
“Bunda???” Tia terkejut karena sapaan itu tidak asing ditelinganya. Rio pernah menyebut ibunya dengan sapaan itu.
“Iya sayang.” Jawab Tante Ajeng spontan. “Saya bahagia sekali kamu mau langsung memanggil Tante dengan sapaan Bunda.”
“Bukan, maksud Tia, Tia tadi . . .” Tia gelagapan karena takut dikira tidak sopan. Kepolosan itu membuat kedua tamunya tersenyum lebar.
“Sudah . . . sudah. Kasihan, Nda.” Ucap Om Gunawan pada istrinya yang masih tersenyum senang. “Tia, kami berdua adalah orang tua Rio yang baru saja datang dari Amerika. Maaf ya sengaja menjahili kamu.” Jelas Om Gunawan berikutnya.
“Panggil saja Bunda dan Ayah ya mulai sekarang. Maaf ya, Tia. Kami ingin mengenalmu secara langsung. Kami juga tahu kalau Rio sedang kerumah mamanya Raka. Karena kami yang meminta Kak Mega untuk memanggil Rio.”
Tia tidak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutannya, pantas saja laki-laki dihadapannya tampak familiar karena garis wajahnya yang diwariskan untuk Rio sangat jelas. Tia sempat merasa curiga tapi dia mengira jika orang tua Rio masih berada di Amerika dan tidak mungkin pulang ke Indonesia.
Brak . . . brak . . . suara pintu depan terbuka secara kasar.
“Bunda! Ayah!” seru Rio dari depan pintu. Dia berlari kecil dan langsung memeluk ayah dan bundanya yang sudah berdiri menyambutnya.
“Kenapa Ayah sama Bunda enggak ngabari Rio kalau pulang ke Indonesia? Pakai nyuruh tante Mega buat ngerjain Rio.”
“Kami cuma pingin lihat secara langsung menantu Bunda ini. Ternyata kamu memang nggak salah pilih, Rio. Tia cantik, perhatian dengan orang yang lebih tua.” Jelas Bunda Rio.
“Jelas, dong. Pilihan Rio pasti tak pernah salah.” Pelukan Rio beralih ke istrinya.
Tia tersenyum kaku karena masih terkejut dengan hal yang baru saja ia alami. Tapi beberapa menit selanjutnya, suasana sudah mencair karena candaan dan cerita dari orang tua Rio. Kedua orang tua Rio sangat baik dan dengan cepat dapat berbaur denga Tia. Dari perasaan canggung saat ini Tia bisa merasakan perasaan nyaman diantara orang yang baru saja dia temui.
“Tia mau kemana?” panggil Bunda Ajeng pada Tia yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
“Tia mau masak buat makan malam, Nda. Sebentar lagi jam makan malam. Bunda dan Ayah makan malam disini saja ya.”
__ADS_1
“Sudah, sudah. Kita makan malam saja diluar. Kamu duduk saja disini. Jangan bingung-bingung untuk masak.” Bunda Ajeng menarik tangan Tia untuk duduk kembali ketempatnya.
“Bunda dan Ayah tak mau istirahat dulu? Masih ada waktu sebelum makan malam. Siapa tahu Bunda dan Ayah mau berbaring dikamar.”
“Bunda mau ganti baju saja kalau begitu. Boleh Bunda masuk kekamar kalian berdua untuk berganti baju?”
“Bunda bisa masuk kekamar Tia. Kami belum satu kamar. Rio masih berusaha membawa Tia untuk pindah kekamar Rio.” Jelas Rio pada orang tuanya.
“Emmm . . . itu, karena . . .” Tia bingung cara menjelaskannya.
“Sudah, tidak apa-apa, Tia. Tidak perlu menjelaskan pada Bunda. Kalau begitu, Bunda boleh menumpang untuk berganti baju kekamar Tia?”
“Tentu boleh, Bunda. Mari Tia antar.” Tia menuntun didepan sedangkan para pria masih berada dibawah.
“Silahkan masuk, Bunda. Ini kamar, Tia.” Tia menunjukkan kamarnya yang selalu rapi.
Bunda Ajeng mendekati Tia dan mengajaknya duduk dipinggir tempat tidur. “Tia . . . kamu tahu? Bunda tidak akan menyalahkanmu terhadap apapun yang akan kamu putuskan. Ini hidupmu, Nak. Jadi Bunda dan Ayah akan menghargai semua keputusan yang kalian ambil. Baik itu untuk memulai pernikahan ataupun keputusan lanjutannya. Rio sudah bercerita sedikit tentang masa lalumu, dan Bunda mengerti betapa beratnya hidupmu.” Bunda Ajeng menggenggam tangan Tia.
“Tapi satu yang pasti. Rio itu adalah anak Bunda satu-satunya, jadi Bunda cukup tahu jelas bagaimana wataknya. Sejak dulu, Rio bukan seseorang yang bisa dengan mudah tertarik terhadap lawan jenis, walaupun dulu dia pernah memiliki seorang kekasih, tapi Bunda tahu jika Rio tidak pernah mencintai pasangannya dulu. Tapi denganmu berbeda, Tia. Rio bisa mengubah wajah dinginnya dan berubah lembut saat dihadapanmu. Padahal dulu Rio hanya bersikap seperti itu hanya saat berhadapan dengan Bunda ataupun Ayahnya saja.”
“Kamu tahu? Saat dia menceritakan tentangmu, anak laki-laki besar itu begitu bersemangat. Bunda belum pernah melihat Rio begitu bersemangat bercerita tentang seorang wanita. Hanya kamu Tia, hanya kamu yang bisa membuat Rio seperti itu. Dia sangat mencintaimu Tia. Dan Bunda rasa kamu tahu akan hal itu.”
Tia mengangguk pelan dan menyetujui pendapat dari mertuanya, “Tia tahu dan Tia sangat bersyukur dengan semua cinta dan perhatian yang Rio berikan pada Tia, Nda. Hanya saja, Tia ingin lebih memastikan perasaan Tia sendiri. Tia takut jika nanti Tia menyakiti perasaan Rio.”
“Dan . . . Tia juga merasa sangat bersyukur karena Bunda dan Ayah mau menerima Tia apa adanya.” Kedua mata Tia mulai berkaca-kaca.
“Jangan menangis, Sayang.” Bunda Ajeng memeluk Tia dan mengusap lembut punggung Tia, “Kami bukan orang tua kolot yang seperti banyak dicerita-cerita drama. Kamu tidak sendirian, Nak. Mulai sekarang, ada Rio dan ada kami sebagai orang tuamu. Kamu bisa bersandar pada Bunda dan Ayah jika dimasa depan Rio melakukan hal yang menyakitimu. Bunda akan pasang badan untuk melindungi anak perempuan Bunda.” Bunda Ajeng mengusap air mata Tia yang sudah membasahi pipinya. “Sudah, jangan menangis. Nanti Rio akan marah pada Bunda karena membuat istrinya menangis.”
__ADS_1
“Terimakasih, Nda.” Tia memeluk Bunda Ajeng sekali lagi.
“Iya, Sayang.” Pelukan dari Bunda Ajeng begitu menenangkan. Dalam hati Tia paling dalam, dia merasakan penuh rasa syukur karena telah mendapat orang tua yang menganggapnya bagaikan anak kandung.
“Bunda ganti baju dulu, ya. Setelah ini kita langsung keluar saja sekalian makan malam.”
“Iya, Nda. Tia juga akan bersiap.”
Setelah Tia dan Bunda Ajeng turun kembali kebawah, mereka berempat akhirnya pergi keluar untuk makan malam. Saat diperjalanan, Tia mendapatkan banyak informasi tambahan tentang masa remaja Rio. Sesekali Rio memprotes kedua orang tuanya karena menceritakan hal yang memalukan pada Tia. Bahkan sekarang Rio merasakan jika kedua orang tuanya lebih menyayangi istrinya dari pada ia anak kandungnya. Karena sejak tadi Bunda Ajeng selalu membela Tia.
Setelah sampai direstaurant, mereka berempat melanjutkan obrolan ringan sembari menyelesaikan makan malam. Rio memperhatikan Tia yang bisa tertawa lepas didepan orang tuanya tanpa ada rasa khawatir.
“Bunda dan Ayah tak mau menginap dirumah saja?” Tia mengungkapkan keinginannya.
“Kami langsung pulang saja kerumah kami. Sudah lama sekali kami tidak menjenguk rumah utama. Lagipula kami tidak mau mengganggu pasangan pengantin baru ya, Yah.” Goda bunda Ajeng.
“Iya betul. Kami juga belum bertemu keluarga besar lainnya. Tadi dari bandara kami langsung menuju rumah kalian. Sudah sekarang kalian pulang saja. Supir Raka sudah dalam perjalanan kesini untuk menjemput kami.”
“Bunda dan Ayah memang yang terbaik.” Balas Rio senang.
“Kamu kira kami tak tahu? Kami dulu kan pernah muda, Rio.” Jawab Ayah Gunawan sambil melepaskan tawanya.
“Kalau begitu kami duluan ya, Nda, Yah.” Rio berpamitan.
“Iya. Hati-hati dijalan, ya. Jaga baik-baik anak perempuan Bunda. Ingat! Jangan pernah kamu membuat anak perempuan Bunda ini menangis. Awas aja kalau sampai dia menangis.” Ancam Bunda Ajeng pada anak laki-lakinya.
“Rio janjikan hal itu tak akan terjadi, Nda. Kalau begitu kami pamit dulu.”
__ADS_1
“Daa . . . hati-hati.” Ayah dan Bunda Ajeng melambaikan tangan pada anak dan menantunya yang mulai memasuki mobil.