CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 31


__ADS_3

“Ma . . . kenapa Mas Gilang belum pulang juga, ya?” Tia khawatir karena suaminya sampai tengah malam belum pulang juga.


“Kamu sudah telepon, Gilang?” jawab mama Ratna yang baru keluar dari dapur untuk mengambil air.


“Sudah, Ma. Tapi nomor mas Gilang tidak aktif. Tia jadi khawatir. Tia takut kalau . . .”


“Mungkin Gilang sedang lembur. Sudah, suami kerja ko malah pikiran yang enggak-enggak. Jadi istri tu yang pengertian sama suami. Mama balik dulu ke kamar.” Mama Ratna meninggalkan Tia yang masih mondar-mandir didepan ruang keluarga.


Tak henti-hentinya dia memperhatikan jam dinding dan juga pintu depan. Berharap suaminya akan segera datang. Jam sudah menunjukkan tengah malam, tapi sosok yang dicintainya tidak muncul juga. Berkali-kali Tia terus mencoba untuk menghubungi nomor Gilang, tapi selalu saja tidak tersambung.


“Dimana kamu, Mas? Kenapa tidak bisa dihubungi.” Tia gelisah karena Gilang tidak pernah menghilang seperti ini.


Tia berbaring di atas sofa dan menunggu suaminya dengan cemas. Tia mencoba memejamkan matanya untuk berfikir kemungkinan kemana suaminya berada, dan apa yang sedang dilakukan suaminya. Berbagai pikiran buruk sempat melintas ke pikirannya, apalagi baru- baru ini ada sosok yang sering mengganggunya karena banyak menjadi bahan pembicaraan suaminya. Walau suaminya hanya menceritakan keseharian kerja mereka, tapi akhir-akhir ini Gilang sering tersenyum saat membicarakan Dera. Dan Tia sadar, bahwa senyumannya itu memiliki arti yang khusus.


Saat Tia membuka matanya, tubuhnya sudah berada dibawah selimut didalam kamarnya. “Mas? Jam berapa ini?” tanya Tia saat dia tersadar sudah terbangun diatas ranjangnya. Perempuan cantik itu berusaha membuka matanya karena kantuk yang masih menyerang.


“Ini sudah jam enam pagi, sayang.” Gilang menghampiri Tia. “Kenapa kamu tidak tidur didalam kamar?”

__ADS_1


“Aku menunggumu, Mas. Jam berapa kamu pulang?”


“Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Maaf ya karena tidak bisa mengabarimu.”


Tia menggenggam kedua tangan suaminya, “Jangan begitu lagi ya, Mas. Sesibuk apapun jika ada yang sangat mendesak tolong hubungi aku. Aku sangat khawatir karena nomormu tidak bisa dihubungi.”


“Iya, maafkan aku.” Gilang mengecup kening istrinya. “Aku mandi dulu, ya. Aku harus bersiap untuk kekantor lagi.”


“Mas Gilang lembur dengan Dera juga?” tanya Tia penasaran. Gilang terdiam diambang pintu kamar mandi karena pertanyaan Tia yang tiba-tiba. Tidak pernah Tia menanyakan dengan siapa dia lembur selain dirinya yang menceritakan.


“Emm . . . aku.” Wajah Gilang tiba-tiba cemas dan nada bicaranya gelagapan. “Semalam aku lembur dengan beberapa karyawan lainnya. Karena ini proyek besar jadi kami membantu untuk menyelesaikan proyek ini dengan cepat. Ada apa, Tia? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakannya?” selidik Gilang yang merasa khawatir.


Tia merasakan ada hal yang ganjil pada sikap suaminya. Dengan cepat dia menyambar ponselnya yang tergeletak dimeja nakas. Dengan pasti dia menekan nomor Cindy untuk menanyakan sesuatu yang saat ini dirasa mencurigakan.


“Hallo, Tia?” jawab Cindy dari seberang sana.


“Cind, ada sesuatu yang harus kutanyakan padamu. Bisakah siang ini kita bertemu?”

__ADS_1


“Tentu saja, sayang. Kemana kita bertemu hari ini?”


“Kita bertemu di ‘Cafe R’ saja. Aku akan mengabarimu jika aku sudah ada disana.” Jawab Tia.


“Kamu tidak apa-apa, Tia? Kenapa suaramu seperti orang yang mau menangis?” tanya Cindy khawatir.


“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku tutup dulu teleponnya. Bye Cindy.” Setelah mendapatkan balasan dari sahabatnya, Tia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Dan bersikap biasa saja saat Gilang sudah keluar dari kamar mandi.


“Aku hari ini ingin bertemu dengan Cindy, Mas.” Tia memberitahu suaminya.


“Kenapa? Apa yang akan kalian bicarakan?” Gilang tiba-tiba gugup dihadapan istrinya.


“Ada apa, Mas? Kenapa sikapmu aneh sekali pagi ini? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu? Aku bertemu Cindy bukan untuk yang pertama kali. Apakah kamu telah melakukan kesalahan?” tanya Tia dengan suara yang dibuat setenang mungkin.


“Tidak . . . tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya penasaran apa yang akan kalian bicarakan jika kalian berjumpa. Aku hanya takut kamu terbawa pengaruh buruk dari Cindy.”


“Cindy temanku, Mas. Dan kamu tahu bagaimana kepribadianku walaupun aku berteman dengannya. Paling tidak aku bukan seorang yang bisa menghianati suami ataupun sahabatku sendiri.”

__ADS_1


Gilang tertohok mendengar kalimat yang baru saja dia dengar dari mulut istrinya. Mulut yang tidak pernah mencurigai apapun tentangnya tapi tiba-tiba saja hari ini istrinya menjadi lebih peka. Gilang merasa khawatir kalau dia sampai ketahuan jika telah menghianati seseorang yang saat ini berada dihadapannya.


Tia bangun dari ranjangnya dan mendekati Gilang. Membantu mengenakan dasi dan jas yang akan dikenakan oleh suaminya ke kantor. “Hati-hati dijalan ya, Mas. Aku setia menunggumu dirumah.” Ucap Tia dengan senyuman tercantiknya.


__ADS_2