CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 32


__ADS_3

Disepanjang jalan, Gilang tidak henti-hentinya berfikir dan bertanya-tanya apakah apa yang dilakukannya malam itu terbaca oleh istrinya. Bagaimanapun Tia pernah berada pada posisi tinggi karena intuisi yang ia miliki. Tia bisa dengan tepat membaca peluang dan memprediksi apa langkah yang akan dia ambil untuk dapat meloloskan berbagai proyek besar. Gilang tidak bisa fokus pada kemudinya, beberapa kali dia harus membanting setir untuk menghindari sesuatu ataupun harus mengerem mendadak karena kendaraan didepannya berhenti karena lampu merah.


“Selamat pagi, Pak Gilang.” Sapa Dera dengan senyum cerah diwajahnya.


“Pagi, Dera.” Jawab Gilang seperlunya lalu masuk kedalam ruangannya.


“Ada apa, Pak? Kenapa muka Bapak seperti itu? Saya sengaja datang lebih pagi untuk bertemu Bapak.” tanya Dera khawatir akan orang yang dicintainya.


“Apa Bapak ketahuan sama bu Tia?”


“Sssstttt . . . kecilkan suaramu. Apa kamu mau memberi tahu seluruh kantor tentang hubungan kita?”


“Tapi saya khawatir, Pak. Baru semalam kita mengarungi surga dunia dan sekarang Bapak sudah mengacuhkan saya?”


“Tidak, Der. Saya tidak mengacuhkan kamu. Saya hanya sedang banyak pikiran.”


“Kenapa, Pak? Bapak bisa cerita dengan saya.”


“Tia tidak menyadari apa-apa pada awalnya, dan mungkin karena sikapku yang terlalu aneh membuat Tia bertanya.”


“Betul karena itu, Pak? Bukan karena Bapak ingin menghindari saya?” tanya Dera sambil dia beranjak mendekati Gilang dan duduk diatas pangkuannya.


“Dera! Cepat turun dari pangkuanku. Bagaimana jika ada yang melihat?” bentak Gilang dengan suara yang tertahan. Ruangan Gilang hanya bersekat dan setinggi dada dewasa jika berdiri. Dia belum memiliki ruangan tertutupnya sendiri karena belum mendapatkan promosi jabatan.


“Semua pegawai belum ada yang datang, Pak. Ini masih jam tujuh pagi. Baru kita berdua yang ada diruangan ini.” Ucap Dera. Gadis itu melingkarkan tangannya keleher Gilang dan mendaratkan ciumannya ke bibir Gilang.

__ADS_1


Sambil terus berciuman, tangan Dera turun kebawah untuk membuka sabuk yang melingkar diperut Gilang, gerakan tangan mungilnya tergolong sangat lincah untuk mengeluarkan barang yang bersarang didalam celana laki-laki yang saat ini didudukinya. Dengan cepat Dera menaikkan roknya dan bermain diatas Gilang dengan liar. Gilang tak mampu menolak karena merasakan pengalaman baru yang lebih mendebarkan yang ia dapatkan sejak bersama dengan gadis magangnya.


‘Cafe R’


“Hallo, sayang.” Cindy duduk dikursi depan Tia dan memberikannya kecupan di pipi.


“Ada apa? Apa yang mengganggu pikiranmu?”


“Bagaimana kabarmu, Cind? Sudah satu bulan lebih kita tidak berjumpa seperti ini.”


“Kabarku baik-baik saja. Dan ada yang ingin kuceritakan padamu. Jika aku . . . “ kalimat Cindy terhenti karena sahabatnya sudah menitihkan air mata dan sekuat tenaga menahan ledakan tangisnya.


“Mas Gilang, Cind. Aku rasa dia sudah menghianatiku.” Ucap Dera dengan suara yang bergetar.


“Kamu ingat gadis magang yang pernah kutanyakan kepadamu beberapa minggu lalu?”


“Iya, Dera bukan? Ada apa dengan anak itu?”


“Aku rasa jika mereka ada affair dibelakangku. Kemarin malam mas Gilang tidak pulang tepat waktu, bahkan aku menunggunya sampai tengah malam. Dan kamu tahu apa alasan mas Gilang? Dia mengatakan jika sedang lembur karena ada proyek besar. Aku mencoba mempercayainya, Cind, tapi aku juga pernah bekerja di S&D Group, sebesar apapun proyek yang sedang dikerjakan, tidak akan pernah mengerjakannya sampai menjelang pagi.”


“Mungkin kamu hanya sedang terlalu sensitif, Tia.” Cindy menggenggam kedua tangan Tia.


“Tenanglah dulu, aku akan memesankanmu minuman hangat. Tunggu aku disini.” Pinta Cindy.


Setelah beberapa saat Cindy kembali dengan satu gelas moca panas untuk Tia dan juga Latte untuknya.

__ADS_1


“Minumlah dulu perlahan, awas panas.” Dalam kalimat Cindy penuh akan rasa kekhawatiran.


“Aku berharap jika dugaanku ini salah, tapi hati kecilku terus saja meminta untuk meyakini kesimpulanku ini. Karena akhir-akhir ini, mas Gilang selalu tersenyum saat membicarakan tentang Dera. Aku perempuan Cindy, aku tahu mana tatapan biasa ataupun tatapan yang memancarkan perasaan dari seorang pria.” Tia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia mencoba menahan kesedihannya agar tidak membuat kegaduhan di cafe jika sampai dia menangis meraung-raung.


“Semua sudah kulakukan, semua yang di inginkannya sudah aku berikan. Bahkan aku harus menahan penderitaan yang mama Ratna berikan padaku. Karena aku begitu mencintai Gilang, Cind. Aku harus bagaimana?”


Cindy mendengarkan keluh kesah kesedihan yang Tia utarakan. Dia terdiam untuk memberikan Tia ruang agar bisa mencurahkan semua kesedihan yang selama ini disimpannya.


“Kenapa kamu tidak menghubungi Pak Erwin dan bertanya apakah benar jika malam kemarin mereka lembur bersama-sama. Dari pada kamu hanya menerka-nerka.” Saran Cindy.


“Aku takut jika ternyata itu hanya alasan mas Gilang, Cind. Bagaimana nanti mas Gilang menunjukkan wajahnya  jika ternyata dia berbohong.”


“Kamu masih memikirkan kehormatannya?” ucap Cindy dengan ekspresi keterkejutannya.


“Tentu saja! Dia suamiku, Cind!”


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”


“Aku tak tahu, Cind. Aku takut kehilangan suamiku. Aku sangat mencintainya.”


“Bagaimana jika kamu mengamati Gilang dulu untuk beberapa minggu kedepan. Aku sebagai sahabatmu tetap menginginkan yang terbaik untukmu, tapi jika ada hal yang menyakitimu, dengan pasti aku akan membawamu keluar dari lingkaran penderitaan.”


“Aku akan mencobanya. Semoga saja semua dugaanku salah. Terimakasih, Cind. Kamu mau mendengarkan keluh kesahku.” Ucap Tia. Dengan perlahan dia mengusap sisa air mata yang mengembang disudut matanya.


“Itulah gunanya sahabat. Aku akan selalu ada bersamamu. Tenanglah.” Cindy mendekatkan kursinya dan memeluk Tia, berusaha menenangkannya.

__ADS_1


__ADS_2