CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 71


__ADS_3

“Kamu sudah mandi?” tanya Tia ditengah sarapannya.


“Lihatlah!” Rio menunjukkan bajunya yang sudah berganti sebelum Tia masuk kedalam kamarnya tadi. “Aku pria yang perduli pada kebersihan, Tia!” jelasnya.


“Apa yang akan kamu lakukan hari ini?” tanya Rio.


“Aku hanya ingin bersantai didalam kamarku sambil membaca novel.”


“Ide bagus. Kita memang perlu beristirahat dari segala pekerjaan.”


“Apa kamu akan ikut kekamarku?” tanya Tia khawatir.


“Kamu menolakku lagi?” Rio menghentikan makannya.


“Boleh, boleh. Kamu boleh masuk kamarku. Sekarang makanlah lagi sarapanmu. Jangan membuang-buang makanan.” Pinta Tia


“Tapi mungkin hari ini akan terasa sejuk. Lihat saja keluar, mendung sudah begitu gelap.”


“Tidak masalah. Toh, kita juga ada didalam rumah. Semakin dingin semakin menyenangkan. Itu tandanya kita bisa saling menghangatkan.” Jawab Rio dengan senyum manisnya.


“Apa katamu?”


“Aku akan memasang penghangat dikamarmu jika hari ini sangat dingin.”


“Tidak perlu menggunakan penghangat. Suasana dingin berkat hujan itu sangat menyenangkan, terasa sejuk dan membuat kantuk.”

__ADS_1


“Betul. Aku setuju.”


“Kamu terus menyetujui semua pendapatku sejak tadi.”


“Karena memang seperti itu.”


Hujan mulai turun dan membasahi seluruh benda yang ada didaratan. Hujannya cukup deras tapi tidak ada petir yang mengiringinya.


“Lihatlah! Hujan sudah turun sepagi ini.”


“Betul sekali. Berikan padaku piringmu jika kamu sudah selesai makan.” Pinta Tia.


Rio memberikan piringnya dan menunggu Tia memasukkan piring-piring kotor itu kemesin pencuci piring.


“Aku akan naik kekamarku.”


Merasa ada seseorang yang akan menagih janjinya, membuat wajah Tia merona. “Kenapa dengan wajahmu? Apa kamu demam?”


“Tidak, aku baik-baik saja.” Tia mulai berjalan menghindari Rio.


“Apa kamu malu?” goda Rio yang mulai mengekor dibelakang Tia.


“Tidak. Kenapa aku harus malu.” Tia mulai berlari kecil menaiki tangga. Berusaha menghindari Rio.


“Jangan berlari, Tia, kamu bisa jatuh. Awas . . .” belum selesai Rio memberikan peringatan, Tia sudah terpeleset dan untung saja Rio dengan cekatan menahan tubuh Tia yang hampir terjungkal dihadapannya.

__ADS_1


“Kamu tidak apa?” tanya Rio khawatir.


“Aku tidak apa-apa.” Jawab Tia yang masih terkejut.


“Untung saja ada aku yang ada dibelakangmu. Bagaimana jika tidak. Kamu harus lebih berhati-hati.” Rio menggendong tubuh Tia.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Aku akan mengantarkanmu kekamarmu. Kakimu pasti sakit karena sempat terpeleset.” Rio menggendong tubuh Tia dengan mudah.


Sesampainya dikamar, Rio menurunkan Tia diatas tempat tidur.


“Ada yang ingin aku tanyakan, Rio. Aku sudah lama ingin menanyakan hal ini.”


“Hmm? Apa yang ingin kamu ketahui dariku.” Rio ikut duduk diatas tempat tidur.


“Kenapa kamu mau menuruti semua keinginanku?”


“Karena aku mencintaimu, Tia. Aku tidak ingin kehilanganmu. Jadi, disaat kamu belum yakin atas perasaanmu padaku, aku ingin menciptakan rasa aman dan nyaman berada disisiku. Yah, walaupun terkadang aku harus melanggarnya seperti pagi ini. Itu kulakukan karena aku ingin selalu berada disisimu.”


“Kenapa kamu mencintaiku? Apa bagusnya diriku? Kamu tahu sendiri jika aku pernah gagal dalam membina rumah tangga.”


“Cinta tidak memerlukan alasan, Tia. Dan kegagalanmu itu masa lalumu, Tia. Aku tidak akan memintamu untuk melupakannya, tapi aku pastikan, masa depanmu akan penuh dengan kebahagiaan bersamaku. Aku tergila-gila padamu.” Rio mendekatkan wajahnya ke Tia. “Aku selalu menjadi orang bodoh setiap berada didekatmu, aku tak mampu untuk menutupi rasa cintaku padamu, aku sendiri terkejut dengan sifat kekanak-kanakanku ini. Tapi inilah aku, Tia. Aku yang sangat mencintaimu.”


Rio menatap kedua mata Tia, dia yakin jika saat ini kedua mata itu hanya tertuju padanya. Dengan memberanikan diri, Rio mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Tia yang lembut. Dia menciumnya dengan perlahan dan menunggu reaksi yang Tia berikan. Sepersekian detik berikutnya, Rio merasakan kebahagiaan saat ciumannya itu mendapatkan balasan dari istri yang dicintainya.

__ADS_1


Tia mengimbangi ciuman yang Rio berikan. Tangannya sudah melingkar dileher suami tampannya itu, sedangkan Rio telah merekatkan pelukannya sehingga membuat kedua tubuh itu tiada jarak.


__ADS_2