
“Kamu serius???” tanya Cindy dengan menekankan kalimatnya yang menolak untuk percaya atas perkataan sahabatnya.
“Tentu saja aku serius. Paling tidak, itulah jawaban yang kemarin malam aku yakini.” Jawab Tia.
“Aku tahu seberapa kerasnya usahamu untuk mencapai keposisimu saat ini. Apakah kamu akan melepaskannya dengan begitu saja?”
“Aku tahu itu, Cind. Tapi itu semua adalah permintaan mama Gilang. Hal itu juga yang kurasa menjadi keinginan Gilang.”
“Mereka hidup dijaman apa saat ini? Bukankah lebih bagus jika memiliki anggota keluarga yang memiliki karier dan posisi yang bagus? Bukankah secara tidak langsung itu juga bisa membantu kesejahteraan mereka? Bukankah calon mertuamu itu harusnya bersyukur jika kamu tidak membebani anak laki-lakinya!” Cindy mengeluarkan segala unek-uneknya dengan memperhatikan volume suaranya, karena dia saat ini masih didalam ruangan Tia.
“Gilang mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari beberapa teman kerja dibagiannya karena mengencani seseorang yang lebih tinggi posisinya.”
“Aku tahu itu!” Cindy mulai melipat kedua tangannya.
__ADS_1
“Kamu tahu selama ini??? Dan tidak mengatakan apa-apa padaku?”
“Untuk apa aku mangatakannya jika kenyataannya tidak seperti itu. Harusnya Gilang biarkan saja mereka bicara seenaknya jika dia tidak merasa seperti itu.” Cindy memberikan argumenya.
“Tapi dia laki-laki, Cind. Harga diri dan prinsip jelas menjadi hal utama baginya.”
“Lalu bagaimana dengan dirimu? Apa harga dirimu tidak penting? Apa prinsipmu juga tidak berjalan lagi seiring rasa cintamu pada Gilang?”
Tia yang mendengar kalimat dari Cindy hanya terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Benar saja jika selama ini dia selalu membanggakan kedua hal itu dari dirinya, dengan prinsipnya dia juga berhasil berada diposisinya saat ini. Seseorang dengan latar keluarga yang tidak jelas asal usulnya, dengan penuh perjuangan bisa menyelesaikan kuliah dan berhasil menempati posisinya saat ini, itu semua adalah kerja kerasnya yang penuh dengan ketekatan yang bulat. Tapi setelah mengenal cinta, gadis itu sedikit demi sedikit mengendurkan kekuatannya.
“Apa maksud pertanyaanmu, Cind. Tentu saja aku sangat yakin dengannya. Kamu tahu itu!”
“Dia lajang, begitu juga aku. Usia kami sama, dan kami mempunyai kecocokan yang sama. Dia tampan dengan kulit sawo matangnya dan tinggi tentu saja.” Tambah Tia.
__ADS_1
“Bukan itu yang aku maksud, Tia.” Cindy geram dengan sahabatnya. “Maaf-maaf saja jika perkataanku ini agak menyakitkan, tapi apa kamu yakin jika Gilang akan mencintaimu sampai tua nanti?”
“Kamu akan menjadi perempuan pengangguran tanpa pendapatan yang akan menggantungkan hidupmu sepenuhnya dengan suamimu!” Cindy menambahkan pendapatnya.
“Apa salahnya dengan hal itu, Cind?” Tia mencoba bersabar dengan segala argument dari sahabatnya.
“Jika kamu mempunyai pilihan untuk melanjutkan kariermu, kenapa tidak, Tia? Itu semua tidak merugikan pihak manapun, kamu malah bisa membantu Gilang.”
“Sudahlah, Cind. Kepalaku lebih pusing lagi dengan kata-katamu sedari tadi.” Tia memijat kepalanya yang semakin nyeri.
“Maafkan aku, teman. Aku hanya ingin melindungimu saja. Aku tidak mau kerja kerasmu selama ini menjadi sia-sia hanya karena kamu salah langkah.”
“Apapun keputusanmu, aku hanya mampu mendukungmu. Pendapat dariku sudah ku utarakan, selebihnya tergantung darimu. Aku balik keruanganku dulu.” Cindy pamit.
__ADS_1
Tia melihat ketulusan dari setiap perhatian yang Cindy berikan. Kali ini dia sudah memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Walaupun dia pasti akan menyesali langkahnya kali ini karena telah menyia-nyiakan perjuangannya selama ini, tapi dia yakin jika Gilang pasti bisa melindunginya sampai akhir nanti.