
Tia keluar dari kamarnya dengan satu koper besar dan tas tangannya. Saat Tia berjalan menuju ruang keluarga, Tia mendengar ada suara canda dan tawa. Ada suara mertua, adik iparnya, dan sesekali suara Gilang terdengar tertawa ringan. Tapi ada satu suara yang asing ditelinganya. Suara siapa itu? Tia bertanya-tanya dalam hatinya.
Saat suara koper Tia mulai mendekat, semua penghuni diruangan itu terdiam.
“Oh, ini dia menantu, Mama. Atau . . . calon mantan menantu, Mama?” mama Ratna tertawa terbahak-bahak diiringi oleh tawa bahagia dari Gaby. Sedangkan Gilang hanya terdiam, dan seseorang yang tak dikenalnya tersenyum tipis sambil duduk disebelah Gilang. Tapi ada yang aneh dimata Tia, gadis itu melingkarkan tangannya di lengan Gilang.
“Mama pasti sudah mendengar semua dari Mas Gilang. Jadi Tia hari ini akan pergi dari rumah ini, Ma.”
“Iya, Mama sudah mendengarnya. Mama turut bahagia akhirnya Gilang tersadar dan memilih untuk meninggalkan perempuan tak berguna seperti kamu.”
“Tia ingin meminta uang yang Mama pinjam. Karena Tia sebentar lagi tidak akan menjadi bagian dari keluarga ini.” Kata Tia dengan tenang. Gadis ini sudah menyiapkan hatinya dan berusaha untuk tegar. Dia tidak mau terlihat kalah dihadapan musuhnya,
“Uang yang Mama pinjam? Apa kamu tidak salah. Kamu sudah menumpang hidup dirumah ini. Masih berani-beraninya kamu berbicara seperti itu. Cepat pergi dari rumah ini. Dan jangan membawa barang apapun selain yang kamu pegang sekarang.”
Tia tidak membantahnya. Dia terlalu lelah untuk melanjutkan berdebat denga mertuanya yang selalu tidak mau kalah. Tia memalingkan wajahnya untuk melihat Gilang. Laki-laki itu sama sekali tidak berdiri dari duduknya.
__ADS_1
“Maaf, Kak Tia. Saya terlambat memperkenalkan diri.” Perempuan yang sedari tadi duduk disebelah Gilang berdiri dan mendekatinya. “Perkenalkan, nama saya Dera. Saya calon istri Mas Gilang berikutnya.”
Bagaikan tersambar petir disiang bolong, Tia membelalakkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Baru saja pernikahan mereka runtuh, tapi dalam hitungan jam Gilang sudah terang-terangan membawa penggantinya. Gilang bahkan tidak memperdulikan bagaimana perasaannya. Tia tidak membalas tangan Dera yang sedari tadi terulur ingin menjabatnya, gadis malang itu langsung berbalik dan berjalan kearah keluar rumah. Meninggalkan sekumpulan orang yang tak keji dan tak punya hati.
“Jangan lupa tutup pintu depan ya, Kak Tia.” Teriak Gaby dengan suara menyindirnya.
Didalam taksi, Tia masih merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Kehidupannya berubah hanya dengan satu malam. Hanya keheningan yang menyelimuti perjalanannya. Taksi itu melaju pasti kealamat tujuan yang Tia berikan. Beberapa saat yang lalu, Tia telah menghubungi Cindy. Sahabatnya itu telah menunggunya dirumah. Tia tidak tahu lagi harus kemana, karena saat ini dia tidak memiliki apa-apa. Bahkan rumah tempat tinggal.
Setelah Cindy membukakan pintu untuknya, Tia langsung menghambur kepelukan sahabatnya itu.
“Tidak apa-apa. Menangislah, keluarkan semuanya. Aku akan menjadi menampung kesedihanmu.” Jawab Cindy dengan iba. Dia mengusap punggung Tia yang sudah menangis sejadinya.
Setelah Tia menangis dipelukan Cindy untuk beberapa saat, Cindy mengajak Tia untuk duduk. Cindy membuatkan satu gelas teh hangat untuk menenangkan sahabatnya yang hampir kehabisan nafas karena tangisnya.
“Minumlah, dan tenanglah.” Cindy menyodorkan gelas untuk Tia minum.
__ADS_1
“Kamu tidak ingin bertanya apa-apa, Cind?”
“Kamu akan menceritakannya padaku jika kamu sudah siap. Sejujurnya aku ingin marah saat ini padamu, dan ingin sekali aku menyalahkanmu atas perbuatanmu dulu. Tapi aku akan melakukannya nanti. Jika kamu sudah tenang, dan kamu sudah bisa menerima amukanku.”
“Terimakasih, Cind. Memang hanya kamu yang bisa mengerti diriku.”
“Tanpa kamu bercerita, semua orang akan tahu apa yang kamu alami, Tia. Lihat barang bawaanmu! Aku turut sedih dengan apa yang menimpamu.” Cindy masih mencoba menenangkan Tia.
“Maaf, karena aku, kamu harus ijin dari kantor.”
“Tidak apa-apa. Lagi pula kondisiku juga kurang bagus akhir-akhir ini. Aku agak mual tiap pagi hari.”
“Mual? Jangan-jangan kamu hamil?” Tia berusaha bercanda agar sahabatnya tidak terlalu khawatir padanya.
“Yup, kamu betul. Aku memang hamil.” Jawab Cindy dengan enteng.
__ADS_1
“Apa!!!” Kejut Tia.