan penampilannya. Dilorong pintu, Tia memilih mengenakan flatshoes berwarna senada dengan atasannya, karena ini masih pagi hari, Tia yakin kalau kekasihnya tidak akan mengajaknya kerestaurant formal ataupun tempat-tempat yang diharuskan mengenakan gaun.


__ADS_2