
“Akhirnya selesai juga acara hari ini.” Kata Gilang saat mereka sudah sampai dirumah setelah acara satu hari penuh yang cukup menyita tenaga dan pikiran.
“Aku ingin mandi dulu, Lang. Rasanya sangat lengket.”
“Masuklah dulu. Aku akan mengemas beberapa barang yang kita dapat dari teman-teman saat pesta tadi.” Gilang mengantarkan Tia masuk kedalam kamarnya dan beranjak keluar lagi untuk membenahkan barang yang sedikit beserakan karena tidak ada ruang cukup untuk menaruhnya didepan teras setelah mereka menurunkannya dari mobil.
“Tia kemana, Lang? Kenapa kamu sendirian yang membenahkannya?” tanya mama Ratna.
“Tia mandi, Ma. Tenaganya terkuras habis untuk hari ini. Biar Gilang sendiri yang membereskannya.”
“Tapi kamu kan juga capek hari ini, Lang. Kenapa dia jadi tidak pengertian setelah kalian menikah.” Mama sedikit marah.
“Jangan begitu, Ma. Harusnya kita bersyukur dengan semua ini, karena kita tidak mengeluarkan uang sedikitpun. Semuanya Tia yang mengeluarkan.” Jawab Gilang dengan lembut karena tidak mau mamanya tersinggung ataupun marah.
“Tapi ini kan juga untuk dirinya sendiri, untukmu juga yang menjadi suaminya.”
__ADS_1
“Maaa . . . sudah, ya. Lebih baik Mama masuk kekamar dan istirahat ya. Mama juga pasti capek hari ini.” Gilang memeluk lembut mamanya dan berusaha membujuknya.
“Ya udah, Mama masuk dulu. Adikmu juga sudah tidur nampaknya.”
“Beristirahatlah, Ma. Selamat malam.” Gilang memberikan ucapan dan senyuman yang lembut kepada orang tua satu-satunya yang sangat dia hormati.
Setelah ayahnya meninggal, satu-satunya harapan tempatnya berbakti hanyalah pada mamanya, karena dia merasa belum cukup berbakti kepada ayahnya. Dia tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya karena tidak memperlakukan orang tuanya dengan lebih baik, karena umur adalah rahasia dari Tuhan. Maka dari itu Gilang sangat mendengarkan apa yang diinginkan oleh mamanya.
“Kamu sudah mandi, sayang?” tanya Gilang saat dia memasuki kamarnya yang sudah dipenuhi oleh mawar merah yang memenuhi tempat tidurnya.
“Tentu saja. Ini adalah malam pertama kita bersama, aku ingin memberikan kesan yang sangat berharga untuk hal yang akan menjadi pengalaman pertama bagi kita berdua.” Gilang berjalan dan mendekati Tia. Dia memeluknya dan mengecup keningnya. Saat Gilang ingin mendaratkan ciumannya, Tia mencegahnya dengan menutup bibir Gilang dengan jari telunjuknya.
“Mandi dulu, Lang.” saran Tia dengan malu-malu.
“Tunggu aku, sayang. Aku akan segera datang padamu.” Kata Gilang sembari dia menghilang dibalik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Gilang muncul dengan hanya mengenakan handuk dan rambut yang masih sedikit basah. Dengan senyum menawan dan setangkai mawar yang bertengger diujung mulutnya, dia mendekati Tia yang sudah duduk diatas tempat tidur.
“Setangkai mawar merah untuk kekasih pujaan hati.” Gilang menyerahkan mawar merahnya dan diterima oleh Tia.
“Jangan menatapku seperti itu, aku malu.” Ucap Tia.
“Kenapa malu? Aku ingin menatap dalam-dalam perempuan yang sekarang menjadi istriku.” Gilang terus saja memandangi wajah Tia tanpa henti. Hal itu membuat istrinya salah tingkah.
“Sudah cukup, Lang.” Tia mendorong Gilang dengan lemah lembut.
“Aku akan berhenti jika kamu memberikanku sebuah ciuman.” Pinta Gilang pada perempuan dihadapannya yang saat ini terlihat malu.
Dengan perlahan Tia mendekatkan wajahnya kearah suaminya dengan malu-malu. Padahal ini bukanlah ciumannya yang pertama dengan Gilang, tapi saat ini mereka berada pada hubungan yang berbeda, membuatnya berdebar-debar tak karuan.
Dengan lembutnya kedua insan yang saling mendamba itu bersatu dalam kecupan. Perlahan ciuman itu berubah menjadi dalam, hembusan nafas semakin memburu, ada perasaan lain yang timbul didalam diri yang selama ini selalu berhasil ditekan, tapi malam itu keduanya melepaskan semua hasrat yang sudah tersimpan selama beberapa tahun. Gilang dan Tia menyatu dalam satu kenikmatan duniawi yang tiada tara.
__ADS_1
*Mohon maaf tidak dijelaskan secara rinci apa yang terjadi, takut kena sensor ^_^ silahkan lanjutkan berimajinasi.