
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Gilang pada Tia saat mereka sudah berada didalam kamar.
“Jujur saja aku kurang sependapat dengan mama masalah mobilku. Jika apartemen, aku tak apa, karena memang sekarang ini tempatku. Tapi mobil . . . “
Gilang mendekati istrinya dan memeluknya dengan hangat. “Sudah tak apa, nanti jika aku dipromosikan untuk naik jabatan, kita bisa membelinya lagi untukmu. Saat ini kita memang sedang kesulitan karena aku hanya karyawan biasa diperusahaan. Tapi aku berjanji akan bekerja keras untuk membahagiakan istri tercintaku.” Gilang mencoba memberikan semangat untuk istrinya.
“Saran mama ada betulnya juga. Dari penjualan apartemen dan mobil, kita bisa menabung sembari mendapatkan tambahan dana dari bunga yang dihasilkan tiap bulan.” Tambah Gilang.
Tia berfikir sejenak, “Aku serahkan semua padamu, Lang.”
“Terimakasih atas pengertiamu, Tia. Besok aku akan menghubungi agen properti untuk menawarkan apartemenmu.”
“Ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan.” Kata Tia.
“Apa itu?”
“Karena sekarang aku sudah menjadi istrimu, harusnya aku mengganti cara memanggilmu. Kata mama, menyebut namamu secara langsung kurang pas ditelinga. Kurang menghormatimu.” Kata Tia yang masih didalam pelukan Gilang.
__ADS_1
“Oh, ya? Kamu mau memanggilku apa? Baby? Honey? Sayang? Ayah? Papa? Atau . . . Awwwww!” Gilang meringis kesakitan karena Tia mencubit perutnya dengan gemas.
“Jangan aneh-aneh. Bagaimana jika ‘Mas Gilang?”
“Uhhh . . . itu sangat manis sekali. Membuatku ingin memakanmu sekarang. Aummmm!” Gilang merekatkan pelukannya dan berhasil menyambar bibir indah Tia.
Tok . . .tok . . . tok . . . suara pintu kamar ada yang mengetuk dari luar.
“Siapa yang berani sekali menggangguku memakan makanan pembukaku?” Gilang membuka pintu kamarnya dan mendapati mamanya sudah membawa dua cangkir teh hangat.
“Mama?” Gilang terkejut dengan kehadiran mamanya didepan kamarnya.
“Mama yakin?” Tanya Tia memastikan dari dalam.
“Tentu saja. Mama akan memanggil kalian jika makan malam sudah siap.” Mama Ratna menarik pintu kamar dan menutupnya Kembali.
“Tumben Mama, Lang. Eh . . . Mas.” Tia tersenyum sendiri karena kesalahan kecilnya. Dia perlu cukup beradaptasi pada panggilan baru milik suaminya.
__ADS_1
Gilang tersenyum sambil meletakkan dua gelas teh panas dimeja kamarnya. “Mama pasti sedang bahagia, apalagi memiliki menantu yang begitu cantik seperti kamu.”
“Ih, apaan si. Gombal!” tia memukul lembut dada suaminya.
“Minum dulu teh panas yang dibuatkan mama, sebelum keburu dingin.” Tia mengambil gelas tehnya lagi dan memberikannya kepada Gilang. Gilang menyeruput sedikit minuman itu karena memang benar-benar masih panas.
“Terimakasih, sayang. Lebih baik aku menunggu sedikit jika tidak ingin lidahku melepuh. Teh ini benar-benar panas.”kata Gilang.
“Bagaimana jika kamu mandi dulu, Mas?”
“Ide bagus, badanku rasanya lengket sekali.” Kata Gilang yang tiba-tiba mendekati istrinya dan mengangkat tubuh Tia.
“Tapi kenapa kamu mengangkatku?” tanya Tia kebingungan.
“Karena aku memerlukanmu ikut masuk dikamar mandi untuk menyegarkan tubuhku kembali.” Kata Gilang sambil menyingungkan senyum liciknya.
“Tapi . . . tapi . . . “
__ADS_1
“Ssssttt . . . jangan menolak, sayang. Kamu pasti akan menyukainya. Kamu pasti suka sensasinya.” Gilang tak menghiraukan protes dari Tia dan melanjutkan menggendong Tia masuk kedalam kamar mandi.
Didalam kamar mandi . . . . . . . silahkan kalian mengimajinasikan khayalan secara mandiri. Hehehehehe