CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 45


__ADS_3

“Devi, saya akan keluar sebentar, nanti jika ada yang mencari saya, tolong hubungi saya.” Pamit Tia kepada salah satu anggota timnya.


“Baik, Bu.”


Tia keluar kantor saat jam makan siang. Siang ini, rencananya Tia akan mencari rumah kontrakan yang bisa segera dia tempati. Walaupun belum mempunyai uang karena belum genap satu bulan ia bekerja, tapi Tia merasa harus secepatnya pergi dari rumah Cindy karena sekarang sudah ada Yose. Tia merasa tidak enak harus membuat Yose pergi saat dia pulang kerumah Cindy.


Beberapa kali Tia mendatangi rumah kontrakan, tapi belum ada yang cocok. Apabila rumahnya dalam keadaan bagus dan terawat, tapi dana Tia tidak mencukupi bahkan hanya untuk sekedar mengontrak bulanan. Dikota besar itu, rumah kontrakan dengan dua kamar lumayan tinggi harganya bahkan untuk per bulannya.


Sedangkan jika ada kontrakan dengan harga yang masih bisa dijangkau oleh Tia, tapi lingkungannya kurang mendukung untuk Tia tempati sendiri. Perempuan cantik itu tetap mengutamakan kenyamanan dan keamanan karena dia tinggal sendirian. Berbeda dengan apartemen yang dulu dia tempati, walaupun sendiri, tapi keamanan dipastikan oleh pengembang, sehingga dia merasa aman tinggal di apartemennya terdahulu.


“Kemana Tia pergi, Dev?” tanya Rio pada Devi.


“Bapak . . . Pak Rio ingat nama saya?” Devi tidak menjawab pertanyaan Rio karena bahagia namanya di ingat oleh pria tampan itu.


“Cepat jawab pertanyaan saya!” bentak Rio dengan wajah sangarnya.


“Oh, Bu . . . Bu Tia pergi keluar, Pak. Kalau tidak salah, tadi Bu Tia bilang mau mencari rumah untuk ditempati.”


“Sudah berapa lama dia pergi?”


“Kira-kira baru 5 menit yang lalu, Pak. Apa perlu saya . . . ” belum selesai Devi berkata, Rio sudah melangkah pergi meninggalkannya.


“Uuuuhh . . . Pak Rio! Walau kejam tapi kenapa rasanya dag dig dug sih.” Devi heboh sendiri dimeja kerjanya.


“Sudah kembali bekerja, jangan menghalu terus pekerjaanmu.” Perintah salah satu teman prianya yang merasa risih dengan sikap para perempuan setiap selesai bertemu dengan Rio.

__ADS_1


- - -


“Bagaimana ini? Aku sudah tinggal hampir satu bulan dirumah Cindy, rasanya semakin tidak nyaman karena terus mengusir Yose secara tidak langsung.” keluh Tia. Saat ini dia sudah duduk disalah satu cafe untuk meminum es americanonya, dan tangan satunya masih tetap mencari-cari referensi kontrakan.


“Boleh duduk disini, nona cantik?” pinta seorang pria tampan dengan sopan.


“Rio?” Tia terkejut, “Bagaimana bisa kamu ada disini?”


“Aku mengikutimu.” Jawabnya singkat.


Sekali lagi kejutan Tia dapatkan, karena Rio benar-benar seseorang yang mengatakan apa adanya.


“Apa yang sedang kamu cari?”


“Kita tidak pada hubungan sedekat itu, Rio. Kita tidak perlu menceritakan masalah satu sama lain.”


“Apakah kamu laki-laki yang suka memaksa?”


“Untuk beberapa hal, iya. Aku memang suka memaksakan kehendakku. Tapi tidak untuk semua hal. Tapi untuk saat ini aku sedang memaksamu. Ceritakan saja padaku, siapa tahu aku bisa membantumu.”


Tia sudah merasa lelah untuk memulai perdebat dengan pria dihadapannya, dia memilih untuk mengikuti keinginan Rio.


“Baiklah, aku akan cerita. Aku sedang mencari rumah kontrakan.”


“Bukankah kamu tinggal dirumh Cindy?”

__ADS_1


“Betul. Tapi aku tidak bisa selamanya ada disana. Cindy sudah punya calon suami dan ayah dari bayinya. Jadi aku tidak mau mengganggu mereka berdua.”


“Sudah dapat?” tanya Rio sembari menyesap kopi hitam panasnya.


“Belum.” Tia menghembuskan nafas beratnya.


“Tinggalah dirumahku. Aku ada kamar kosong yang bisa kamu tempati?”


“Kamu pasti sudah mulai gila?” tanya Tia dengan nada menghina.


“Anggap saja begitu, aku tergila-gila padamu.” Jawab Rio dengan tatapan hangat dimatanya. Tapi ucapannya tidak mempan dihadapan seorang wanita yang baru saja tersakiti hatinya.


“Mana mungkin aku tinggal berdua denganmu? Kita sama-sama melajang, dan aku yakin jika kamu tinggal sendirian karena kamu tidak menyebutkan keluargamu tadi.”


“Kalau begitu, menikahlah denganku. Dengan begitu tidak akan ada yang perlu kamu takutkan.”


Tia menatap dalam-dalam mata dari laki-laki dihadapannya. Dia berusaha mencari kebohongan dimata Rio, tapi yang didapatinya hanya perasaan yang tulus terpancar dari kedua mata coklat itu.


“Aku kembali kekantor dulu, ini sudah lewat jam istirahat.” Tia tidak menanggapi ucapan Rio.


“Ikutlah denganku.” Ajak Rio.


“Aku bisa sendiri.”


“Kamu perlu waktu untuk mencari taksi, dan itu akan membuatmu lebih terlambat untuk kembali kekantor.”

__ADS_1


“Dari mana kamu tahu jika aku menggunakan taksi?”


“Aku sudah bilang padamu jika aku mengikutimu. Ikutlah denganku, aku memaksa lagi kali ini.” Rio membukakan pintu penumpang untuk Tia. Dengan langkah berat Tia masuk kedalam mobil Rio karena alasan yang diberikan oleh Rio memang masuk akal. Dia tidak mau dicap sebagai karyawan yang tidak disiplin.


__ADS_2