CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 8


__ADS_3

Siang itu Tia sedang menyiapkan bahan untuk rapat, ada seseorang yang sedang mengetuk pintu ruangannya. Didapatinya lelaki pujaannya sudah berdiri didepan ruangan.


“Gilang??? Masuklah!”


“Hallo, sayang. Bagaimana kabarmu hari ini?”


“Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik-baik saja.” Jawab Tia.


“Aku sudah mendengar jika kamu hari ini sudah mengajukan resign kepada atasan. Aku tahu kamu pasti sangat menderita karena keegoisanku.” Wajah Gilang memancarkan aura kesedihannya.


Tia yang mengetahui jika Gilang merasa bersalah karena keputusannya, dia menggenggam kedua tangan Gilang yang berada diatas meja. “Aku baik-baik saja, selama kamu tetap mencintaiku dan selalu bersamaku, Lang.”


“Terimakasih, Tia.”


“Jangan selalu berterimakasih padaku. Terkadang suatu hal memang perlu dilakukan tanpa mengharapkan ucapan terimakasih. Cukup selalu buktikan saja rasa cintamu padaku.” Tia menjelaskan.


“Bolehkah aku menciummu? Aku sangat ingin melakukannya sekarang.”


“Jangan gila, Gilang. Kita dikantor. Walau mereka semua tahu jika kita akan menikah, kita tetap harus menjaga kesopanan ditempat umum.”


“Baiklah Nyonya, perkataanmu adalah perintah untukku. Tapi hanya mengecup tanganmu, tidak melanggar hukum bukan?” Gilang mengecup tangan yang sedari tadi digenggamnya.


“Dasar kamu! Aku harus rapat setelah ini.”


“Baiklah, selesaikan pekerjaanmu. Karena persiapan pernikahan kita akan sebentar lagi dimulai. Mama akan memberikan tanggalnya besok. Aku akan kembali kemeja kerjaku.” Gilang berpamitan dan keluar dari ruangan Tia dengan senyum lebarnya.


“Siang semua!” Sapa Tia saat dia memasuki ruang rapat yang sudah dihadiri oleh seluruh tim nya.


“Siang, Bu.”


“Cindy?” Tia terkejut karena Cindy juga berada didalam ruang rapatnya.


“Yap, aku disini. Karena nanti yang akan meneruskan semua pekerjaanmu dan mengambil alih tim mu untuk sementara adalah aku. Setidaknya itu yang kutahu dari Pak Raka, melalaui Bagas tentunya.”


“Tapi Pak Raka memintaku untuk menyelesaikan terlebih dulu proyekku ini.” Jelas Tia.


“Itulah kebaikan direktur kita. Beliau berkata bahwa dirimu pasti akan sibuk juga dengan persiapan pernikahan, jadi Pak Raka memperbolehkanmu keluar saat proyek ini sudah berjalan. Dan aku yang akan menyelesaikannya.” Jawab Cindy.


“Betulkah??? Ternyata kalian semua baik padaku.” Tia menghampiri Cindy dan memeluknya.


“Terimakasih juga dengan kalian semua yang sudah bekerja denganku selama ini. Begitu banyak kenangan kita, aku tak akan melupakannya.” Mata Tia sudah mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Beberapa anggota tim yang mayoritasnya adalah perempuan berdiri dari tempat duduknya dan menghambur kepelukan Tia. Mereka ingin melepas pimpinannya dengan senyuman. Bagaimanapun mereka tidak akan bisa mencegah Tia untuk mundur dari kebahagiaan yang dia inginkan. Sedangkan yang pria, hanya berdiri ditempat sambil menunggu dan berjabat tangan dengan Tia. Setelah sesi perpisahan yang diadakan sedikit lebih awal dengan penuh rasa haru, mereka melanjutkan rapat yang dipimpin oleh Tia.


Telah dua minggu berlalu, Tia terus mengejar penyelesaian rencana proyek tersebut, karena dia sudah mulai menyiapkan keperluan pernikahannya, dan proyek juga bisa mulai berjalan, maka dia dengan tenang bisa memberikan proyek itu kepada Cindy dan tim nya, Tia juga secara resmi keluar dari perusahaan.


“Tia, kamu sudah datang?” tanya mama Ratna.


“Iya, Ma. Tia sudah resmi resign dari kantor. Jadi bisa kesini lebih awal.”


“Baguslah. Yuk kita pilih-pilih perlengkapan untuk pesta pernikahan kalian. Mama sudah memanggil Wedding Organizer kesini.” Ajak mama Ratna untuk menuju ruang keluarga.


“Tapi Gilang belum pulang, Ma. Apa tidak apa-apa kita memilihnya sendiri tanpa pendapat dari Gilang?” tanya Tia saat dia mengikuti mama Ratna menuju ruang keluarga.


“Dia anak laki-laki, Tia. Gilang tidak akan mengeluhkan apapun selama semuanya lancar.” Jelas mama Ratna.


“Selamat pagi Bu Ajeng.” Sapa mama Ratna kepada WO pilihannya yang bergaya khas Jawa.


“Selamat pagi, Jeng Ratna. Ini kah calon menantunya?”


“Betul, ini calon menantu saya. Hari ini saya serahkan semuanya kepada Bu Ajeng, saya tinggal tahu beres.” Ucap mama Ratna.


“Tentu saja, serahkan semuanya pada saya.” Jawab perempuan yang tubuhnya lebih gemuk dibanding dengan dua orang lainnya itu.


“Saya mau yang sederhana saja, Bu. Tidak perlu terlalu mewah.” Jawab Tia.


“Jangan begitu Tia, walau papanya Gilang sudah meninggal, tapi kita juga dari keluarga berada. Apalagi Gilang anak pertama, jadi pestanya harus mewah. Tidak bisa kalau sederhana.” Sanggah mama Ratna.


“Betul nggak Bu Ajeng?” tanya mama Ratna mencari pendukung.


“Yah, itu semua tinggal dari kemauan calon pengantin dan juga keuangannya, Mbakyu.” Bu Ajeng berusaha menjawab secara bijak.


“Mbakyu? Siapa dia?” tanya mama Ratna kebingungan.


“Mbakyu itu kalau dijawa, sebutan untuk orang perempuan yang lebih tua dari kita. Atau disebut juga kakak kalau disini.”


“Oh, begitu. Tapi maaf ya, Bu Ajeng. Sebutan itu tidak cocok dengan penampilan saya. Jadi panggil saja saya seperti tadi.” Perintah mama Ratna.


“Baik, Jeng Ratna.” Jawab Bu Ajeng dengan sedikit canggung.


“Kalian lanjutkan dulu berdua, saya mau kedapur dulu.” Mama Ratna setelah berpamitan langsung melangkahkan kakinya kedapur untuk mengambilkan minuman untuk tamunya.


“Maaf ya, Bu Ajeng. Mama tidak bermaksud kasar dengan Bu Ajeng.” Tia mengucapkan permohonan maaf atas nama calon mertuanya.

__ADS_1


“Kamu anak yang baik, Nduk. Perjalananmu kedepan pasti tidak mudah dengan calon mertua yang seperti itu.”


“Semoga semuanya baik-baik saja, Bu. Saya minta doanya.” Permintaan Tia dibalas dengan anggukan pasti dari Bu Ajeng.


“Ya sudah, kita lanjutkan persiapan pernikahanmu ya. Jadi bagaimana, mau yang sederhana atau sesuai keinginan calon ibu mertuamu?” tanya Bu Ajeng memastikan.


“Kita ikut saja permintaan dari mama Ratna ya, Bu. Saya tidak mau beliau kecewa.”


Setelah jawaban dari Tia, Bu Ajeng menunjukkan semua model gaun, dekorasi ruangan, dan juga menu-menu makanan. Dari kesemua itu, Tia memutuskan untuk memilih yang terbaik, dan karena semuanya yang terbaik sehingga hargapun ikut meninggi. Tia tidak mau calon mertuanya kecewa padanya.


“Bagaimana, apa sudah selesai semua persiapannya?” tanya mama Ratna saat sudah kembali dan membawa tiga teh hangat.


“Tinggal gedungnya saja dan jumlah tamu undangan. Setelah itu saya bisa menghitungkan kira-kira total semuanya.”


“Saya mau digedung A, dan tamu yang akan saya undang sebanyak 1000 orang.” Jawab mama Ratna tanpa basa basi.


“Ma, gedung itu bukannya terlalu besar? Dan undangan sebanyak itu, Ma?”


“Iya, Tia. Kita harus mengundang semua keluarga, tetangga, dan orang-orang yang mengenal kita. Sudah, sekarang bagian mama yang menentukan.”


“Sini coba saya lihat Bu Ajeng, apa saja pilihan Tia?” mama Ratna meminta ditunjukkan yang sudah Tia pilih.


“Calon menantu Jeng Ratna ini, karena tidak ingin mengecewakan calon ibu mertuanya, dia memilih sesuai keinginan Jeng Ratna sendiri. semua yang dipilihnya yang berada dinomor satu.”


“Bagus. Ini juga demi dia dan Gilang. Memang harus yang terbaik bukan?”


Mama Ratna mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum lebar saat ditunjukkan semuanya yang menjadi pilihan Tia, dari gaun pengantin dan keluarga, menu-menu makanan yang bervariasi, dan juga dekorasi ruangan yang terlihat sangat mewah. Blanko undangan yang dipilih oleh Tia juga merupakan yang paling termahal.


“Untuk baju keluarga, tambahkan lagi sepuluh ya, Bu Ajeng. Untuk saudara sepupu Gilang. Nanti biar saya suruh mereka datang ke butik untuk diukur.”


“Oke, saya tambahkan ke perhitungan biaya.” Setelah beberapa saat Bu Ajeng memperhitungkan anggarannya, Bu Ajeng menyodorkan kertas yang sudah dipenuhi oleh angka.


“Gaun pengantin untuk akad dan pesta ada 4 kali pergantian, untuk orang tua dan kelurga juga dua model dikali dengan dua belas orang, tujuh menu makanan untuk seribu orang, dan juga dekorasi untuk lebar ruangan gedung A, semua ini dikisaran dua ratus lima puluh juta rupiah.”


“Baik, saya setuju!” mama Ratna langsung menyetujuinya.


“Pembayaran DP sebesar 50% ya, Jeng Ratna.”


“Tentu saja kami mampu dengan harga itu. Tia, tolong bayar DP nya ya, dan lakukan pelunasan saat menjelang hari pernikahan.” Ucap mama Ratna.


“Tia, Ma?” gadis itu terkejut dengan kalimat yang baru saja dia dengar.

__ADS_1


__ADS_2