CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 42


__ADS_3

“Saya permisi dulu, Pak. Selamat siang.” Setelah melambaikannya tangannya kepada Cindy, Tia melangkah pergi tanpa memperhatikan lebih lanjut sosok Rio. Dia merasa kurang nyaman dengan tatapan Rio.


“Dia tinggal dimana, Cindy?” tanya Rio tanpa memalingkan pandangannya melihat Tia melangkah menjauh dari ruangan Cindy.


“Dia tinggal dengan saya, Pak. Ada apa?” tanya Cindy penasaran.


“Berikan saya alamatmu, saya tunggu diruangan saya.” Ucapnya lagi dan langsung keluar meninggalkan Cindy tanpa menoleh.


Cindy merasa aneh kenapa pria yang terkenal dingin itu tiba-tiba begitu bersemangat tentang seorang wanita. Cindy melihat map yang berisikan proposal yang Rio tinggalkan dimejanya tanpa mengatakan apa-apa. Dia harus menuju ruangan Rio untuk bertanya dan tentu saja untuk memberikan alamatnya.


Cindy terkejut dengan pesona yang dipancarkan oleh sahabatnya. Tanpa berusaha susah payah, Tia mampu meluluh lantahkan pertahanan Rio.


 


‘Ting tong ting tong’ bel rumah Cindy berdenting malam itu.


Karena Cindy masih mengunyah makanannya, Tia memutuskan untuk membukakan pintu untuk tamu yang ada didepan. Dan begitu terkejutnya Tia saat dia mengetahui tamu yang sudah berdiri didepan pintu.


“Pak Rio?”


“Selamat malam, maaf saya berkunjung malam hari.”


“Apa Bapak mencari Cindy?” tanya Tia penasaran.


“Bolehkah saya masuk kedalam?”

__ADS_1


“O...oh baik. Maafkan saya. Silahkan masuk.”


“Siapa Tia?” teriak Cindy dari ruang makan. Tia menghampiri Cindy dan membuatkan kopi panas untuk tamunya.


“Pak Rio, Cind.”


“Apa? Atau kamu salah mengenali seseorang.” Cindy sangat terkejut karena hal yang dirasanya tidak mungkin.


“Kalau tidak percaya, pergilah kedepan setelah suapan terakhirmu. Aku akan membawakan kopi ini kedepan sebentar lagi. Mungkin masih ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan.”


Setelah mengunyah suapan terakhir dengan cepat, Cindy langsung keruang tamu menemui Rio. Sesaat kemudian, Tia datang membawakan satu cangkir kopi panas dan meletakkan kopinya dimeja.


“Silahkan diminum, Pak. Silahkan kalian lanjutkan mengobrol, saya akan kedalam.”


“Berhenti, Tia. Duduklah!” perintah Cindy. Tia menurutinya walaupun dengan kebingungan.


“Hah??? Ada hal apa Pak Rio menemui saya?” tanya Tia tetap kebingungan. Dia tidak merasa mempunyai urusan dengan pria yang duduk dihadapannya.


“Panggil saja saya Rio, jangan terlalu formal.”


“Rio!” Cindy mencoba memanggilnya.


“Itu hanya untuk Tia, kamu tetap harus memanggil saya dengan awalan ‘Pak’”. Sanggah Rio cepat.


Cindy terkejut dengan jawaban yang baru saja Rio lontarkan, “Ada apa ini, Pak? Kenapa Bapak tiba-tiba seperti ini. Bapak membuat saya merinding.”

__ADS_1


“Tia . . . “ panggil Rio tanpa memperdulikan Cindy. “Saya ingin lebih dekat dengan kamu. Sejak pertemuan pertama kita siang tadi, saya tidak bisa menghilangkan kamu dari pikiran saya.” Kalimat Rio membuat Tia ternganga karena terkejut.


“Bapak mengutarakan cinta secara langsung? Walau baru sekali bertemu?” Cindy semakin mengencangkan nada bicaranya.


“Cindy, bisa kamu meninggalkan saya dan Tia. Saya ingin berbicara berdua dengan Tia.”


“Tetap disini, Cindy. kamu berhak tetap berada disini karena ini rumahmu.” Ucap Tia. Kali ini dia menatap Rio dengan tatapan sinisnya.


“Saya perempuan bersuami, Pak. Bapak harus tahu itu.” Ucap Tia berikutnya.


“Saya tahu. Tapi kamu akan segera bercerai. Saya sudah mencari tahu jika rumah tanggamu tidak berhasil dengan salah satu karyawan diperusahaan.


“Tapi tindakan Bapak ini tetap tidak dibenarkan. Apalagi kita baru sekali bertemu.”


“Panggil saya ‘Rio’.” Rio mengulangi ucapannya.


“Mungkin Anda hanya sedang bingung. Lebih baik Anda pulang dan menjernihkan pikiran Anda. Ini juga sudah malam, kami ingin bersitirahat.” Jawab Tia dengan ketus.


“Baiklah. Maafkan saya yang terlalu terburu-buru. Tapi saya berani memastikan, jika saya akan menunggu. Menunggu semuanya selesai dan kita bisa mulai dari awal. Saya akan mengatakan satu hal. Kamu harus bersiap Tia, karena mulai besok, saya akan mendekat kepadamu sampai kamu mau menerima saya.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Rio berpamitan dan pergi meninggalkan rumah Cindy.


Cindy masih terkejut dan terheran-heran. Bagaimana bisa pria yang selama ini ia kenal sangat membatasi diri dan tertutup tiba-tiba bisa berubah menjadi pria agresif seperti itu.


“Luar biasa, Tia. Pesona apa yang kamu keluarkan? Pesona calon janda? Atau kamu menggunakan susuk? Jika ia, kenapa tidak mengatakannya padaku agar aku bisa menggaet Pak Rio dari dulu.”


“Apakah menjadi janda bisa dijadikan lelucon, Cindy?”

__ADS_1


“Maafkan aku.” Cindy menutup mulutnya segera. “Aku hanya terkejut karena Pak Rio bisa seperti itu. Pria terpanas kedua setelah Pak Raka bertekuk lutut kepadamu, Tiaaaaa. Sejak pandangan pertama pula. Harusnya kamu lebih dulu bertemu dengan Pak Rio daripada dengan laki-laki brengsek itu.” Cindy histeris sambil berjalan masuk menuju kamarnya. Sedangkan Tia merasakan nyeri dikepalanya. Kepalanya pusing karena mendapat masalah baru, dan dia akan menemui sumber masalahnya itu hanya dalam beberapa jam lagi.


__ADS_2