CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 59


__ADS_3

“Gila! Jika begini terus, bisa-bisa aku mati karena kelelahan bekerja. Pak Rio tak ada ampun.”


“Betul, betul. Kalian tahu? Pekerjaan yang bahkan deadlinenya masih minggu depan, Pak Rio minta menyelesaikannya hari ini juga. Padahal semua datanya belum terkumpul.” Cerita tim Rio kepada tim lainnya.


“Untung saja aku ada dibawah Bu Tia.”


“Aku juga, untung saja ada dibawah kepemimpinan Pak Erwin.”


“Aku merindukan Bu Cindy. Hiks . . .”


“Sudah selesai mengeluhnya? Jam makan siang akan selesai dalam 5 menit lagi, kalian tidak ingin segera kembali keruangan masing-masing?” sergah Rio secara tiba-tiba. Mereka semua kalang kabut dan menyelesaikan makan minum dengan tergesa-gesa.


Karyawan lainnya yang tidak bekerja disatu devisi dengan Rio merasa bersyukur, walau mendapat gaji yang tidak terlalu besar, tapi mereka bisa bekerja dengan nyaman.


“Apa benar kabarnya jika mereka berdua bertengkar?” tanya Toni pada beberapa teman satu devisinya saat mereka masih duduk dikantin.


“Siapa?” tanya Gilang.


“Pak Rio dan Bu Tia, Lang.”


“Betulkah?”


“Ini kesempatanmu jika ingin mendapatkan hati Bu Tia kembali. Apalagi Dera sudah selesai magang dikantor ini, tidak ada lagi yang akan menghalangimu.”


“Aku malu jika harus mendekatinya lagi.”


“Lakukan saja, Lang. Jika masih cinta, maka perjuangkan. Apalagi bulan depan kamu akan mendapatkan promosi naik jabatan, posisimu dengan Bu Tia tidak akan terlalu jauh lagi.”


“Apa kamu yakin jika namaku ada didaftar promosi itu?”


“Aku yakin sekali.”

__ADS_1


“Baiklah, aku akan memperbaiki kesalahanku dimasa lalu.”


“Semangat, kawan.” Toni memberikan semangat kepada Gilang.


- - -


Tok . . . tok . . . tok . . . seseorang mengetuk pintu ruangan Tia.


“Masuk.” Tia mempersilahkan tamunya tanpa melihat siapa yang datang.


“Minumlah ini, cuaca hari ini cukup dingin, kamu bisa menghangatkannya dengan ini.” Seseorang itu meletakkan teh jahe hangat dimeja Tia.


“Gilang? kenapa kamu kesini? Jika mau menemui Pak Erwin, ruangannya ada disebelah.”


“Aku tidak ingin keruangan Pak Erwin. Seperti kataku tadi, aku memberimu teh jahe hangat, karena hari ini cukup dingin.”


“Terimakasih, Gilang. Tapi, maaf, aku tidak membutuhkannya. Apalagi itu darimu. Aku tidak ingin orang lain salah paham, jadi . . .”


“Aku hanya mengantarkan minuman ini saja, minumlah. Aku akan pergi.” Gilang berpamitan dan meninggalkan ruangan Tia.


Tanpa sepengetahuan Tia, diluar sana sudah ada dua pasang mata yang memperhatikannya secara diam-diam. Walau Rio tidak pernah memulai terlebih dahulu untuk berinteraksi dengan Tia, namun pria tampan itu secara diam-diam terus saja memperhatikannya, menjaga, dan mengikuti Tia sampai kedaerah lingkungan rumah Tia. Rio tetap ingin menjaga Tia walaupun secara diam-diam.


“Mau kuantar Tia?” ajak Gilang saat tahu jika Tia menunggu bis dihalte depan kantor.


“Tidak, terimakasih.”


“Ikutlah bersamaku. Aku akan mengantarkanmu dengan aman.” Gilang tetap berusaha untuk membujuk Tia.


“Gilang, aku mohon, tolong jaga jarak denganku. Aku merasa tidak nyaman berada didekatmu.”


“Aku tahu jika aku banyak bersalah padamu dimasa lalu, tapi aku ingin menebus kesalahanku.”

__ADS_1


“Tidak perlu, Gilang. Aku pergi dulu, bis ku sudah datang.” Tia meninggalkan Gilang yang masih memarkir mobilnya dipinggir jalan.


“Untuk apa lagi dia mencoba untuk mendekati Tia?” gerutu seseorang yang sedari tadi mengawasi Tia dari seberang jalan.


“Awas saja jika dia berani mendekati Tia lagi, aku akan menghajarnya sampai habis.” Rio mengepalkan kedua tangannya mencoba menahan amarahnya.


Rio tidak melanjutkan mengawasi Gilang yang masih berada ditempatnya. Rio memilih untuk mengikuti arah bis yang ditumpangi oleh Tia. Tapi hari ini bis yang ditumpangi Tia berbeda dari biasanya, Tia turun dari bis itu dan berganti menaiki bis yang menuju kebandara.


“Bandara? Mau kemana dia?” Rio mencoba untuk tetap berada pada jarak pandang yang aman agar Tia tidak mengetahui jika dia membuntutinya selama ini.


“Cindy!!!” teriak Tia saat dia melihat Cindy masih menunggunya didepan ruang tunggu bandara.


“Tia!” Cindy membalas lambaian Tia dan berjalan kearahnya. Dua sahabat itu saling berpelukan dengan hangat dan diliputi rasa haru.


“Kamu tidak perlu menyusulku kesini, Tia. Aku akan merasa sedih jika melihatmu sebelum pergi.”


“Justru aku yang akan sedih jika tidak melihatmu, karena setelah ini aku tidak akan bisa langsung menemuimu sesukaku seperti biasanya.”


“Doakan aku, Tia. Doakan agar aku bisa betah hidup dinegeri orang.”


“Tentu kamu akan betah disana, karena disana kamu bersama dengan orang yang mencintaimu.”


“Maaf jika aku tidak sempat memberikan apa-apa padamu.” Tambah Tia.


“Kedatanganmu ini saja sudah lebih berharga dibandingkan perhiasan termahal didunia ini. Karena aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti dirimu.”


“Sayang, kita harus segera chek-in.” ajak Yose.


“Aku pergi dulu, Tia. Kita masih bisa berteman dan saling memberikan kabar, kan?”


“Tentu saja. Hati-hati.” Tia melepaskan genggaman tangannya dan melambaikan tangannya dengan senyum bahagia diwajahnya. “Yose! Jaga Cindy untukku.”

__ADS_1


“Tentu saja.” Yose mengacungkan jempolnya tanda jika ia akan melakukan perintah Tia dengan sungguh-sungguh.


Dan sekarang, Tia merasa sendirian lagi karena sahabat satu-satunya sudah pergi bersama kebahagiaannya.


__ADS_2