CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 95


__ADS_3

*Beberapa jam sebelum Tia memasuki kamar*


Dok dok dok dok dok dok dok suara pintu digedor dengan cepat oleh seseorang diluar.


“Tolong! Tolong saya!” terdengar suara samar-samar dari luar ruangan.


Rio membuka pintu karena merasa seseorang meminta tolong padanya.


“Siapa kamu?” tanya Rio pada perempuan muda yang bajunya sedikit terbuka dibagian dada.


“Tolong saya. Ada seseorang yang mau memperkosa saya. Dia sedang mengejar saya.” Jawab perempuan itu dengan panik dan wajah ketakutan.


“Masuklah dulu kalau begitu.” Rio merasa iba dan memilih untuk menolongnya.


“Duduklah. Tunggulah disini sampai semuanya aman. Aku akan membantumu menghubungi keamanan hotel.”

__ADS_1


“Tidak . . . tidak, aku mohon. Jangan memanggil mereka. Aku takut jika tertangkap.”


“Tertangkap?”


“Aku kenegara ini secara ilegal, dan aku berniat untuk mencari pekerjaan. Tidak disangka aku ditipu seseorang yang mengatakan akan memberikanku pekerjaan. Mereka mau menjualku ke pria hidung belang.”


“Apa? Bagaimana itu bisa terjadi. Kalau begitu tunggulah disini sampai semuanya aman. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarkanmu nanti.”


“Terimakasih atas bantuannya. Bolehkah aku meminta minum?” perempuan itu menyentuh lehernya yang kering karena kehausan.


Perempuan itu melirik kopi panas yang berada dimeja. Kopi itu masih mengepulkan asap panas pertanda jika baru saja dibuat. Diam-diam perempuan itu memasukkan bubuk putih kedalam kopi itu dan mengaduknya perlahan dengan sendok kecil yang ada didalam gelas.


“Minumlah.” Rio menyodorkan gelas dingin itu tanpa tahu jika kopinya telah dimanipulasi.


“Terimakasih. Kamu pria yang baik. Bolehkah kita berkenalan?”

__ADS_1


“Aku mau menolongmu hanya karena kita berasal dari negara yang sama. Tidak lebih. Jadi jangan berlebihan menanggapi pertolonganku.” Jelas Rio dengan tatapan dinginnya.


“Maafkan aku.” Perempuan itu meminum air putih yang diberikan oleh Rio. Perempuan itu juga diam-diam memperhatikan Rio meminum kopi yang sudah dicampurnya oleh serbuk obat perangsang. Hanya perlu dua menit obat itu bereaksi. Tubuh Rio tiba-tiba saja merasa panas dan merasakan gejolak gairah yang menggebu-gebu. Melihat pria didepannya sudah mendapatkan reaksi, perempuan itu mendekat menawarkan pertolongannya.


“Ada apa? Apa Mas kurang enak badan?” tanya perempuan asing itu.


“Entahlah. Saya juga tidak tahu kenapa tubuh saya tiba-tiba seperti ini.”


“Mau saya bantu istirahat kedalam?” perempuan itu menawarkan pertolongan. Rio yang sudah mulai merasakan desakan gairah didalam tubuhnya dan merasakan jika kakinya bergetar memilih untuk menerima tawaran perempuan itu untuk masuk kedalam kamarnya. Dia berencana ingin mengunci pintu kamarnya dan membiarkan perempuan itu sendirian diluar sampai kondisi tubuhnya membaik.


Sesampainya dipintu kamar utama, Rio ingin menyuruh perempuan itu untuk melepaskannya, tapi perempuan itu memaksa untuk mengantarkan Rio sampai kedalam dan berbaring diranjang. Tenaga Rio tidak sekuat sebelumnya karena dia menahan tekanan dari dalam dirinya, dengan mudah tubuh besarnya didorong keatas tempat tidur oleh perempuan yang tidak dikenalnya.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rio saat dia melihat perempuan dihadapannya melepaskan bajunya satu persatu. Perempuan itu meleok-leokkan tubuhnya dihadapan Rio. Dengan cepat dia menaiki tubuh Rio dan mulai mer*ngsang tubuh Rio dengan kecupan-kecupan liar.


Rio berusaha menahan gairah yang secara cepat melonjak dan ingin pelepasan. Rio menahannya dengan segenap kekuatannya. Tenaga terasa hilang dan tidak bisa mendorong pergi perempuan yang saat ini sudah berhasil melepaskan baju dan celananya. Meninggalkan ****** ***** yang masih dikenakannya. Dengan liar perempuan itu mengecup seluruh dada Rio dan meninggalkan bekas merah disana. Perempuan itu berusaha keras agar Rio kewalahan menahan hasratnya dan mau bersetubuh dengannya. Karena jika Rio tidak melakukan hal itu dengannya, maka dia tidak akan mendapatkan bayaran dari orang yang mengirimnya sampai kekamar Rio.

__ADS_1


Perempuan itu terus saja mencium dan meraba seluruh tempat sensitif ditubuh Rio. Puas dengan bagian atas tubuh Rio, tangan perempuan itu beralih kebagian yang masih tertutup oleh kain satu-satunya ditubuh Rio. Saat dia sudah bersiap membukanya, disanalah pintu kamar terbuka dan terlihat seorang perempuan yang syarat akan kemarahan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.


__ADS_2