
“Dera! Apa yang kamu lakukan?” seru Gilang.
“Saya menginginkan Pak Gilang, saya mencintai Bapak.” Jawab Dera sembari menahan tubuh Gilang yang ingin lepas dari pelukannya. Dera sudah tidak mampu menahan gejolak dijiwanya.
“Gila, kamu!!! Saya sudah mempunyai istri,” teriak Gilang, dan dia berhasil melepaskan pelukan Dera. Dan sekarang Gilang sudah berdiri didepan Dera yang terduduk di atas tempat tidurnya.
“Tapi saya tidak bisa menghilangan perasaan ini, Pak. Dari awal bertemu, saya sudah menaruh hati dengan Bapak. Tapi saat saya tahu jika Bapak sudah beristri, saya sangat terpukul dan terus mencoba untuk melepaskan Pak Gilang. Tapi hati ini tak bisa berbohong, perasaan ini tulus, perasaan ini nyata.” Jelas Dera dengan suara bergetarnya karena menahan tangisnya. Laki-laki dihadapannya dengan jelas menolak segala upayanya untuk menyentuh tangan Gilang.
“Dinginkan dulu kepalamu dari pikiranmu itu, besok lebih baik tidak perlu masuk kerja dulu, saya akan memberikan alasan ke atasan jika kamu sedang sakit.” Ucap Gilang, dan setelahnya mulai beranjak untuk keluar kamar.
“Tunggu, Pak!” Dera berteriak mencoba mencegah kepergian Gilang. Dia berlari mendahului Gilang dan mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
“Kakimu? Tidak apa-apa?” Gilang terkejut melihat Dera berlari dengan cepat mendahuluinya.
“Bapak tidak bisa pergi malam ini dari kamar ini!”
“Apa lagi ini, Dera. Cepat menyingkir dari pintu!”
Dera tak bergeming dari tempatnya. Dengan tetap menatap mata Gilang, tangannya perlahan melepaskan atasan dan rok yang dia gunakan, dan hanya menyisakan pakaian dalam berwarna hitam yang menempel ditubuhnya. Dia tidak memperdulikan wajah Gilang yang sudah dipenuhi ekspresi keterkejutan. Gilang terdiam tak bisa berkata apa-apa. Tubuh indah itu berjalan mendekati Gilang secara perlahan, dengan perlahan juga dia berhasil memeluk Gilang yang terdiam didepannya.
Dera dapat merasakan tangan besar Gilang yang mulai menyentuh kulitnya. Karena sentuhan yang baru pertama kali ia rasakan, Dera tak mampu menahan desakan gelora didalam dirinya.
“Ahhh . . . Pak Gilang.” Desah Dera yang sudah dipenuhi oleh hawa nafsu. Tangannya memeluk erat leher laki-laki didepannya.
__ADS_1
Gilang yang tersadar langsung melepaskan ciuman serta sentuhannya, lalu laki-laki beristri itu mundur beberapa centi membuat jarak dengan gadis yang sedang kebingungan karena responnya tiba-tiba.
“Kenapa, Pak? Kenapa berhenti?” tanya Dera dengan nada kecewanya.
“Kita tidak boleh melakukan ini, Dera. Saya pria beristri, dan kamu . . . kamu masih gadis bukan? Ini salah, Dera. Yang kita lakukan salah, kita hentikan saja sekarang sebelum kita menyesal.”
“Saya tidak akan menyesal, Pak. Saya mencintai Bapak, dan saya menginginkan Bapak. Saya rela menyerahkan kesucian saya dengan orang yang saya cintai.”
“Kamu tidak tahu dengan resiko yang akan kamu hadapi, Dera!” bantah Gilang yang berusaha menyadarkan akal sehatnya dan gadis didepannya.
“Saya sadar, Pak. Saya tahu jika saya tidak bisa memiliki Bapak seutuhnya. Tapi saya mohon, peluklah saya malam ini, Pak. Saya menginginkan Pak Gilang.” Dengan cepat, Dera membuka kancing bra yang dipakainya, sehingga membuat isi didalamnya mencuat keluar, dan perlahan juga dia melepas apa yang menempel terakhir di badannya. Rasa malu sudah tidak dirasakannya lagi malam ini. Rasa malu itu telah pergi bersama logikanya yang telah mati.
__ADS_1
Seakan kehilangan akal sehatnya karena pemandangan yang terpampang dihadapannya, Gilang sudah tidak mampu menahan nafsu yang sudah memuncah didalam dirinya, tanpa basa-basi, Gilang menyambar tubuh Dera dengan penuh hasrat. Dan malam itu, terjadilah dosa yang tiada termaafkan. Gilang telah menghianati istri yang dicintainya, istri yang saat itu setia menunggu kepulangannya.