CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 16


__ADS_3

“Tia . . . apa Gilang sudah berangkat kerja?” tanya mama Ratna.


“Sudah, Ma. Gilang sudah berangkat kerja.” Jawab Tia.


“Sebaiknya kamu mulai sekarang memanggil Gilang dengan sebutan yang lebih baik. Walau kalian lahir ditahun yang sama, tapi tetap saja, Gilang sekarang sudah menjadi suamimu. Jadi kamu harus lebih menghormatinya.” Mama Ratna memberikan saran kepada menantunya.


“Baik, Ma. Nanti Tia coba bicarakan kepada Gilang, panggilan apa yang membuatnya nyaman.”


“Bagus. Mulailah memasak untuk makan siang kita nanti. Adikmu Gaby sebentar lagi akan pulang dari rumah temannya.”


“Baik, Ma. Tia ke dapur dulu.”


“Tunggu, Tia!” Tia menghantikan langkahnya karena mama Ratna memanggilnya lagi. “Bahan makanan dikulkas mulai habis, nanti setelah memasak, pergilah ke supermarket untuk mengisi bahan makanan kita.” Tia menjawab dengan anggukan dan senyuman diwajahnya.


Sudah satu bulan ini setelah dia menikah, Tia lah yang mengambil alih dapur. Gaby tak lagi di ijinkan oleh mama Ratna membantu memasak di dapur. Sedangkan Gaby sendiri juga tidak ada inisiatif membantu Tia walaupun mamanya sedang tidak berada didalam rumah. Semua keperluan rumah tangga, Tia yang memenuhi. Dia harus merogoh kocek tabungannya lebih dalam karena gaji yang Gilang berikan tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah itu. Belum lagi Tia harus memberikan donasinya kepada panti asuhan setiap bulannya. Karena dia masih memiliki tabungan, dirasa belum waktu baginya untuk meminta bantuan kepada Gilang. Tapi sudah tinggal berapa saldo tabungannya karena dia selalu lupa untuk mengecek saldo tabungan yang tersisa.


Setelah selesai memasak, Tia bergegas untuk pergi kesupermarket yang terdekat dari rumahnya. Supermarket itu hanya berjarak beberapa kilometer saja dari rumahnya. Dan didalam supermarket itu terdapat semua keperluan yang di inginkan Tia.


Kring . . . kring . . . kring . . .

__ADS_1


“Halo?” tanya Tia kepada seseorang diseberang sana.


“Sayang, kamu dimana sekarang? Kenapa sangat ramai?” tanya sipenelepon yang ternyata adalah suaminya.


“Aku sedang belanja untuk keperluan dapur. Kulkas kita sudah kosong.”


“Sendirian?” tanya Gilang.


“Yup!”


“Kenapa tidak mengajak mama atau Gabby pergi untuk membantumu?”


“Kamu yakin?” Gilang mencoba memastikan kembali.


“Tentu saja. Jangan mengkhawatirkanku, Lang.” jawab Tia yakin.


“Baiklah. Cepat hubungi aku apabila kamu merasa kesulitan membawa bahan belanjaan atau ada hal lainnya. Aku akan langsung meluncur menemui istri tercintaku.”


“Hahahahaha . . . terimakasih pangeranku. Aku lanjutkan belanja dulu, ya?”

__ADS_1


Tia mematikan teleponnya setelah satu kecupan terhubung melalui suara jarak jauh. Baginya Gilang merupakan mood booster baginya. Disaat dia merasakan lelah, amarah, suaminya selalu berhasil membuatnya melupakan masalah yang dialaminya walaupun sebentar.


Dengan tenang Tia menunggu didepan meja kasir saat pemilik meja itu sedang melakukan aktivitasnya menghitung belanjaan yang Tia bawa satu keranjang penuh. Didalamnya terdapat beberapa sayuran, daging sapi dan ayam, dan beberapa bahan lainnya. Sebenarnya Tia lebih menyukai berbelanja dipasar tradisional. Selain harganya yang murah, sayuran para petani juga lebih segar karena baru dipetik. Tapi apalah daya, mama Ratna tidak memperbolehkannya lagi belanja di pasar tradisional. Terakhir kali, sayuran yang ia beli dibuang kesampah oleh mertuanya itu. Mama Ratna menganggap jika belanja dipasar tradisional tidak bersih dan kotor. Tidak sesuai level keluarga mereka.


“Totalnya satu juta lima ratus enam puluh satu ribu rupiah, Kak.” Suara kasir itu membuyarkan lamunan Tia.


“Oh, saya pakai debit Bank A, ya.” Tia memberikan kartunya untuk dilanjutkan lagi pada proses berikutnya. Setelah beberapa saat, mbak kasir memberikan ekspresi wajah yang aneh karena kartu yang ia proses tidak dapat menyelesaikan transaksinya.


“Maaf, Kak. Kartu ini limitnya tidak cukup untuk transaksi. Mungkin saldonya sudah habis atau sedang ada gangguan.” Mbak kasir memberikan kartu debit milik Tia.


“Ah, sebentar, Mbak. Coba saya hitung dulu ya uang cash saya.” Tia mengeluarkan dompetnya dan menghitung uang yang ada didalamnya. Sambil berharap-harap cemas takut jika uangnya tidak cukup.


“Campur dengan beberapa koin tak apa ya, Mbak.” Tia memberikan uang ratusan dengan beberapa campuran pecahan sepuluh ribuan dan ada beberapa koin disana.


Kasir itu menerima uang pembayaran dari Tia dan menghitungnya dengan seksama. “Uangnya pas ya, Kak.” Setelah selesai menyelesaikan transaksi, kasir itu memberikan struk belanja.


Tia keluar dari supermarket tersebut dengan perasaan lega, karena banyak mata memandangnya dengan tatapan sinis saat kartunya kehabisan isi. Ada sebagian orang yang membicarakannya dengan berbisik-bisik, walau suara mereka pelan, tapi cukup bisa membuat Tia mendengarnya karena tepat diantrian belakangnya.


Setelah Tia keluar dari supermarket, Tia langsung menuju mesin ATM untuk mengecek saldo tabungan miliknya itu. Dengan pasti Tia menekan enam digit pin, dan menuju kemenu cek saldo. Tanpa Tia sadari ternyata yang tersisa dati tabungannya tidak lebih dari lima ratus ribu rupiah.

__ADS_1


__ADS_2