CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 76


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu semenjak kejadian dikantin, dan beberapa orang sudah mulai melupakan dan memilih untuk mengacuhkan Gilang saat mereka tidak sengaja berpapasan dikantor. Gilang juga semakin terfokus untuk bekerja demi mengejar keinginannya dua tahun kedepan.


Saat Gilang sedang fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba kantor ricuh karena banyak yang berteriak histeris kegirangan. Bagaimana mereka tidak bahagia, kantor akan mengadakan tour selama tiga hari dua malam di Raja Ampat, Papua Barat. Menit berikutnya, semua karyawan mendapatkan pesan dari pihak management yang berisikan video dari wakil direktur utama.


“Selamat siang semuanya. Pasti kalian semua sudah mendapatkan pesan pemberitahuan jika perusahaan kita akan mengadakan tour wisata selama tiga hari dua malam di kepulauan Raja Ampat. Tour ini kami adakan sebagai apresiasi perusahaan atas kerja keras kalian semua. Kita akan berangkat minggu depan tepat jam 08.00 dan langsung berkumpul dibandara. Jika tidak ingin tertinggal tolong dicatat dan datang satu jam sebelum waktu keberangkatan. Tapi semua ini ada syaratnya, selesaikan semua pekerjaan kalian sebelum satu hari menjelang pekerjaan. Tetap fokus dan semaksimal mungkin dalam bekerja. Saya tidak akan mentolelir segala kesalahan. Terimakasih.”


Video yang berdurasi 5 menit itu sukses membuat seisi kantor tersenyum bahagia dan juga merasa terbebani diwaktu yang sama karena pekerjaan yang harus mereka selesaikan dalam tujuh hari mendatang.


Tok . . . tok . . . tok . . .


“Ya, masuk.”


“Bu Tia?” Devi dan Sinta masuk dengan anggota tim yang lainnya.


“Hm? Ada apa nih kalian rame-rame keruangan saya? Kalau ingin naik gaji, langsung ke atasan, saya tak punya hak untuk menaikkan gaji kalian.” Ucap Tia dengan menggoda.


“Bukan itu, Bu.”


“Lalu apa?”


“Ibu sudah lihat video dari Pak Rio?” tanya Devi ragu-ragu.


“Sudah.” Jawab Tia singkat.


“Jadi, Bu. Apa kira-kira pekerjaan kita ada yang baru lagi selain yang sedang kita kerjakan saat ini? Jika ada, kita mau memintanya sekarang, Bu. Kami akan mengerjakannya diawal.” Jelas Sinta dan dibenarkan oleh anggota tim lainnya.


“Segitu inginnya kalian pergi wisata?”


“Tentu saja, Bu. Ini kesempatan besar, apalagi kantor kita ini hanya mengadakan tour wisata hanya 5 tahun sekali. Kami tidak mau menyia-nyiakan perjalanan mewah dengan biaya kantor.” Sinta mulai berkhayal betapa indah dan menawan Raja Ampat yang selama ini hanya dia lihat di televisi. Bukan karena tidak mampu untuk pergi dengan biaya sendiri, tapi kesibukanlah yang merenggut waktu luang mereka.


Tia memperhatikan wajah-wajah yang penuh harap sedang menatapnya intens. Hal ini membuat Tia harus menyudahi kejahilannya.

__ADS_1


“Kalian tenang saja, pekerjaan kita hanya ini saja yang kalian pegang. Untuk minggu depan, kalian akan bebas dan bisa ikut tour dengan santai.”


“Horeeee . . .” teriak mereka serempak dan detik berikutnya mereka semua menutup mulutnya karena diberikan isyarat oleh Tia untuk mengecilkan suara.


“Sekarang keluarlah kalian semua, cepat selesaikan proyek terakhir kita ini.”


“Siap, Bu!” mereka semua keluar dengan perasaan yang sangat bahagia.


Ting – “Tia, saat jam makan siang, datanglah keruanganku.” Isi pesan singkat Rio.


Dan saat jam makan siang, Tia naik kelantai tertinggi digedung itu untuk menemui suami rahasianya secara diam-diam. Karena semua karyawan dilantai Rio sudah dia perintahkan untuk turun kelantai empat.


Tok . . .tok . . . tok . . .


“Masuk!” Rio mempersilahkan dengan suara beratnya.


“Ada apa kamu memanggilku?”


“Aku merindukanmu.” Ucap Rio saat dia sudah memeluk erat istrinya.


“Kita baru saja bertemu tadi pagi dirumah.”


“Tapi pekerjaanku sangat banyak hari ini, aku sungguh lelah.” Rio masih bergelayut manja dipelukan Tia.


“Mau kupesankan makan siang? Kamu pasti lapar.”


“Aku mau makan makanan pembukaku dulu.”


“Hmm?” belum sempat Tia lanjut bertanya, tapi bibirnya sudah terbungkam dengan ciuman hangat dari Rio.


“Rio! Ini dikantor.”

__ADS_1


“Biarkan saja. Aku menginginkannya sekarang juga. Aku rasa sekarang aku tak perlu ijin lagi hanya untuk sekedar menciummu, karena sejak malam itu kita bercin . . .” mulut Rio ditutup rapat-rapat oleh tangan Tia.


“Jangan pernah kamu mengungkit-ungkit lagi malam itu.”


“Kenapa? Malam itu kamu begitu menikmatinya kan?” bisik Rio tepat ditelinga Tia. Bahkan Rio sempat menggigit kecil telinga Tia.


“Rio! Cukup! Jangan terus menggodaku.”


“Kenapa wajahmu merah? Apa kamu malu?” goda Rio saat tahu jika Tia sedang salah tingkah sekarang.


“Sudah lepaskan aku. Aku ingin kekantin sebelum jam istirahat selesai.”


“Aku akan melepaskanmu, tapi berjanjilah padaku untuk membiarkanku melakukan hal yang kusukai malam nanti dikamarmu.”


“Kamu sudah gila!”


“Aku memang gila karenamu, Sayang.” Sekali lagi Rio mengecup bibir merah Tia.


“Sekarang lepaskan aku, Rio!”


“Tidak akan, kecuali kamu berjanji padaku. Ini sudah lebih dari 1 bulan sejak malam itu, apa kamu tidak mengasihaniku?”


“Oke . . . oke, lakukan apa yang kamu mau malam nanti.” Jawab Tia pada akhirnya.


“Betulkah? Kamu berjanji?”


“Hm!!!” seru Tia kesal karena tingkah laku suaminya.


“Baiklah.” Rio melepaskan pelukannya, “Sampai jumpa nanti malam, Sayang.”


Tia pergi dari ruangan Rio dengan kesal karena permintaan suaminya yang tiba-tiba. Tapi Tia cukup mengerti jika Rio memintanya kembali karena sudah cukup lama mereka tidak bercinta. Kesibukan Rio yang membuatnya harus pulang telat dan saat itu terkadang Tia sudah tertidur. Rio laki-laki yang cukup pengertian karena dia tidak pernah mengganggu tidur malam Tia walaupun merasakan kebutuhan yang mendesak.

__ADS_1


__ADS_2