
Pagi itu, beberapa karyawan S&D Group dibeberapa bagian ramai karena berita yang beredar. Beberapa karyawan membicarakan kemunculan Tia dikantor tempat mereka bekerja.
“Tadi, aku lihat secara langsung Bu Tia masuk kekantor ini dengan Bu Cindy. Wah . . . wah, ada apa ini. Jangan-jangan akan ada drama pembalasan dendam.” Ucap salah satu karyawan yang membuat perkumpulan dengan beberapa karyawan yang lainnya.
“Bisa jadi. Dengar-dengar Bu Tia kan dapat hak khusus dari Pak Raka. Kita tahu sendirilah kemampuan Bu Tia seperti apa. Mana bisa dibandingkan dengan orang lain. Apalagi anak magang itu.” Balas karyawan lainnya diiringi tawa cekikian yang lainnya.
Gilang dan Dera mendengar pembicaraan karyawan lainnya saat mereka balik dari ruangan Pak Erwin. Dera mendengar jelas jika karyawan lainnya sedang mengejek dirinya. Dera ingin langsung menghampiri karyawan yang sedang bergosip itu, tapi dihalau oleh Gilang.
“Jangan membuat keramaian dikantor. Tahan saja.” Perintah Gilang.
“Tapi, Mas. Mereka sengaja mengeraskan suara saat kita melewati gerombolan mereka.”
“Sudah, biarkan saja. Ayo kembali kemeja kita. Dan ingat, panggil aku “Pak” saat kita berada dikantor.”
Dera memilih mengikuti perintah Gilang. Gara-gara mereka ketahuan salah satu karyawan sedang berciuman dikantor dua hari yang lalu, keduanya memang sedang ramai dibicarakan dalam forum group chat ataupun secara langsung. Gilang memilih untuk sedikit menjaga jarak dari Dera karena statusnya saat ini yang masih sebagai suami Tia.
***
“Lalu, kenapa kalian berdua menemui saya bersamaan? Kenapa tidak bisa satu per satu?” tanya Pak Raka dengan wajah seriusnya.
“Ada yang mau saya bicarakan dengan Bapak. Tapi saya rasa, Tia bisa lebih dulu mengatakannya.” Ucap Cindy mempersilahkan.
“Emmm . . . maaf Pak Raka. Satu tahun yang lalu, saat saya mengajukan pengunduran diri, Bapak pernah berkata jika saya ingin bergabung di S&D group lagi, saya akan diterima kembali diperusaan.”
__ADS_1
“Betul. Saya ingat jelas pernah mengatakan hal itu. Jadi?”
“Jadi, saya ingin melamar kembali untuk bekerja diperusahaan. Maafkan saya, Pak. Saya tidak melalu HRD dan langsung menemui Bapak. Tapi saya merasa jika harus langsung menemui Pak Raka karena Bapak langsung yang pernah mengatakan hal itu pada saya. Saya ditempatkan dibagian apapun, saya akan menerimanya, Pak.”
“Kenapa?” tanya Raka.
“Untuk bagian mana, Pak?” Tia bertanya karena bingung.
“Saya tidak akan bertanya kenapa kamu melamar pekerjaan diperusahaan saya lagi, saya sudah mendengar sedikit beritanya dari Bagas. Yang saya tanyakan, kenapa kamu mau ditempatkan dibagian apapun? Apa kamu bersedia saya tempatkan sebagai karyawan biasa lagi diperusahaan ini.”
“Jika Bapak menerima saya kembali, itu sudah sebagai berkah untuk saya, Pak. Jadi saya tidak mempunyai hak untuk meminta yang lebih dari itu.”
“Ok, sebentar. Saya ingin tahu dulu apa yang akan dibicarakan Cindy. Silahkan Cindy.”
“Saya mau resign hari ini, Pak.” Ucap Cindy. kalimat itu membuat Tia terkejut, Tia langsung menatap Cindy dengan tatapan tak percaya.
“Maafkan saya, Pak. Tapi saya yakin jika Bapak pasti sudah mendapat laporan kinerja saya selama satu bulan terakhir. Saya merasa jika kinerja saya sedang menurun tajam dan tidak bisa menyelesaikan beberapa proyek.”
“Lantas?” tanya Raka lagi.
“Saya hamil, Pak Raka. Itu yang membuat saya tidak bisa bekerja dengan maksimal. Maafkan saya, Pak. Kondisi saya bukan pada tahap yang bagus karena kandungan ini. Jadi saya akan mengundurkan diri hari ini.”
“Saya akan menerima surat pengunduranmu, karena saya tidak bisa memaksakan seseorang yang sedang berbadan dua. Tapi Cindy, saya tidak akan memberikan penawaran yang sama dengan Tia.”
__ADS_1
“Saya tidak apa-apa, Pak. Setelah menikah, saya akan mengikuti suami saya untuk pindah ke Amerika.” Ucapan Cindy membuat Tia membelalakkan matanya lagi.
“Baiklah, kamu bisa keluar dari ruangan ini, Cindy. Saya masih ada perlu dengan Tia. Dan selesaikan harimu disini jika bisa, tapi jika kondisimu tidak memungkinkan, kamu bisa langsung menuju bagian HRD.”
“Saya masih sanggup untuk hari ini, Pak. Terimakasih.” Cindy menjabat tangan Raka dan berjalan keluar ruangan meninggalkan Tia sendiri.
“Bagas, bawakan saya proposal yang bermasalah tempo hari.” Perintah Raka pada asisten pribadinya.
Bagas masuk kedalam ruangan dengan satu proposal yang tidak berlanjut karena terhalang adanya masalah. Raka membaca laporan itu sebentar dan menyodorkan laporan itu kepada Tia.
“Coba kamu baca, Tia. Apa yang harus saya lakukan agar proyek ini berjalan. Tidak ada manager yang bisa memberikan saya solusi yang tepat. Rio bisa memberikan saya jawaban, tapi dia tidak mau menanganinya.”
Tia membaca sepintas proposal itu dan menganalisisnya. Sepuluh menit kemudian, Tia memberikan pendapatnya pada bagian mana yang bermasalah dalam proposal itu. Karena Tia bisa menemukan bagian yang bermasalah, perempuan 26 tahun itu juga bisa memberikan solusinya. Dengan yakin Tia menjawab setiap pertanyaan yang Raka lontarkan. Setelah mendengar jawaban dari Tia, Raka menganggukkan kepalanya dengan wajah yakin.
“Saya tahu jika kamu memang berbeda, dan ini memang tempatmu. Selamat datang diperusaahn Tia. Kamu akan menempati posisi Cindy. Kamu layak untuk itu.” Raka berdiri dan mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Tia.
“Benarkah, Pak? Ta . . . tapi, saya merasa tidak pantas untuk kembali pada posisi ini, Pak.”
“Mereka tidak akan ada yang berani mempertanyakan penilaian saya. Mereka akan terdiam karena kamu dapat memecahkan masalah ini. Proposal ini sudah menggantung selama dua minggu dan tidak berlanjut karena ada masalah dibeberapa bagian. Dan kamu, Tia, kamu bisa menemukannya. Proposal ini akan menjadi proyek pertamamu besok.”
“Terimakasih, Pak Raka. Terimakasih banyak.” Tia sangat bahagia.
“Tidak perlu berterimakasih. Kamu mendapatkannya karena kemampuanmu.”
__ADS_1
Tia keluar dari ruangan Raka dengan senyum yang lebar dibibirnya. Dia menemui Cindy yang sedari tadi menunggunya di meja Caca, sekretaris Raka. Tia memeluk sahabatnya dengan perasaan penuh haru karena rizki yang ia dapatkan hari ini.
Tia menceritakan apa yang dilakukannya didalam ruangan Raka. Tanpa ia sadari ada telinga yang ikut mendengarkan ceritanya. Dengan kecepatan cahaya, tangan Caca berubah dari keyboard laptopnya ke keyboard ponselnya. Berita kembalinya Tia beserta prestasinya memecahkan masalah langsung beredar keseluruh group chat perusahaan. Semuanya mengetahui berita itu tak terkecuali Gilang dan Dera.