CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 67


__ADS_3

“Sudah cukup kalian menerka-nerka. Saya akan langsung memanggilnya untuk maju kedepan.”


Seluruh karyawan langsung terdiam karena mereka ingin melihat siapa yang dimaksud oleh Raka.


“Rio Erens Dewanto, silahkan maju kedepan dan perkenalkan dirimu secara benar.” Panggil Raka dengan tegas.


Apa? Pak Rio? Jadi selama ini Pak Rio adalah wakil direktur utama? Apa aku pernah berbuat salah dihadapannya? Bagaimana ini? Benar saja, kenapa kita tidak pernah menduganya? Nama belakangnya saja sudah Dewanto. Beragam pertanyaan mulai kembali hadir didalam gedung pertemuan itu.


“Rio? Kamu?” Tia membelalakkan matanya karena rasa keterkejutannya. Rio yang duduk disebelah Tia menjadi khawatir jika Tia akan marah padanya.


“Nanti aku akan menjelaskannya padamu. Aku harus kedepan, jika tidak, Raka akan membunuhku.” Bisik Rio.


Rio naik keatas podium dan tetap membawa wajah dinginnya untuk menatap semua karyawan yang berkumpul diruangan itu. Tanpa dia sadari ada sebuah pasang mata yang memandangnya dengan penuh kebencian dibalik kerumunan itu. “Jadi kamu yang menyebabkan kegagalanku untuk naik jabatan?” geram Gilang.


“Selamat siang, perkenalkan saya Rio Erens Dewanto. Dan seperti kata direktur utama kita, bahwa saya yang akan memimpin perusahaan ini sementara. Jadi selamat bekerja sama.” Sapa Rio secara jelas.


Setelah perkenalan itu selesai, semua karyawan diarahkan untuk menuju kerestaurant yang sudah dipesan oleh perusahaan. Perusahaan menjamu semua karyawan dengan makanan enak yang selama ini dirasa cukup berat untuk membelinya bagi beberapa karyawan dengan pendapatan pas-pasan. Tentu saja didalam restauran itu masih hangat isu tentang jabatan sesungguhnya milik Rio. Ada yang mengingat-ingat kelakuannya selama ini, ada juga yang semakin terpukau dengan posisi Rio yang sempurna ditambah wajah tampannya.


‘Ruangan Direktur Utama’


“Bagas! Kamu ikut berkumpul saja dengan yang lainnya. Saya ada perlu dengan Pak Raka.” Perintah Rio, karena Bagas masih berjaga didepan ruangan Raka.


“Baik, Pak.” Bagas meninggalkan tempatnya.


Brak . . . Rio membuka pintu ruangan Raka dengan kasar.

__ADS_1


“Kamu harus menanggung kerugiannya jika pintu itu rusak.” Protes Raka dengan tenang.


“Gila kamu, Raka! Bagaimana bisa kamu melakukan ini tanpa memberitahuku?”


“Kamu tidak akan menerimanya. Hanya ini jalanku untuk menyeretmu kembali keposisimu.”


“Aku tahu, tapi bukan saat ini juga. Ini belum waktunya.”


“Berhenti bermain-main, Rio. Aku akan cuti sementara dari kepemimpinan, aku tidak punya pilihan lain untuk tidak menyeretmu kembali. Ara lebih membutuhkanku.”


“Tapi bukan begini juga caranya. Kamu menghancurkanku, Raka. Dia pasti akan marah padaku.”


“Siapa? Perempuan yang kamu kejar dulu? Yang pernah kamu tanyakan padaku cara untuk mendekatinya?”


“Apa? Bagaimana bisa kamu menikah tanpa ada seorangpun yang tahu dari keluarga kita?”


“Kami masih menikah dibawah tangan. Tapi ayah dan bunda sudah mengetahuinya.”


“Tante dan om sudah tahu?”


“Sudah. Tapi bukan itu masalah utamanya. Kamu menjebakku, Raka.”


“Bagaimana itu bisa dikatakan menjebak jika memang itu jabatanmu sesungguhnya. Berhenti bermain-bermain dan mulailah pegang kembali tanggung jawabmu, kamu sudah cukup lama bermain-main sebagai manager.”


“Aku bekerja, Raka. Dan aku banyak mendapatkan proyek besar demi perusahaan ini.”

__ADS_1


“Betul. Tapi tanggung jawab yang kamu emban tidak seberapa. Kamu harus berdiri diposisimu saat ini. Apalagi kamu mendapatkankan gaji ganda dengan menjadi manager disini, dan juga wakil direktur yang masih kamu dapat dari kantor cabang Amerika.”


“Apa karena itu juga kamu menyeretku kembali?”


“Itu juga termasuk kedalam alasanku membawamu kembali keposisimu.”


“Dasar pelit. Sebagai kakak, apa kamu tidak pernah berfikir untuk berbuat baik pada adikmu ini sekali saja?”


“Aku sudah membiarkanmu berada dikantor cabang selama ini. Kurang baik apa aku? Kamu juga tidak pernah menghormatiku sebagai kakakmu. Panggil aku Kak Raka sekarang.”


“Ogah!”


“Lihat? Bagaimana bisa Tia menerimamu dengan sifat kekanak-kanakanmu ini?”


“Kamu tahu jika itu, Tia?”


“Apa kamu tidak pecaya dengan kemampuanku menalar situasi? Aku berada diposisiku saat ini bukan karena keberuntungan. Tapi karena kerja keras dan intuisiku yang mumpuni. Aku juga banyak telinga diluar sana. Kamu tahu jika Ara mempunyai beberapa informan yang tersebar diperusahaan ini.”


“Kak Ara? Wah tak kusangka jika Kak Ara bisa berbuat seperti itu.”


“Kamu saja memanggil Ara dengan sebutan Kakak, padahal dia lebih muda daripada umurmu. Mulailah memanggilku Kakak mulai sekarang.” Raka mengambil kunci mobil dan bersiap pergi. “Aku pergi dulu, mulai hari ini meja ini kuserahkan padamu, sampai ruanganmu selesai direnovasi.”


“Baiklah, hati—hati dijalan. Titip salam buat Kak Ara.”


“Hmmm.” Raka pergi meninggalkan Rio sendiri diruangannya.

__ADS_1


__ADS_2