CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 23


__ADS_3

Tante Meri tampak sinis memandang ke arah Tia. Kemarahan terpampang jelas di wajahnya. Sungguh Tia tidak pernah menduga kenapa mamanya tega melakukan hal itu. Padahal jelas-jelas mamanya yang menyuruhnya untuk memasak menu yang hari ini dia hidangkan.


“Tia, sekarang duduk ya. Mari kita makan. Kita patut bersyukur ada makanan yang tersaji didepan kita. Tak baik kita bertengkar didepan makanan. Ayo, Nak, duduk ditempatmu.” Pinta suami Tante Meri dengan suara yang menenangkan.


Malam itu, Tia mengunyah makanannya dengan tenang. Tanpa ikut mengobrol dengan lainnya. Hatinya masih begitu sedih dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi tiba-tiba dia terkejut karena Tante Meri tiba-tiba memanggil namanya.


“Kamu tidak mendengar panggilan dari Tante, Tia?”


“Maaf, Tante. Tadi Tia sedikit melamun. Ada apa, Tante?”


“Sudah berapa lama kamu dan Gilang menikah?” tanya Tante Meri yang masih dengan ekspresi sinisnya.


“Sudah enam bulan lebih, Tante.”


“Dan kamu belum juga hamil?”


“Emmm . . . mungkin memang belum waktunya, Tante.” Jawab Tia dengan suara bergetar.


“Belum waktunya atau jangan-jangan kamu mandul?” ucap Tante Meri dengan nada bicara yang tak berubah. Hati Tia langsung merasakan pedihnya.


“Ma! Jangan bicara seperti itu. Mereka masih muda, dan pernikahan mereka juga baru enam bulan. Kita tidak boleh memfonisnya seperti itu.” Sanggah suami Tante Meri.

__ADS_1


“Kenapa? Apa itu hal yang salah?” Tante Meri memandang Gilang, “Jawab Tante, Gilang. Apakah salah menanyakan hal itu kepada seseorang yang sudah menikah?”


“Tidak, Tante.” Jawab Gilang pelan.


“Lihat! Bahkan suaminya saja membetulkan apa yang kutanyakan. Lebih baik kalian cepat periksa ke dokter. Untuk apa mempertahankan seseorang yang tidak bisa menghasilkan keturunan?”


“Maaf, Tante. Gilang rasa kalimat Tante yang baru saja itu sudah keterlaluan. Mungkin saja benar seperti kata Tia karena belum waktunya. Kami masih berusaha, Tante.”


“Yang lain-lain setelah menikah satu bulan, rata-rata banyak yang sudah hamil, kok.” Lanjut Tante Meri.


“Mama juga sebenarnya penasaran kenapa Tia belum hamil juga.” Tambah Mama Ratna.


“Maaf, Tia sepertinya kurang enak badan. Tia pamit dulu kekamar.” Tia berdiri dari kursinya dan meninggalkan semuanya yang berada dimeja makan.


“Sudah biarkan saja. Mungkin memang dia lagi kurang enak badan, Ma.” Tambah suami Tante Meri.


“Gilang permisi juga ya, Tante dan Om. Gilang mau melihat kondisi Tia.” Gilang perpamitan untuk melihat keadaan istrinya didalam kamar.


“Sungguh baik Gilang itu, istri seperti itu masih disayang.” Kata Tante Meri.


“Siapa dulu mamanya!” jawab Mama Ratna dengan bangga.

__ADS_1


Mereka yang dimeja makan melanjutkan makannya dengan beberapa obrolan ringan, sedangkan Gilang sudah sampai didalam kamarnya mendapati Tia yang menangis.


“Maafkan Tante Meri ya, sayang. Namanya juga orang tua, pasti menanyakan hal itu.” Gilang memeluk dan membelai kepala Tia.


“Tapi kenapa harus seperti itu cara bertanyanya, dan kenapa Tante Meri mengatakan jika aku mandul, Mas.” Tia masih menangis dalam pelukan suaminya.


“Mungkin karena Tante Meri kesal karena kamu hanya menyiapkan makanan seperti itu. Bagaimanapun mereka tamu kita yang harus kita hormati. Apa salahnya kamu memasak dengan bahan daging sapi atau ayam. Padahal menu sehari-hari yang kamu masak saja selalu ada minimal daging ayam, ini kenapa saat ada tamu kamu malah memasak yang tidak selayaknya disajikan untuk tamu.”


“Tapi menu yang aku masak hari ini atas saran dari mama, Mas. Mana mungkin aku memasak makanan sederhana seperti itu jika bukan saran dari mama.” jelas Tia.


“Mana mungkin mama menyuruhmu untuk memasak itu?” Gilang melepaskan pelukannya.


“Apa aku pernah berbohong padamu, Mas?” tanya Tia yang terkejut akan respon dari suaminya.


“Tidak pernah. Tapi mana mungkin mama menyarankan hal itu? Atau kamu hanya salah dengar.”


“Tidak, Mas. Tia yakin mama yang meminta menu itu.”


“Sudah, jangan menyalahkan orang lain karena kesalahanmu. Cukup kamu meminta maaf dari pada melimpahkan kesalahan pada orang lain.” Gilang mulai marah karena Tia menyalahkan mamanya.


“Apa Mas kira Tia menyalahkan mama karena kesalahanku?”

__ADS_1


“Sudah cukup!!! Kita sudahi pembicaraan ini saja dari pada kamu mencari kambing hitam atas kesalahanmu.” Gilang meninggalkan Tia yang terpaku atas sikap Gilang terhadapnya. Gilang keluar kamar dengan sedikit membanting pintu kamarnya. Baru kali ini dia melihat Gilang seperti itu.


Tia kembali menitihkan air matanya karena sikap yang baru saja Gilang tunjukkan padanya. Suaminya sudah tidak mempercayainya hanya karena ini berlawanan dengan orang tuanya.


__ADS_2