CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 87


__ADS_3

Tia melangkah masuk kedalam ruangan besar dan luas yang sudah dihias semua ornamen berwarna putih. Lampu temaram yang ikut menghiasi jalan Tia menuju kepelaminan membuatnya merasakan debaran yang begitu kuat didadanya. Dibangku para undangan, sudah terduduk sebagian keluarga besar Dewanto dan juga tamu undangan lain yang diminta untuk menjadi saksi atas pernikahan Rio Erens Dewanto dan juga Tiara Nandita. Saat Tia berjalan dengan langkah pelan, sudut matanya menangkap beberapa teman manager diberbagai divisi yang ada diperusahaannya.


Kali ini dia tidak bisa memberitahu Cindy akan berita baiknya karena semua terjadi begitu mendadak. Dan tentu saja walaupun Tia memberikan kabar kepada Cindy, perempuan cantik itu tidak akan mungkin di ijinkan terbang kembali ke Indonesia karena sedang hamil besar. Kalau tidak salah hitung, bulan ini sudah mendekati HPL Cindy.


Rio yang sudah duduk dihadapan penghulu, masih merasakan debaran yang sama saat menanti pengantinnya datang menghampirinya. Gaun kebaya putih yang dipakainya melekat indah ditubuh ramping Tia. Rambutnya yang digulung kebelakang dan ditambahkan selendang putih transparan yang menghiasi kepalanya, ditambah dengan make up yang begitu natural, tidak menor, membuat Tia tampak begitu menawan. Mau berapa kali memandang, Rio tetap merasakan jatuh cinta pada seseorang yang telah menjadi istrinya itu secara agama.


Saat Tia sudah duduk disebelah Rio, kedua mata itu bertatapan sekilas dan dengan natural kedua pemilik bibir itu tersenyum bahagia. Setelah penghulu memastikan kepastian tentang wali nikah dan juga saksi-saksi, akhirnya prosesi ijab qabul itu dilakukan. Dan dengan satu kali tarikan nafas, sekali lagi Rio berhasil mengucapkan kata-kata sakral yang akan mengikatnya dalam sebuah komitmen pernikahan.


***


“Ohhh . . . jadi ini perempuan pilihanmu, Rio?” tanya Tante Kumala saat Rio dan Tia berkeliling untuk menemui beberapa kerabat setelah mereka berdua melakukan prosesi ijab qabul tadi. Nampak jelas di sudut bibir tantenya itu tersungging senyum sinis.

__ADS_1


“Kukira secantik dan sebesar apa asal usul perempuan yang kamu pilih sehingga tidak mau menikahi anak bungsu Tante. Lihat Friska, lebih cantik dibandingkan istrimu. Dan pastinya jelas asal-usulnya.” Hina Tante Kumala pada Tia sembari menunjukkan kelebihan anak bungsunya. Tante Kumala adalah keluarga jauh dari Bunda Ajeng yang ikut ke Jakarta.


“Rio mencintai Tia, Tante. Rio lah yang mengejar-ngejar Tia dan memintanya untuk menjadi istri Rio.” jawab Rio dengan suara beratnya. Rio memasang ekspresi sedatar mungkin untuk menghadapi Tantenya yang sudah memulai peperangan.


“Stttt . . . tapi kabar-kabarnya, istrimu ini mandul ya,Rio? Apa kamu tidak kasihan pada kedua orang tuamu? Kamu anak tunggal dikeluargamu, ko bisa-bisanya cari perempuan mandul.” Tante Kumala sedikit membesarkan nada suaranya berharap mendapatkan perhatian dari tamu sekitar.


Rio yang mendengar istrinya dihina secara terang-terangan merasa tidak bisa menahan emosi lagi. Tia yang mengetahuinya langsung menggenggam tangan Rio yang sudah mengepal kuat menahan emosi. Rahang pria tampan itu menegang karena tak tahan istrinya dipermalukan. Setelah menyadari jika Tia berusaha menenangkannya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran, Rio mengubah metode perangnya untuk bisa menghadapi Tantenya yang tidak memperdulikan perasaan orang lain ini.


“Tapi kok, Nadia sampai sekarang belum juga punya anak, ya? Bukannya dia sudah menikah selama 10 tahun, Tante?” Rio membalas ucapan Tantenya dengan menanyakan kabar anak pertama Tante Kumala  yang sudah menikah dan sampai sekarang belum juga memiliki anak setelah ketahuan berbuat mesum 11 tahun lalu saat berada disekolah.


“Apa kamu bilang? Berani-beraninya kamu mengucapkan hal itu!”

__ADS_1


“Kenapa Tante? Marah? Sakit hati? Apa Tante sudah tahu bagaimana perasaan Tia saat Tante mengatakan hal buruk itu tadi?”


“Sudah, Nak. Banyak yang mulai tertarik memperhatikan kalian berdebat disini. Ini hari bagus, cukup bersenang-senang dan jangan membuat masalah dipesta pernikahanmu ini.” ucap Bunda Ajeng mencoba melerai Rio dan tante Kumala.


“Lihat saja Kak Ajeng. Rio tidak bisa menghormati orang lain. Apalagi aku ini kan Tantenya.” Tante Kumala mengadu kepada Bunda Rio.


“Saya belajar dengan cepat dari sumbernya Tante. Tante sudah tahu dari awal kan jika Rio adalah orang yang pintar.” Celetuk Rio dengan senyum sinisnya.


“Lihat Kak Ajeng? Lihat sendiri kan? Demi istrinya yang mandul ini dia sampai menghinaku didepan umum.” Teriak Tante Kumala.


Belum sempat Rio membalas lagi ucapan Tantenya, dan ‘Plak’ terdengar tamparan keras yang melayang dari tangan Bunda Ajeng ke pipi Tante Kumala.

__ADS_1


__ADS_2