CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 97


__ADS_3

Tia berjalan menyusuri pantai yang memiliki pasir putih dan lembut, disekitar pantai terhampar pohon kelapa yang menjulang tinggi, dan dihadapannya terdapat bentangan alam yang mengagumkan. Palawan Beach berada disebelah selatan Sentosa Island. Tempat ini memiliki pemandangan indah dan cocok sekali untuk menenangkan jiwa. Tapi tidak begitu dengan yang Tia rasakan, pantai membuatnya kembali kemasa lalu. Hatinya terasa sakit saat mengenang kebersamaannya dengan Rio dipulau Raja Ampat dulu, dimana akhirnya dia menyerahkan jiwa dan hatinya kepada seseorang yang telah menjadi suaminya itu. Tia menyumpah dalam hati jika dia salah memilih tempat karena semakin membuatnya terpuruk dengan kenangan-kenangan indah bersama suaminya.


“Tia!” panggil seseorang dari kejauhan. Tia membalik badannya untuk melihat seseorang yang mengenalnya dinegeri asing ini. Tia harus menyipitkan matanya untuk bisa fokus melihat wajah orang yang memanggilnya, samar-samar mulai terlihat saat orang itu mendekat.


“Gilang? Bagaimana bisa kamu ada disini?”


“Aku hanya sedang berjalan-jalan melepas penat. Tidak kusangka bertemu denganmu disini.”


“Kamu yakin jika pertemuan kita ini sebuah kebetulan? Bukan karena kamu sengaja mengikutiku?”


“Tidak, tidak, Tia. Jangan salah paham. Aku juga sedang menemani Gaby di Singapura.”


“Lalu dimana dia?” tanya Tia sambil mengiringi Gilang yang mulai berjalan disebelahnya.

__ADS_1


“Dia di Mounth Elizabeth Hospital. Dia sedang sakit, Tia.”


“Astaga. Sakit apa Gaby, Lang? Bagaimana keadaannya?” Tia tetap merasa khawatir walau mantan adik iparnya dulu juga turut andil menghancurkan hidupnya.


“Ada tumor dirahimnya. Semua dokter yang ada di Jakarta menyarankan untuk mengangkat rahimnya agar nyawanya bisa tertolong. Tapi Gaby tidak menginginkannya. Dia ingin tetap mempunyai rahim agar bisa mengandung benih suami brengseknya itu.” Tangan Gilang mengepal kuat menahan amarah.


“Gaby sudah menikah? Dan kenapa kamu membenci suami Gaby?”


“Dia baru menikah dua bulan lalu. Dan saat mengetahui penyakit Gaby, dia langsung mundur dan mengajukan cerai. Gaby semakin terpuruk dan hal itu memperparah penyakitnya. Jadi disinilah dia berjuang untuk mempertahankan keinginannya.”


“Mama ada bersama dengannya. Kamu tidak marah padanya, Tia?”


“Siapa? Gaby?”

__ADS_1


“Aku tahu jika Gaby dulu juga sering merendahkanmu. Karena . . .”


“Karena aku belum bisa hamil? Ya, aku memang sempat marah pada semuanya Gilang. Tapi kemarahanku itu tidak bisa mengembalikan waktu dimana aku bisa bahagia sebelum mengenalmu. Jadi kuputuskan untuk mengikhlaskannya dan memafkan segalanya. Tapi untung saja Gaby tidak mendapatkan perlakuan yang lebih buruk dari suaminya.” Tia mencoba menyindir pria disebelahnya.


“Maafkan aku, Tia. Aku sungguh menyesal, benar-benar menyesal.”


“Sudahlah Gilang, semuanya juga sudah berlalu.” Tia menghentikan langkahnya dan menatap Gilang sebentar. “Kalau begitu, aku kembali dulu ke hotel. Aku ingin bersitirahat, badanku lelah sekali.”


“Tia, tunggu!” Gilang menghentikan langkah Tia yang mulai melangkah pergi, “Bolehkah aku mengantarkanmu? Aku hanya ingin memastikan kamu aman sampai tujuan. Bagaimana pun juga ini tempat asing bagimu.”


“Tidak perlu. Aku tahu arah hotel itu.”


“Kumohon. Saat ini saja.” Gilang mulai mengiba.

__ADS_1


Tidak ingin membuat keributan, Tia akhirnya menyetujui keinginan Gilang untuk mengantarkannya. Mereka berjalan beriringan menyapu pasir pantai yang mulai dingin karena matahari mulai merangkak turun. Tia sebenarnya masih merasakan sakit hati yang mendalam setiap mantan suaminya itu berada didekatnya, tapi saat ini sakit hati yang lebih parah sedang menghantam hatinya, membuatnya sedikit melupakan rasa bencinya kepada mantan suaminya itu. Terlebih lagi adiknya sedang sakit serius, Tia sebagai perempuan turut merasakan sakit dan sedih karena penyakit Gaby berhubungan dengan rahimnya.


__ADS_2