CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 21


__ADS_3

“Cukup tentangku! Bagaimana dengan hari-harimu beberapa bulan ini? Oh iya, aku dengar kamu menjual apartemenmu?” tanya Cindy.


“Wah . . . berita memang cepat menyebar mengalahi  kecepatan cahaya.” Tia takjub dengan pengetahuan sahabatnya itu.


“Walau kamu sudah tidak bekerja diperusahaan, tapi tentu saja kabar tentangmu masih hangat di bicarakan. Apalagi Gilang masih bekerja diperusahaan.”


“Kenapa kamu menjualnya? Apa kamu sedang perlu uang? Bukankah apartemen itu begitu berharga untukmu?” tanya Cindy penasaran.


“Bukan hanya apartemen, tapi mobilku juga sudah terjual, Cind.”


“Apa!!! Kalau kamu perlu uang kenapa tidak menghubungiku, aku bisa membantumu tanpa kamu harus menjual aset-asetmu. Walau kamu sudah menikah, tapi kamu perlu itu untuk menjadi jaminanmu jika dimasa depan ada apa-apa dengan  pernikahanmu. Tentu saja aku selalu mendokan pernikahan kalian akan langgeng sampai kakek nenek nanti. Tapi berjaga-jaga itu lebih baik.”


“Aku hanya membantu meringankan beban suamiku, Cind. Untuk belanja bulanan, keperluan yang mendakak, dan yah kebutuhan rumah tangga lainnya. Kamu tahu sendiri hidup di Jakarta tidak murah, apalagi aku harus menopang semua keperluan rumah dan lainnya. Tapi kamu tenang saja, lagi pula uang itu aku depositokan, dan yang terpakai hanya bunga yang diperoleh dari deposito itu. Bukan uang inti dari penjualan.” Jelas Tia dengan menyembunyikan kenyataan bahwa mama mertuanya yang saat ini memegang uang tersebut. Tia tidak ingin Cindy berfikir yang bukan-bukan.


“Lagi pula, apartemenku juga tidak terpakai. Kosong setelah aku pindah kerumah Mas Gilang.”  Tambah Tia.


“Tapi kenapa dengan mobilmu? Terus tadi kamu kesini naik apa?”

__ADS_1


“Mobilku kujual karena sudah ada mobil mas Gilang, jadi ya tidak terlalu terpakai.” Tia berbohong tentang mobilnya. “Aku membeli sepeda motor matic, aku tadi kesini dengan itu.”


“Duhhh . . . kenapa kamu sekarang menderita setelah menikah?”


“Aku bahagia Cindy, lagi pula aku tidak terkejut dengan hidup seperti ini. Dulu hidupku pernah lebih parah dari ini.”


“Tapi lihat sekarang dirimu! Badanmu sudah tidak terurus, kulit wajahmu kering, dan pakaianmu . . . dimana Tiara Nandita yang dulu. Yang seorang manager perusahaan besar.” Cindy menatap Tia dengan penuh perhatian dan kekhawatiran.


“Itu dulu, Cindy. Saat aku berhadapan dengan laptop, tapi sekarang, kompor teman sehari-hariku. Jangan lupakan jika aku sekarang menjadi ibu rumah tangga.”


“Kenapa kamu tidak kembali bekerja saja jika niatmu adalah membantu Gilang dalam memenuhi keperluan rumah tangga. Kamu masih ingat Pak Raka pernah mengatakan akan menerimamu kapanpun kamu mau kembali keperusahaan.”


“Ok . . . ok, aku tidak pernah bisa menang jika berdebat denganmu. Kita nikmati saja pertemuan kita sore ini. Kapan lagi aku bisa bertemu denganmu lagi. Sudahi pembahasan kita tentang hal-hal itu. Mari kita bicarakan yang lebih menggairahkan.”


“Apa itu?” tanya Tia curiga.


“Bagaimana dengan Gilang? Apakah dia hebat diranjang?” Cindy berbicara dengan suara sepelan mungkin. Tia yang saat itu sedang menyesap minumannya sedikit tersedak.

__ADS_1


“Kenapa kamu ingin tahu akan hal itu? Cukup hanya aku yang tahu.” Jawab Tia dengan malu.


“Wah . . . wah . . . kelihatannya cukup hebat.”


“Bagaimana aku bisa membandingkannya? Bagiku Mas Gilang adalah yang pertama, dan aku juga ingin menjadi yang terakhir.”


“Tentu saja Gilang yang pertama. Dulu ku kira kamu adalah pertapa suci yang tidak pernah kenal kenikmatan dunia.”


“Aku anggap itu sebagai pujian. Terimakasih.”


“Itu bukan pujian, Tia. Tapi kritikan.”


“Aku menganggapnya sebagai pujian. Karena aku berhasil menjaga kesucianku untuk suamiku.”


“Kamu menyindirku Nyonya Erlangga?”  mata Cindy melotot.


“Ups! Apakah Anda tersindir nona? Hahahahaha ” Tia tertawa terbahak-bahak karena ekspresi marah Cindy yang begitu menggemaskan.

__ADS_1


Mereka berdua melanjutkan obrolan disore hari itu. Dua sahabat itu menumpahkan kerinduan karena sudah enam bulan lebih lamanya mereka belum bertemu lagi karena kesibukan masing-masing.


__ADS_2