CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 38


__ADS_3

“Bagaimana, Dok?” tanya Tia setelah dokter Rena kembali ke kursinya. Sedangan Cindy masih memakai kancing celananya.


“Kondisi janin dan ibunya sama-sama bagus. Usia kehamilannya sekitar delapan minggu. Ini usia rentan, jadi harus dijaga baik-baik. Jaga pola makan dan perbanyak istirahat. Jangan terlalu stres. Tolong selalu mengingatkan pada sahabat Anda.”


“Terimakasih, Dok. Saya akan selalu mengingatkan.” Jawab Tia.


“Dimana suami Bu Cindy? Kenapa Bu Tia yang menemani?”


Cindy ikut duduk disebelah Tia, “Saya tidak punya . . . “ belum selesai Cindy berbicara, sudah dipotong oleh Tia.


“Oh, suami Cindy sedang kerja keluar negeri, Dok. Jadi saya sementara ini yang menemani dan menjaganya.”


“Baiklah. Ini resepnya, ada vitamin untuk perkembangan dedek bayinya. Dan ada beberapa obat pusing yang bisa dikonsumsi jika nyeri kepala. Ada juga obat mual yang bisa dikonsumsi setiap pagi. Bisa ditebus di apotik rumah sakit.”


“Terimakasih, Dok.” Tia dan Cindy keluar dari ruang pemeriksaan.


“Duduklah disini, aku akan membayar dan mengatri di apotik.”


“Kamu ada uang?” tanya Cindy. Tia menggelengkan kepalanya dengan senyum di wajahnya. Setelah itu Cindy mengeluarkan kartu debitnya agar bisa dipakai oleh Tia.


Setelah beberapa saat Tia sudah kembali dengan satu kantong obat ditangannya. Tia mengajak Cindy untuk pergi dari rumah sakit dan berlanjut untuk berbelanja bahan makanan yang akan ia masak sore ini.


“Apa kamu tadi mau tampak bodoh didepan dokter Rena?” tanya Tia yang saat ini berada dibalik kemudi.


“Maksudnya?”

__ADS_1


“Tidak punya suami?”


“Oh, itu. Kan memang aku tidak punya suami.”


“Paling tidak berbohonglah agar dirimu tidak dicap buruk karena hamil tanpa suami.”


“Aku sudah biasa dicap buruk, Tia.”


“Mulai sekarang jangan biasakan itu. Kamu akan punya seorang anak. Jangan sampai anak itu menuai apa yang orang tuanya tanam. Ajarkanlah dia kebaikan. Dan sebelum kamu mengajarkannya, perbaiki dulu dirimu.”


“Baik, bu guru. Harusnya kamu dulu ambil kuliah pendidikan bukannya bisnis. Kamu begitu terampil dalam mengomel, Tia.”


“Ini bukan omelan, Cindy. Tapi ini nasihat. Saran!”


“Baik, Bu.” Seru Cindy.


“Kapan kamu mengurus perceraianmu, Tia?”


“Mungkin nanti, Cind. Secepatnya setelah aku mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.


“Kamu harus cepat lepas dari Gilang.”


“Tentu saja.”


 

__ADS_1


“Duduklah didalam mobil sementara aku berbelanja, ingat kata dokter Rena, kamu harus banyak-banyak istirahat.” Kata Tia saat dia sudah memarkir mobilnya.


“Tapi aku ingin ikut.” Rengek Cindy.


“Oy . . . oy, kamu sekarang sudah bisa merengek seperti bayi? Kamu harus berterimakasih dengannya karena bisa merubah sikapmu yang terkadang terlalu kaku.” Kata Tia sambil menunjuk perut sahabatnya.


Dengan terpaksa Cindy mengikuti perintah temannya karena Tia tetap tidak mau mengajaknya. Untuk urusan ini, perhatian Tia melebihi dari biasanya. Cindy sadar betul jika sahabatnya itu sangat menyayanginya.


Tak perlu waktu lama, hanya 15 menit Tia sudah keluar dari supermarket dengan beberapa kantong belanjaan yang didalamnya terdapat sayuran dan daging.


“Coba tanyakan pada pria bulemu, apakah dia mempunyai alergi makanan? Aku tidak mau meracuni calon suamimu.” Ucap Tia saat dia sudah masuk kedalam mobil.


“Ok, nanti aku tanyakan. Bisakah kita pulang sekarang? Aku sangat merindukan ranjangku.”


“Tentu. Pakai sabuk pengamanmu lagi. Kita akan pulang.”


Tepat pukul tujuh malam, tamu yang Cindy dan Tia tunggu sudah datang. Cindy langsung mengarahkan tamunya langsung kemeja makan, karena makanan sudah tersaji lengkap diatas meja makan. Tamu itu menyapa Tia saat keduanya bertemu.


“Perkenalkan, Tia. Dia Yose. Dan Yose, dia Tia. Sahabatku.” Cindy memperkenalkan keduanya. Yose menjabat tangan Tia.


“Hay Tia. Senang bertemu denganmu.” Sapa Yose.


“Senang bertemu denganmu, Yose. Duduklah, Yose.” Tia mempersilahkan tamunya. “Jadi, kamu cukup fasih berbahasa Indonesia.”


“Saya dulu pernah beberapa tahun bekerja menjadi konsultan dibeberapa perusahaan, jadi saya cukup pandai dalam berbahasa.” Jawab Yose yang tetap kental dengan logat asal negaranya.

__ADS_1


Mereka bertiga melanjutkan obrolan disela-sela makan malam mereka. Tia lebih banyak bertanya kepada Yose tentang kesiapannya dalam menikahi Cindy. Tia juga terang-terangan menanyakan bagaimana jika anak yang dikandung Cindy ternyata bukanlah anaknya. Tentu saja pertanyaan itu meluncur dari mulut Tia atas ijin dari Cindy. Tia menggunakan waktu makan malam itu untuk mengenali pribadi calon suami Cindy.


__ADS_2