
“Apa yang kalian bicarakan tadi selepas kita makan malam?” tanya Tia pada Cindy.
“Dia sangat bahagia dan berterimakasih padaku karena mau menerimanya. Padahal yang seharusnya berterimakasih adalah diriku. Dia sudah mau menerima perempuan rusak sepertiku.”
“Hustt . . . jangan pernah berkata seperti itu. Jika kamu berfikir dirimu seperti itu dimasa lampau, berarti sekarang waktunya kamu memperbaiki dirimu untuk saat ini dan dimasa depan. Tapi kamu tetap sosok yang paling baik dimataku. Kamu selalu menjagaku selama ini.” Tia menggenggam kedua tangan Cindy.
“Terimakasih, Tia. Kamu selalu mendukungku dan tidak pernah meninggalkanku.”
“Jangan mengucapkan terimakasih lagi, kamu terlalu sering mengucapkannya akhir-akhir ini, Cindy.”
Tia memberikan bantal dipunggung Cindy agar sahabatnya itu bisa bersandar diatas ranjang dengan nyaman.
“Lalu, bagaimana rencana kalian berikutnya?”
“Aku menginginkan untuk menikah di sini, dan Yose menyetujuinya. Jadi Yose akan mengurus beberapa dokumen agar bisa melaksanakan pemberkatan disini. Aku hanya akan mengundang beberapa teman saja, sedangkan keluarga . . . keluargaku hanya kamu Tia. Mereka semua sudah membuangku sejak lama. Aku tidak ingin melibatkan mereka, lagipula mereka pasti tidak akan mau menghadiri pernikahanku nanti.”
“Kamu belum mencobanya, Cind.”
“Sudah. Dulu aku pernah mencoba untuk kembali dalam keluarga besarku. Aku mengundang mereka untuk makan malam saat aku naik jabatan sebagai manager. Semua sudah kusiapkan, makanan, aku bahkan menghias rumahku. Tapi tidak ada satupun yang datang, bahkan sekedar memberikan kabar jika mereka tidak bisa hadir pun, tidak. Apalagi kalau mereka sampai tahu jika aku saat ini hamil diluar nikah.” Ekspresi Cindy begitu sendu jika membicarakan keluarganya.
“Maafkan aku, Cindy. karena membuat suasana hatimu semakin buruk. Harusnya kamu bahagia malam ini karena kamu akan melepas lajangmu dan mendapatkan seseorang yang baik disampingmu. Aku akan tenang melepaskanmu pada Yose. Dari yang kulihat, dia pria yang baik.”
“Semoga penilaianmu terhadapnya benar.” Jawab Cindy.
__ADS_1
“Paling tidak itu yang bisa kutangkap saat mendengar cerita darimu jika dia mau bertanggung jawab. Dan saat kita mengobrol tadi. Nampak dimatanya jika dia sangat memperhatikanmu, Cind.”
“Sejujurnya dia selalu menggunakan berbagai cara untuk mendekat padaku beberapa minggu ini. Apalagi setelah dia tahu jika aku sedang hamil. Aku saja yang masih berada dipersimpangan jalan. Aku masih ragu. Tapi semenjak kamu mengutarakan pendapatmu, Tia, aku menjadi yakin jalan yang harus aku tempuh. Aku harus menerima diriku dengan mencoba membuka hatiku untuk sebuah komitmen. Dan dengan Yose, aku ingin mencobanya.”
Dalam cahaya lampu yang temaran, Tia dan Cindy saling tersenyum. Sudah lama sekali mereka tidak pernah berbicara panjang lebar seperti malam itu. Mereka berdua hadir untuk saling menguatkan satu sama lain. Walaupun mereka berdua berada pada kondisi yang hampir sama, mereka bisa membuktikan bahwa mereka bisa sukses dengan segala kerja keras. Walaupun saat ini, Tia harus memulainya kembali dari bawah.
“Besok aku akan mencari kerja setelah mengantarmu ke kantor, aku harus cepat pergi dari rumah ini. Aku yakin jika Yose tinggal dihotel sementara ini, dan jika dia sedang mengurus segala persyaratan, pasti akan memakan banyak waktu. Yose bisa tinggal disini dari pada harus menghamburkan uangnya untuk hotel yang mahal.”
“Emmm . . . sebenarnya ucapanmu tidak ada salahnya. Tapi aku mau bersamamu dulu. Kamu saat ini lebih membutuhkanku dari pada Yose.”
“Tampunglah aku untuk satu minggu ini. Aku akan mencari pekerjaan dan mencari kontrakan. Dan . . .” Tia tersenyum menghadap sahabatnya. “Pinjami aku uang untuk mencari kontrakan. Aku akan membayarnya saat gajian nanti.”
“Memangnya kamu mau kerja dimana?” tanya Cindy.
“Jangan sungkan. Pakai saja punyaku. Anggap semua milikmu. Kita sahabat melebihi saudara.”
“Eh, bukannya kamu bisa kembali lagi keperusahaan. Aku ingat betul saat kamu bercerita pak Raka pernah berkata bahwa dia akan menerimamu kembali.” Tambah Cindy.
“Mungkin itu hanya basa-basi Pak Raka saja. Tidak mungkin beliau mau menerima karyawan yang sudah keluar dari perusahaan.”
“Tapi Pak Raka terkenal tidak pernah main-main dengan ucapannya, beliau selalu menepati ucapannnya. Jika Pak Raka berkata seperti itu padamu, berarti kamu memang bisa melakukannya. Aku yakin jika Pak Raka tidak akan mengatakan hal itu kesembarang orang.”
“Tapi . . . jika aku kembali, bagaimana pandangan karyawan lainnya. Mereka pasti bergunjing dibelakangku. Dan disana juga masih ada Mas Gilang.” Suara Tia terdengar lemah.
__ADS_1
“Aku pastikan tidak ada. Tidak akan ada yang akan mengatakan macam-macam padamu. Dan tentang Gilang, mereka pasti tahu siapa yang salah.”
“Kenapa kamu begitu yakin?”
“Apa kamu lupa jika diperusahaan kita ada group chat rahasia? Aku masuk dalam group itu dengan nama lain, jadi aku tahu semua pembahasan mereka. Dan, yah . . . memang dua hari ini sedang ramai membahas Gilang dan anak magang itu. Mereka membicarakan jika keduanya sudah terang-terangan bermesraan dikantor. Dan mereka ramai menanyakan bagaimana keadaanmu.”
Tubuh Tia menegang saat mendengar nama Gilang dan perempuan selingkuhannya itu. “Sudah, jangan pikirkan mereka. Kamu harus fokus dengan dirimu sendiri saat ini.” Kata Cindy.
“Baiklah besok aku akan mencobanya. Tidak apa jika besok aku ditempatkan dibagian manapun. Yang penting aku bisa bekerja dan bisa hidup mandiri lagi.”
“Sebenarnya kamu tidak perlu terburu-buru, Tia. Kamu bisa terus bersamaku untuk beberapa bulan kedepan.”
“Aku tidak boleh egois seperti itu, Cindy. Aku yakin jika Yose juga sudah ingin mendampingimu. Aku harus menjadi teman yang tahu diri.”
“Besok aku akan menemanimu keruangan Pak Raka. Ada yang harus aku bicarakan dengan pimpinan tampan kita.” Cindy tersenyum cerah setiap membicarakan pimpinan tertinggi diperusahaannya.
“Cukup, Cindy!!! Jangan kesenangan membayangkan suami orang. Pak Raka sangat mencintai istrinya, aku sendiri masih merasa takjub melihat Pak Raka. Pimpinan yang begitu dingin dan disiplin tinggi, bisa begitu lemah dihadapan bu Ara.” Ucapan Tia dibalas anggukan oleh Cindy.
“Sekarang tidurlah, sudah malam. Besok aku akan membangunkanmu sebelum pagi dan minum obat mualmu sebelum pagi menjelang.” Tia merubah posisi bantal Cindy. mereka berdua tidur diranjang yang sama, karena dirumah Cindy hanya tersedia satu ranjang dengan ukuran besar. Dulu, Tia sering menginap dirumah Cindy sebelum dia menikah dengan Gilang.
“Aku kira kamu akan hamil dengan orang yang menggantikan posisiku. Kamu terlalu sering membicarakan orang itu saat bertemu denganku.” Ucap Tia pelan dengan mata yang sudah tertutup.
“Kamu tidak tahu saja. Pak Rio itu sama dinginnya dengan Pak Raka. Aku tidak bisa mendekatinya selain urusan pekerjaan. Itu yang membuatku menyerah menggodanya.”
__ADS_1
Cindy melirik sahabatnya yang ternyata sudah terlelap disebelahnya. Dengan sebal dia mencubit hidung Tia karena ditinggal tidur duluan. Setelah melenguh kesakitan karena cubitan Cindy, Tia tidak membalasnya dan memilih memenangkan kantuknya.