CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 26


__ADS_3

“Mas, kenapa baru pulang selarut ini? Apa ada pekerjaan yang belum selesai?” tanya Tia menyambut suaminya yang tak biasanya pulang telat.


“Hari ini ada beberapa laporan yang hilang karena anak magang di bagianku, jadi aku harus membuatnya kembali karena besok sudah harus diserahkan pada manager.”


“Anak magang?”


“Iya. Dera namanya. Sudah dua bulan dia bekerja, tapi kemarin dia melakukan hal ceroboh dengan memformat isi laptonya. Padahal didalamnya terdapat beberapa file laporan.”


“Kenapa Mas baru cerita jika ada anak magang di divisi tempat Mas?”


“Apa itu hal yang penting kamu tanyakan saat ini, Tia? Aku lelah, jadi aku tak ingin bertengkar.”


“Aku tidak mengajak bertengkar, Mas. Aku hanya bertanya biasa saja. Aku siapkan air hangat dulu untuk Mas mandi, ya.” Tia meninggalkan Gilang dan masuk kedalam kamar mandi untuk mengisi bak kamar mandi dengan air hangat.


Setelah mandi, Gilang langsung tidur dengan lelap ditempat tidurnya. Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin Tia ceritakan kepada Gilang tentang yang dia lalui selama satu hari ini. Tapi Tia menyadari jika suaminya sedang kelelahan, dan membiarkannya tertidur. Tia juga penasaran dengan anak magang yang suaminya ceritakan. Entah kenapa Tia seperti mendapatkan firasat tidak enak tentang anak magang itu. Tia mencoba menghubungi Cindy dan bertanya tentang Dera, tapi Cindy tidak tahu apa-apa tentang gadis itu.


Setelah malam itu, esoknya beberapa kali Gilang terus menerus pulang malam karena lembur dikantornya. Hal itu membuat Tia khawatir akan kesehatan suaminya.


“Mas, apa pekerjaan Mas terlalu banyak? Kenapa akhir-akhir ini Mas sering sekali lembur?”


“Karena memang pekerjaanku belum selesai, Tia. Aku ingin di promosikan ke bagian yang lebih tinggi, jadi aku harus bekerja keras.”


“Tapi perhatikan juga kesetanmu, Mas. Nanti kamu bisa sakit jika terus bekerja seperti ini.”

__ADS_1


“Tenang saja, aku dibantu oleh Dera.”


“Dera???”


“Anak magang yang dulu pernah aku ceritakan.”


“Hanya kalian berdua didalam ruanganmu, Mas?”


“Tentu saja, kan memang aku mentornya selama dia magang diperusahaan. Sudah, jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku bekerja, sayang. Bukan berbuat hal lainnya. Kamu percaya pada suamimu bukan?”


Tia mengangguk pasti dengan senyum manisnya. Dia percaya bahwa suaminya akan selalu setia.


“Oh, iya. Tadi mama berpesan, saat Mas pulang, kita disuruh menemui mama.”


“Apa kamu mencari masalah lagi dengan mama?”


“Kenapa kamu berfikir seperti itu, Mas? Kapan aku pernah sengaja mencari masalah dengan mama?”


“Ok . . . ok, maafkan Mas, ya. Tunggu setelah Mas mandi, habis itu mari kita menemui mama.”


Setelah Gilang mandi, Tia dan suaminya menemui mamanya yang sedang duduk diruang keluarga menonton film.


“Kamu sudah pulang, Lang? kenapa akhir-akhir ini kamu selalu lembur?”

__ADS_1


“Kerjaan Gilang banyak, Ma. Ada apa memanggil Gilang dan Tia?”


“Sekarang usia pernikahan kalian sudah delapan bulan. Apa kalian tidak berencana mempunyai anak?”


“Kami sedang berusaha, Ma.” Jawab Tia.


“Iya, tapi kapan? Teman-teman Mama sudah pamer cucunya semua saat arisan. Hanya Mama yang belum menggendong cucu.”


“Sabar, Ma. Nanti kalau sudah waktunya, pasti Gilang dan Tia kasih mama seorang cucu.”


“Mama maunya secepatnya, Gilang. Mending kamu pergi ke dokter antar istrimu, cek kesuburannya. Jangan menunggu yang tak pasti.”


“Iya, besok Gilang ijin untuk mengantar Tia ke dokter. Sudah Mama jangan marah-marah lagi. Tak baik demi kesehatan Mama sendiri.”


“Coba kalian cepat kasih Mama cucu, pasti Mama bisa lebih bahagia. Mama iri dengan teman-teman Mama lainnya.”


“Iya . . . iya, Ma. Secepatnya akan Gilang kasih cucu buat Mama. Yang banyak deh.”


Tia tersenyum mendengar Gilang menenangkan mamanya, tapi didalam hatinya dia merasakah kekhawatiran yang begitu besar. Dia takut jika hasil tes tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Bagaimana jika dia benar-benar dinyatakan mandul? Padahal mertuanya begitu mendambakan seorang cucu.


Bagaimana jika dia betul-betul tidak bisa memberikan keturunan, apakah suaminya akan tetap mencintainya dan menerima keadaannya? Ada begitu banyak pertanyaan yang terlintas di benaknya. Bagaimanapun dia juga mulai merasa khawatir kenapa sampai saat ini belum juga hamil. Padahal siklus haidnya selama ini selalu lancar tanpa ada masalah yang berarti. Sesekali hanya merasakan nyeri perut saat haidnya berada di awal mulai. Jadwal berhubungan badannya dengan Gilang juga tergolong sering, hanya akhir-akhir ini yang berkurang karena Gilang sering lembur dan kelelahan saat sampai dirumah.


Sudah beberapa artikel yang Tia baca tentang cara menyuburkan kandungan, dari ramuan yang terbuat dari rempah, sampai jus buah-buahan yang katanya bisa meningkatkan kesuburan. Bahkan Tia pernah diam-diam membeli kurma muda dan membuatnya sebagai minuman untuk program hamil. Tapi sampai sekarang belum ada hasil yang dia peroleh.

__ADS_1


__ADS_2