CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 12


__ADS_3

Gilang dan Tia berjalan beriringan menyisiri bibir pantai, sambil bergandengan tangan dan menikmati tiupan angin yang sepoi-sepoi, terkadang Gilang menjahili Tia dengan berpura-pura mendorongnya ketengah ombak yang memecah kepinggir pantai. Tia harus menggulung celana jeansnya agar tidak basah karena kejahilan Gilang yang tiba-tiba.


“Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku, bahkan hari ini kamu tetap diam.” tanya Gilang saat mereka masih berjalan perlahan menyisiri pinggir pantai.


“Hmmm? Apa itu?” tanya Tia bingung.


“Beberapa hari yang lalu tepatnya dua minggu yang lalu kamu dan mama memilih semua persiapan pernikahan kita, kan?”


“Betul. Apa ada yang tidak sesuai dengan keinginanmu?”


“Ada. Ketidakjujuranmu yang tidak kusukai.”


“Aku? Tidak jujur padamu? Aku tidak pernah berbohong padamu sekalipun, Lang.” Tia sekarang mengehentikan langkahnya dan memandangi sosok lelaki yang berdiri dihadapannya. Dia memikirkan hal apa yang membuat Gilang berfikir bahwa ia berbohong.


“Kenapa kamu tidak mengatakan padaku jika mama memaksamu untuk membayar semua keperluan pesta pernikahan kita?”


“Apa mama mengatakan jika beliau memaksaku?” tanya Tia lagi.

__ADS_1


“Tidak. Tapi dari cerita yang kudengarkan, aku yakin jika mama pasti memaksamu. Karena tidak ada pembicaraan tentang hal ini sebelumnya.” Gilang mengajak Tia berjalan menuju tempat yang teduh.


“Apakah bisa dibatalkan? Bagaimana jika kita mengadakan pesta pernikahan yang sederhana saja. Tidak seharusnya kamu yang membayarnya, itu adalah tanggung jawabku. Tapi aku tidak mampu harus membayar sebesar itu.”


“Itu semua keinginan mama, Lang. Aku sama sepertimu, ingin pesta yang sederhana saja. Tapi mama menghendaki pesta yang sangat mewah. Dan aku tak mampu menolaknya.” Tia menyamankan posisi duduknya dibawah pohon yang rindang.


“Jujur aku sangat terkejut saat tahu jika aku yang harus membayar semuanya. Tapi setelah kupikir-pikir, aku tidak mau mencari masalah dengan mama. Aku ingin hidup nyaman dengan mama dan Gaby dirumah itu. Mereka juga adalah orang tuaku dan adik perempuanku.”


“Tapi uang sebesar itu bisa kita gunakan untuk kebutuhanmu yang lain.”


“Sudah Gilang, semua sudah terjadi. Kita tinggal melalui saja yang sudah ada. Dan menata masa depan.”


“Apa mama juga memintamu untuk tinggal dirumah itu?”


“Iya. Kita harus tetap tinggal disitu karena mama dan Gaby keduanya adalah perempuan. Tidak ada laki-laki lain yang menjaganya selain kamu. Jadi aku tidak mungkin memonopoli anak laki-laki satu-satunya dikeluarga itu.”


“Kamu sungguh gadis yang luar biasa. Di umurmu yang baru 25 tahun, tapi kedewasaanmu sungguh mengagumkan.” Gilang mengusap lembut rambut Tia.

__ADS_1


“Jangan ragu untuk mengeluh dan mengatakan padaku jika dimasa depan mama ataupun Gaby bertindak berlebihan kepadamu. Kamu harus tau, jika aku akan selalu ada untukmu.”


“Terimakasih, Lang.” Tia menampilkan senyum terindahnya.


“Oh, iya. Besok Senin bisa menjemputku? Aku akan kekantor untuk memberikan undangan.”


“Sudah jadi undangannya? Cepat sekali!”


“WO yang kita pakai memang tepat. Bu Ajeng sangat professional. Dari gedung dan semuanya sudah siap. Besok minggu kita akan mencoba baju untuk pernikahan kita nanti.”


“Oh, pantas saja. Kemarin ada beberapa orang yang datang kerumah untuk memastikan hasil akhir baju yang akan dipakai mama, Geby dan juga para sepupu. Kamu harus tahu jika kemarin sangat ramai sekali dirumah. Untung saja Jumat kemarin aku bekerja, tapi aku bisa mengetahuinya saat Gaby melakukan panggilan video saat kegaduhan terjadi dirumah.”


“Hemm . . . sudah jadi baju mereka? Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Aku kan juga ingin berkumpul dengan keluarga yang lain.” Tanya Tia.


“Jangan bersedih. Nanti kamu juga akan bertemu dengan mereka semua, dan punya banyak waktu untuk mengenal mereka. Rumah keluargaku yang lainnya tidak jauh dari rumahku.”


“Aku tidak bersedih, selama ada kamu disisiku.” Tia mengecup punggung tangan Gilang.

__ADS_1


“Tuh kan! Kamu sekarang sangat pandai melakukan sesuatu hal yang membuatku selalu berdebar. Dari mana saja kamu belajar hal seperti ini? Kamu memang yang terbaik.” Gilang dan Tia tertawa bersama menghabiskan hari yang menyenangkan dan membahagiakan bagi mereka berdua.


__ADS_2