CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 48


__ADS_3

Rio menarik tubuh Tia dengan paksa dan memeluknya dengan erat. Tia terus saja meronta ingin melepaskan pelukan Rio tapi lagi dan lagi usahanya tidak membuahkan hasil.


“Lepaskan Tia, Pak Rio!” Gilang mendorong tubuh besar Rio sampai laki-laki itu mundur beberapa langkah.


“Untung saja aku mengikutimu kesini, Tia. Jika tidak . . . “ Gilang menyentuh kedua pundak Tia.


“Lepaskan aku, Gilang!” perintah Tia.


“Kenapa, Tia? Atau sebenarnya kamu memang bahagia saat dipeluk oleh Pak Rio?” wajah Gilang mengisyaratkan kekecewaan.


“ Aku tidak mau dipeluk oleh Pak Rio, tapi aku juga tidak mau disentuh olehmu.”


“Kenapa, Tia? Aku saat ini masih menjadi suamimu.”


“Tidak akan lagi, Gilang. Dua hari lagi, keputusan pengadilan akan keluar, dan kita berdua akan benar-benar berpisah. Harusnya kamu lebih banyak bertanya dengan pengacaramu tentang kemenangan pengacaraku dalam persidangan. Permisi.” Tia pergi meninggalkan kedua laki-laki itu.

__ADS_1


“Beraninya kamu mendorongku.” Rio berusaha menekan emosinya agar tidak memukul Gilang saat dikantor.


“Saya hanya membela istri saya!” jawab Gilang dengan angkuh.


“Istri? Dua hari lagi dia akan beralih menjadi mantan istrimu, Gilang. Dan terimakasih kamu sudah meninggalkannya, karena selanjutnya akulah yang akan melindunginya selamanya.” Rio pergi meninggalkan Gilang dengan senyum sinisnya.


Gilang merasakan amarah dan memukul tembok yang ada disebelahnya. Dia meratapi kebodohannya karena telah menghianati Tia. Karena saat ini Dera sudah menjadi perempuan menyebalkan dimatanya. Perempuan itu terlalu banyak menuntutnya untuk memberikan kehidupan yang mewah, Dera juga tidak pernah menghormati mamanya dan selalu bertindak seenaknya saat dia berkunjung dirumah Gilang. Hampir setiap hari Dera berbelanja online menggunakan kartu kredit Gilang, hal itu membuat tagihan membengkak dan membuat Gilang kalang kabut saat waktu membayarnya. Semua yang dilakukan Dera bertolak belakang denga Tia dulu. Itulah yang membuatnya menyesal telah meninggalkan Tia.


- - -


Diruangannya, Rio menekan nomor kontak yang tersimpan diponselnya. Perlu waktu untuk tersambung karena seseorang yang dihubunginya memang sangat sibuk.


“Aku perlu bantuanmu.”


“Aku sedang sibuk, Rio. Nanti saja kita bicarakan.”

__ADS_1


“Sebentar saja, tolong. Aku memerlukan bantuanmu segera. Ini tidak akan lama.”


“Baiklah, apa yang bisa kubantu.”


“Aku sedang mendekati seorang perempuan, semua perhatian telah kucurahkan padanya, tapi dia selalu saja menghindar dan menolakku.”


“Apa kamu marah padanya untuk hal-hal kecil, misalnya kamu cemburu saat dia berinteraksi dengan laki-laki lain?”


“Tentu saja aku marah. Dia saja jarang tersenyum padaku, tapi jika berhubungan dengan laki-laki lain, senyum dibibirnya itu tidak pernah berhenti melengkung.”


“Lalu?”


“Dia marah padaku.”


“Umurmu saja yang tahun ini sudah genap 31 tahun, tapi pemikiranmu masih seperti anak remaja, tidak tahu apa-apa. Jangan berikan perempuan yang kamu cintai itu sebuah kekangan, berikan dia kebebasan. Jangan begitu jelas mengejarnya secara terang-terangan, tidak semua perempuan suka dikejar-kejar. Terkadang hal itu akan membuat mereka lebih takut padamu dan akhirnya berakhir dengan menjaga jarak. Beradalah disisinya sebagai teman, posisikan dirimu sebagai pendengar yang baik, aku yakin kamu akan bisa lebih mudah mendapatkan hatinya.”

__ADS_1


“Kamu yakin?”


“Kamu meragukanku? Jika meragukanku, untuk apa menghubungiku! Mengganggu saja, aku harus pergi dulu. Aku sudah cukup sibuk dengan pekerjaanku, jangan menggangguku lagi jika tidak penting.” Seseorang dari seberang sana memutuskan panggilan secara sepihak. Rio merenungkan ucapan yang diutarakan oleh seseorang yang dihubunginya tadi. Rio memang menyadari jika dia salah karena terlalu memaksakan kehendaknya, tapi hatinyalah yang tidak bisa diajak bersabar saat dia melihat Tia akrab dengan laki-laki lainnya.


__ADS_2