
Tia, Rio dan Cindy bersama-sama menyusul Yose. Saat ini Yose sedang mencoba jas yang akan dia gunakan saat pernikahan. Malam ini jalanan sedikit lengang karena sedang hujan deras, banyak pengendara sepeda motor menepi untuk berteduh.
Rio melirik kearah Tia yang merangkul badannya sendiri, perempuan cantik itu sedikit kedinginan karena cuaca hujan ditambah dengan sejuknya AC mobil. Beberapa saat kemudian, Rio berhasil memarkirkan mobilnya dibasement milik perancang busana lokal yang sekaligus akan menjadi WO pada pernikahan Cindy.
Mereka bertiga turun dan Cindy mendahului naik karena sudah mendapat panggilan telepon dari calon suaminya. Sedangkan Tia masih menunggu Rio mengambil beberapa barangnya dimobil.
“Pakailah ini, kamu pasti kedinginan dengan baju seminim ini.” Rio memakaikan jas nya kepada Tia.
“Terimakasih, aku sangat memerlukannya. Aku tidak tahu jika akan turun hujan. Tahu begitu aku meminjam baju Cindy yang lebih tebal.”
“Jangan sungkan untuk meminta pertolonganku. Katakan saja dan aku akan melakukan semua yang kamu pinta.” Ucap Rio dengan sangat lembut.
“Terimakasih sekali lagi, Rio. Tapi kamu tidak perlu sampai mengabulkan semua yang aku inginkan.”
“Jika aku mampu, aku tidak keberatan melakukannya. Bukankah itu gunanya teman?” perkataan Rio begitu meyakinkan.
“Ayo kita masuk, Cindy pasti sudah menunggu kita.” Ajak Tia.
Rio berjalan beriringan dengan Tia. Saat mereka memasuki studio milik perancang lokal yang cukup terkenal itu, Tia merasa takjub melihat aneka gaun pengantin dengan warna putih berjajar dengan rapi dikoridor. Semua gaun itu terlihat begitu mengagumkan, Tia melihatnya satu persatu dengan penuh kekaguman. Rio yang memperhatikan Tia sejak tadi tersenyum tipis karena tingkah lucu Tia.
“Tutup mulutmu jika tidak ingin kemasukan lalat!” ucapan Rio membuat Tia langsung mengatupkan mulutnya.
“Kamu ingin mencobanya?” tanya Rio.
“Iya, oh tidak. Aku tidak ingin mencobanya.” Ralat Tia cepat-cepat.
“Cobalah jika mau.” Rio mendorong Tia.
“Jangan Rio. Kita disini ada untuk Cindy, aku perlu mencoba gaunku. Jadi, ayo kita cepat keruangan itu.” Tia menunjuk ruangan yang sedang ramai oleh Cindy. Cindy sedikit sedih karena gaun yang diukurnya beberapa minggu yang lalu sudah kekecilan karena tubuhnya yang terus saja mengembang.
“Bagaimana ini, Ton?” tanya Cindy pada pemilik design gaunnya.
“Mau bagaimana lagi? Habisnya kamu sih, makan terus.” Seru Antoni dengan sedikit kemayu.
__ADS_1
“Aku kan lagi hamil, aku harus banyak makan.”
“Lebihkan saja ukurannya, karena kami akan menikah tiga minggu lagi. Aku tidak ingin Cindy tersiksa dengan gaunnya.” Saran Yose.
“Apa tidak apa-apa jika aku bertambah gemuk?” tanya Cindy dengan khawatir. Cindy bermanja-manja dengan memeluk Yose mesra.
“Bagiku kamu tetap cantik bagaimanapun keadaanmu, Cindy.” jawab Yose dengan penuh cinta. Cindy langsung mencium bibir Yose dan tentu saja disambut dengan senang hati oleh pemiliknya.
“Hentikan kalian berdua! Apa kalian tidak malu melakukannya didepan umum?” protes Cindy.
“Maaf aku kelepasan.” Cindy memberikan alasan.
“Sekarang gaun bridesmaidnya, siapa yang akan mencoba?” tanya Antoni.
“Dia!” Cindy menunjuk kearah Tia. “Perempuan cantik itu yang akan mencobanya.” Tambah Cindy.
“Kesini cinta, masuklah keruangan ini dan aku akan menyesuaikan ukurannya.” Ajak Antoni.
“Tunggu!” Rio menahan tangan Tia yang sudah ingin beranjak menghampiri Antoni. “Apakah tidak ada asistenmu yang perempuan? Aku tidak nyaman jika Tia harus berurusan denganmu!” perkataan Rio terkesan sangat ketus, dan tentu saja terlihat jelas jika dia sedang berada pada mode posesif.
“Aku tetap tidak setuju. Jika tetap harus kamu, aku akan ikut masuk kedalam?”
“Kamu ingin melihatnya berganti baju?” tanya Antoni.
Uhuk . . . Rio tersedak karena terkejut, “Tidak. Tentu tidak.”
“Kalau begitu, masuklah cantik. Pakai gaunmu, dan aku akan menyesuaikannya diluar. Dari pada kekasih pencemburumu itu menunda pekerjaanku.” Antoni sedikit merajuk karena kesal.
“Dia bukan kekasihku.” Ucap Tia pada Antoni saat dia melewatinya.
“Hah? Lalu jika bukan kekasih, lalu apa? Kenapa kamu sangat posesif, sih?” Antoni semakin ketus.
“Aku malaikat penjaganya!” jawab Rio tak mau kalah.
__ADS_1
“Sambil menunggu Tia, biarkan asistenku mengukurmu untuk setelan jasmu nanti.”
“Tidak perlu. Aku akan meminta perancang langgananku untuk memberikan ukuranku padamu.” Rio menolak dengan tegas.
“Apa!!!” Antoni kesetanan lagi.
“Sudah kalian berdua. Tia sudah menunggu, tuh!” Cindy menunjuk Tia yang sudah berada dibelakang Antoni.
Antoni berbalik menghadap Tia dan tidak menghiraukan Rio lagi. Antoni mulai menyesuaikan ukuran gaun Tia agar sesuai dengan tubuhnya. Ada beberapa bagian yang harus dikecilkan. Hal itu membuat Antoni harus menyentuh bagian punggung Tia karena gaun itu memang memperlihatkan punggung pemakainya dengan sangat lebar. Gaun itu menonjolkan punggung yang begitu indah. Walaupun gaun itu panjang menjuntai sampai ke ujung kaki, tapi bagian atasnya menampilkan kesan yang seksi. Potongan baju yang membuka punggung Tia secara langsung itu terbuka lebar sampai pada batas diatas pinggang rampingnya.
“Buatlah tertutup bagian punggung Tia!” perintah Rio.
“Tidak, bisa! Ini memang sudah modelnya.” Bantah Antoni.
“Lalu gantilah dengan model lainnya, aku akan menanggung semua kerugiannya.”
“Tidak akan cukup waktunyaaaa, ihhhhh!” jerit Antoni dengan nada frustasi.
“Cindy! lebih baik kamu suruh keluar laki-laki ini. Dia memperlambat kerjaku. Sebel!” Antoni mengadu pada Cindy yang sedari tadi hanya memperhatikan dan tersenyum.
“Pak Rio . . . jika Bapak tidak ingin diusir dari sini, hentikan omelan Bapak.”
“Tapi, ini . . . punggung itu . . . , aaarrrghhhhh . . . kenapa kamu harus memilih model seperti ini, Cindy!” Rio marah kepada Cindy.
“Tuan, tolong jaga nada bicara Anda dengan istri saya. Cindy sedang mengandung, jangan membuatnya ketakutan.”
“Aaarrrgghhh . . . sudahlah, lakukan sesuka kalian.” Rio menyambar jas yang dilepas Tia tadi dan pergi meninggalkan semuanya untuk kembali kemobil.
“Kenapa kamu diam saja, Tia?” protes Cindy pada temannya yang sedari tadi hanya terdiam.
“Aku tidak akan bisa melawannya, jadi aku hanya memperhatikan kalian saja kalau-kalau terjadi pertumpahan darah, paling tidak aku masih bisa memanggilkan ambulan.”
“Sialan, lo! Sekarang kamu punya sifat yang menyebalkan seperti Pak Rio!”
__ADS_1
“Hmmm . . . mungkin saja itu terjadi. Hahahahaha.” Tia tertawa lepas karena melihat sahabatnya kalang kabut.