CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 27


__ADS_3

“Kamu sedang apa, sayang? Tanya Gilang kepada Tia yang sedang membuka-buka internet mencari artikel tentang program hamil.


“Hanya mencari-cari artikel tentang program hamil, Mas.” Tia menjawab tanpa menoleh pada suaminya.


“Mas???” panggil Tia.


“Hemm . . .” jawab Gilang seadanya karena dia sedang memperhatikan ponselnya.


“Bagaimana jika besok hasilku tidak sesuai keinginan kita?”


“Kamu harus percaya diri jika kamu sehat, Tia.” Jawab Gilang yang masih terfokus pada layar ponselnya.


“Tapi, jika tidak, bagaimana, Mas?” Tia memperhatikan suaminya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya di atas tempat tidur.


“Mas??? Mas Gilang???” panggil Tia beberapa kali karena tidak ada jawaban dari Gilang.


“Ya, sayang. Maaf, tadi Mas sedang membalas pesan.”


“Dari siapa?”


“Teman kerja, Mas. Tadi kamu tanya apa?”


“Tidak, Mas. Tia hanya memanggil Mas Gilang saja.”


Tia sekarang mulai merasa aneh dengan suaminya. Semenjak Gilang sering lembur, dia lebih berhati-hati dalam menyimpan ponselnya. Tidak seperti dulu yang diletakkannya sembarang tempat. Sekarang ponsel itu seperti menempel pada tubuhnya karena dimanapun dia berada, ponselnya selalu berada didekatnya.


“Mas?” Tia memanggil sekali lagi.

__ADS_1


“Ya, sayang.” Kali ini Gilang meletakkan ponselnya.


“Aku boleh meminjam HP Mas Gilang?”


“Boleh, nih.” Gilang menyodorkan HP nya.


“Boleh?” tanya Tia memastikan.


“Tentu saja. Memangnya kamu mengharapkan Mas tak meminjamkannya?”


“Bukan begitu.” Tia mendekati suaminya dan ikut berbaring disebelah Gilang.


“Tak jadi pinjam HP nya?”


“Nggak, ah. Tia mau meluk Mas Gilang aja.” Tia yakin jika kekhawatirannya tadi salah karena Gilang bersedia meminjamkan ponselnya langsung.


“Mas tak ikut tes?” tanya Tia.


“Mas sehat, kok. Mas yakin itu. Besok Mas akan mengantar Tia saja.”


“Oke. Minta cium!” Tia menaikkan wajahnya dengan manja. Sudah lama rasanya dia tidak bermanja-manja lagi dengan suaminya. Dengan mudah Gilang mencium kening Tia.


“Tidurlah, ini sudah tengah malam, Mas.”


“Tidurlah dulu, sini Mas peluk.” Gilang mengeratkan pelukannya dan membelai kepala Tia dengan lembut.


Esok paginya Gilang dan Tia pergi kerumah sakit dan membuat janji untuk menjalani tes kesuburan. Ada beberapa tahapan yang harus Tia jalani untuk mengetahui apakah Tia sehat atau ada gangguan kesuburan.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit, Gilang dan Tia dipanggil oleh perawat untuk masuk kedalam ruangan bertemu dokter. Gilang dengan setia menemani Tia melewati berbagai tahapan dari USG, Tes Ovulasi, sampai ke Tes Hormon. Walau ada beberapa tahapan yang dirasa nyeri karena harus memasukkan benda asing kedalam tubuh Tia pada HSG, itu semua Tia tahan dan jalani dengan harapan bahwa hasil yang akan dia dapat segalanya akan berbuah baik.


“Untuk hasilnya bisa kita dapatkan minggu depan ya, Bu Tia. Semuanya pasti baik-baik saja.” Penjelasan dokter yang menenangkan membuat Tia bernafas lega.


“Terimakasih, Dok.” Jawab Tia.


“Kira-kira sudah berapa lama kalian menikah?” tanya Dokter Rena kembali.


“Kami menikah sudah delapan bulan, Dok.”


“Oh! Baru delapan bulan. Kenapa terburu-buru untuk tes keseluruhan? Banyak pasangan yang satu tahun baru memiliki momongan, walaupun yang langsung hamil di bulan berikutnya setelah menikah juga banyak. Usia kalian bedua juga masih muda.”


“Ini karena permintaan mama saya, Dok.” Jawab Gilang.


Dokter Rena menghembuskan nafas beratnya, “Pak Gilang, masalah seperti ini bukan kita yang menentukan. Kita hanya bisa berusaha, jadi tolong lindungi istri Anda jika ada orang-orang yang menyakitinya dengan kata-kata, masalah belum dikaruniai seorang anak itu semua kehendak Tuhan. Sudah banyak kasus jika belum adanya momongan dalam pernikahan lalu wanitalah yang disalahkan. Padahal, itu membuat tekanan batin tersendiri bagi para istri.”


“Baik, Dok. Saya akan melakukan saran Dokter.”


“Baik, ada lagi yang mau ditanyakan Bapak dan Ibu? Jika tidak, saya ingin mempersilahkan pasien berikutnya untuk masuk.”


“Terimakasih, Dok.” Ucap Gilang sambil menjabat tangan Dokter Rena. Tia juga melakukannya dan mereka berdua keluar dari ruangan.


“Setelah ini kita mau kemana, Mas? Mau jalan-jalan atau menonton bioskop? Mumpung kita keluar berdua.” Ajak Tia dengan senyum lebarnya.


“Kita langsung pulang saja, ya sayang. Aku kelelahan. Kamu juga pasti lelah menjalani serangkaian tes tadi. Tak apa ya.” Gilang mengusap punggung Tia lembut.


“Baiklah jika Mas lelah. Kita langsung pulang saja.” Jawab Tia dengan memaksakan senyumnya yang sedikit kecewa.

__ADS_1


__ADS_2