
Apa, Kak? Tenggelam? Dimana rumah sakitnya? Lalu bagaimana keadaannya? Antarkan saya sekarang! Tolong antarkan saya sekarang kerumah sakit. Saya ingin bertemu suami saya!” Tia panik dan mulai menangis histeris.
“Tenang, Bu. Tenang.” Bagas mencoba menenangkan Tia yang sudah menunduk dan menangis.
“Cepat bawa saya kerumah sakit, Gas! Saya mohon.” Pinta Tia dengan memohon.
“Tentu, Bu. Tunggu sebentar.” Bagas mencoba meminta pihak resort ada yang mau membantu mereka untuk menuju kerumah sakit tempat Rio berada.
Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, Tia dan Bagas diantarkan salah satu karyawan resort menuju kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Tia berlari masuk kerumah sakit dan menanyakan suaminya dibagian informasi. Saat mendapatkan keterangan posisi Rio, Tia langsung berlari menuju IGD mencari suaminya.
Tia membuka beberapa gorden yang menutup beberapa ruang perawatan di IGD. Matanya sudah sembab dan pandangannya sedikit tidak jelas karena air mata yang masih menggenang dimatanya, saat dia melihat sosok yang dicarinya sedari tadi sedang duduk dengan tangan yang diperban, Tia langsung menghambur dan memeluk Rio dengan erat.
“Tia? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis? Apa ada yang sakit? Katakan padaku.” Rio merasakan kekhawatiran yang teramat besar karena melihat orang terkasihnya sedang menangis hebat.
“Bagaimana bisa kamu mengkhawatirkanku? Apa yang terjadi Rio? Kenapa kamu tidak bisa kuhubungi?” Tia melanjutkan tangisnya.
“Ada apa ini Bagas? Kenapa Tia bisa menangis seperti ini?”
“Bapak tidak apa-apa?” tanya Bagas.
__ADS_1
“Saya tidak apa-apa, Gas. Sekarang coba jelaskan padaku.”
“Tadi saya dan Bu Tia sedang mencari Pak Rio. Dan ada salah satu resepsionis resort yang mengatakan jika Bapak dibawa kerumah sakit karena tenggelam.”
Rio menghembuskan nafas beratnya, “Baiklah saya mengerti.” Rio menangkup wajah Tia dengan kedua tangannya. “Tia . . . lihat aku. Aku tidak apa-apa, bukan aku yang tenggelam. Aku hanya menolong seseorang yang tenggelam karena mengalami keram perut. Dan tanganku ini hanya tergores sedikit bebatuan pantai santai berusaha menarik orang itu ketepi pantai. Sudah jangan menangis lagi.” Rio menghapus air mata yang menetes dari kedua mata Tia.
“Kenapa kamu tidak bisa kuhubungi?” ucap Tia sambil menahan tangisnya pecah kembali.
“Maafkan aku. Ponselku batrainya habis sejak sore tadi. Aku lupa mengisi daya saat ada dipondok tadi. Tenanglah, aku baik-baik saja. Aku ada disini.” Rio menenangkan istrinya yang masih sedikit menangis.
“Bagas, tolong selesaikan administrasiku. Ayo cepat kita kembali ke resort. Tia perlu istirahat.”
Setelah menyelesaikan pembayaran, Bagas, Rio, dan Tia kembali menuju resort bersama dengan karyawan resort yang mengantarnya tadi. Selama perjalanan, Tia sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Tia terus saja memeluk Rio dari sisi kirinya.
“Sssstttt! Tidak perlu. Saya akan membopongnya.”
“Tapi tangan kanan Pak Rio . . .”
“Tak apa. Ini hanya luka kecil.” Rio secara perlahan-lahan membopong Tia turun dari mobil dan menuju kepondoknya. Dalam perjalanan banyak yang ingin bertanya kenapa Tia sampai digendong oleh Rio, tapi belum sempat mereka menanyakannya, mereka sudah diberi isyarat Bagas untuk diam. Bagas hanya menjelaskan kepada karyawan yang dilewatinya jika Tia hanya kelelahan dan terlelap saat bersama Pak Rio. Mereka mengangguk-angguk dan ikut merasakan romantisme pimpinan mereka.
Berkat bantuan Bagas, Rio berhasil membawa Tia dengan aman masuk kedalam pondok. Dengan perlahan, Rio meletakkan tubuh Tia keatas tempat tidur. Rio memperhatikan wajah istrinya dan menyentuh lembut rambut-rambut yang teruari diatas keing Tia.
__ADS_1
“Rio.” Panggil Tia saat dia terbangun karena sentuhan lembut suaminya.
“Maaf aku membangunkanmu.” Ucap Rio merasa bersalah. Tia duduk dan memeluk suaminya lagi.
“Aku sangat takut Rio. Aku takut sekali saat tak ada kabar darimu. Aku takut terjadi yang tidak-tidak.”
“Aku baik-baik saja, Tia. Aku tadi hanya membantu seseorang yang tenggelam. Aku . . .”
“Aku mencintaimu, Rio. Aku takut kehilangan dirimu. Aku tidak bisa hidup jika harus terpisah darimu. Tolong . . . tolong jangan tinggalkan aku. Maafkan keegoisanku tadi. Aku tidak akan lagi mendorongmu untuk menjauh. Aku sangat ketakutan saat tahu jika kamu dalam bahaya. Aku sadar akan perasaanku.” Tia menatap kedua mata Rio yang saat ini sudah terpaku menatap istrinya yang dengan tiba-tiba mengungkapkan cinta kepadanya. “Aku mencintaimu Rio. Aku sangat mencintaimu.”
Rio tak mampu lagi menahannya, dengan lembut Rio mengecup bibir hangat Tia yang mulai lembap. Rio mengecup bibir itu dengan dilingkupi perasaan penuh kebahagiaan. Cinta yang selama ini dia inginkan, dia harapkan dan dengan sabar ditunggunya, akhirnya mendapatkan balasan. Rio manarik tubuh Tia agar bisa lebih dekat dengan dirinya, Tia yang baru menyadari perasaannya yang sebenarnyapun mengekspresikan rasa cintanya dengan membalas ciuman Rio dengan segala hasrat yang ada didalam dirinya. Rasa takutnya begitu besar saat mengetahui kabar jika Rio berada dalam bahaya. Tia mengekspresikan rasa leganya dengan membiarkan semua hasratnya mengalir melalui sentuhannya kepada Rio. Kali ini dia membebaskan dirinya untuk menyentuh dan memeluk secara posesif setiap inci tubuh Rio. Sedikit terkejut dengan respon yang Tia berikan, Rio memilih untuk memberikan seluruh dirinya kepada kendali Tia tanpa kata.
Tia mengecup telinga dan turun keleher jenjang Rio. Desahan nafanya menghembus hangat menembus kulit Rio. Dengan cepat Tia melucuti baju yang Rio gunakan.
“Ahh . . . Tia.” Desah Rio.
“Aku menginginkanmu, Rio. Aku sangat menginginkan dirimu.”
“Miliki aku, Tia. Penjarakan aku dalam cintamu.” Rio lagi-lagi mel*mat bibir hangat Tia. Ciuman itu begitu mendamba dan dilingkupi hasrat yang membara. Dibantu Rio, Tia melepaskan baju yang menempel ditubuhnya. Dengan masih posisi terduduk diatas tempat tidur, Tia menaiki tubuh Rio yang sudah menegang hebat karena setiap sentuhannya.
Dengan terampil, Tia menyatukan tubuhnya dengan suami yang dicintainya. Pinggulnya dibantu oleh Rio untuk bergerak naik dan turun. Tangan Tia melengkung keleher Rio dan sesekali mereka berciuman disela desahan panas malam itu. Deburan ombak malam itu membantu menyamarkan suara kenikmatan yang Tia keluarkan dari mulut kecilnya. Gerakannya dipercepat saat dirasa mereka sudah sampai didepan puncak kenikmatan. Rio dan Tia mendesahkan kepuasan saat mereka berdua mencapai klimaks bersamaan.
__ADS_1
“Kamu sungguh membuatku gila, Tia. Aku sungguh tergila-gila padamu.” Ucap Rio disaat ciuman mereka terlepas sejenak dan kembali berpagut saat kedua bibir itu bertemu.