
“Mas, kapan kamu akan menikahiku? Bukankah hari ini keputusan perceraian kalian?”
“Tunggu dulu, Dera. Aku baru saja bercerai, tidak mungkin langsung menikah lagi. Apa kata orang?”
“Lalu? Kamu tidak memperdulikan perasaanku? Hampir setiap hari aku melayanimu, memberikanmu kepuasan, bagaimana jika nanti aku hamil, Mas?”
“Bukankah dulu kamu sendiri yang menyerahkan tubuhmu padaku? Bagaimana bisa sekarang menjadi salahku?”
Dera duduk diatas ranjangnya dan hanya melilitkan selimut sebagai pelindungnya, “Kamu kenapa sih mas hari ini? Kenapa kamu terus-terusan marah padaku? Aku salah apa? Tadi juga kamu tidak semangat saat bercinta denganku.”
“Aku lelah, Dera. Diamlah disampingku, aku ingin tidur sebentar.” Gilang membelakangi Dera dan mencoba ingin tidur.
Dera yang merasa seperti diacuhkan marah sejadi-jadinya, dia turun dari ranjang dan keluar dari kamar dengan membanting pintu setelah menggunakan semua bajunya.
Brak . . . suara bantingan pintu terdengar keras kepenjuru rumah, membuat penghuni yang mendengarnya menuju kearah suara.
“Ada apa ini Dera? Kenapa kamu membanting pintu selarut ini?” tanya Mama Ratna.
“Anak laki-laki Mama itu sangat tidak bertanggung jawab!” jawab Dera dengan ketus.
“Apa? Kamu bilang Gilang bagaimana?”
“Iya! Mas Gilang itu sangat tidak bertanggung jawab. Padahal semua telah Dera berikan, tapi disaat Dera meminta hak Dera untuk di nikahi, Mas Gilang selalu saja menghindar, Ma!”
“Siang tadi baru keluar keputusan jika Gilang telah resmi bercerai, maklumi saja kalau Gilang belum memikirkan untuk menikahimu, Dera!” Mama Ratna sudah mulai menaikkan nada suaranya.
“Tapi kan kami sudah melakukan hubungan layaknya suami istri, Ma. Apalagi yang Mas Gilang tunggu?”
“Itu kan salah kamu sendiri, sudah tahu Gilang pria beristri masih saja kamu goda. Jangan lupa tutup pintu depan kalau kamu keluar rumah.” Mama Ratna kembali masuk kedalam kamarnya tanpa menunggu kepergian Dera dari rumah itu.
__ADS_1
***
“Maafkan aku, ternyata membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk mengepaskan gaunku.” Kata Tia saat perempuan cantik itu membuka pintu mobil Rio.
“Dimana Cindy?”
“Cindy akan pulang dengan Yose.” Jawab Tia.
“Masuklah, aku akan mengantarmu.”
“Aku bisa pulang sendiri dengan taksi, pulang dan beristirahatlah. Kamu pasti lelah setelah bekerja seharian dan menunggu lama disini.”
“Dengan pakaian seperti itu? Kamu akan membahayakan dirimu sendiri jika melakukannya. Masuklah sekarang.” Perintah Rio tegas.
“Maaf jika aku akan sering merepotkanmu, tapi aku janji setelah pernikahan Cindy selesai, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”
“Jangan mengucapkan hal yang belum pasti kita ketahui dimasa depan. Tapi yang pasti aku akan tetap membantumu kapanpun kamu mau. Jangan sungkan.”
“Bolehkah kita mampir ke apartemenku dulu? Aku ingin mengganti bajuku dengan baju yang lebih nyaman.”
“Tentu saja boleh. Aku tidak mau mengganggu kenyamananmu.”
“Terimakasih.”
Mobil Rio memasuki perumahan kawasan elit dengan pagar tinggi menjulang. Rumah yang berada dikawasan itu tidak ada satupun yang memiliki satu lantai, rata-rata memiliki dua lantai atau lebih. Dan tentu saja kawasan seperti ini dijaga ketat oleh keamanan yang super canggih.
“Ini kawasan rumahmu?” sekali lagi Tia takjub dengan apa yang dilihatnya. “Biasanya aku hanya melihat rumah seperti ini hanya di TV.”
“Bukankan dulu rumahmu juga tergolong mahal? Apartemen komplek A,bukan?”tanya Rio.
__ADS_1
“Betul, tapi tetap saja sekeras apapun aku bekerja sampai sekarang aku tidak akan bisa membeli rumah dikawasan ini. Perumahan disini memiliki tanah hak milik, dan bukan susunan apartemen yang menjulang keatas.”
Rio sudah membelokkan mobilnya kedepan pagar rumahnya, dan dengan remote yang dimiliki Rio, pagar besar itu terbuka tanpa harus ada yang mendorongnya.
“Apa pekerjaanmu hanya seorang manager? Tidak mungkin jika kamu bisa memiliki semua ini jika tidak ada bisnis lain?”
“Kenapa kamu begitu yakin?” jawab Rio saat dia membimbing Tia untuk turun dari mobilnya.
“Karena aku. Aku adalah saksi hidup. Aku manager termuda diperusahaan, dan aku orang yang cukup hemat. Tapi tetap saja langkahku masih jauh untuk perumahan ini.”
“Masuklah.” Rio mempersilahkan setelah ia membukakan pintu rumahnya.
“Atau jangan-jangan . . . “ Tia menggantung ucapannya dan menatap Rio dengan pandangan macam-macam.
“Apa? Simpanan tante kaya?”
Tia tertawa mendengar jawaban Rio sesuai dengan apa yang dipikirkannya, “Mungkin saja iya, dengan wajah setampan itu kamu bisa menggaet tante-tante kaya diluar sana.”
“Apa aku tampan?” Rio berhenti dan menatap Tia dengan seksama.
“Hem, kamu tampan. Apa kamu tidak menyadarinya?”
“Tentu saja aku tahu.” Sombong Rio.
“Aku punya bisnis lain yang saat ini dikelola oleh keluargaku.” Jawab Rio dengan segera, takut kalau Tia semakin berpikiran yang tidak-tidak.
“Oooo. . . pantas.” jawab Tia singkat dan langsung percaya. Karena dengan sikap Rio yang terkenal dikantor selama ini, memang tidak mungkin jika Rio masuk dalam kategori hidung belang.
“Duduklah disini, aku akan naik keatas dan berganti baju.” Rio menunjukkan kursi sofa besar didepan TV yang berukuran 65 inch. “Rebahkan badanmu di sofa itu, tekan saja tombol yang ada dibawah, bagian sofa itu akan naik sehingga bisa kamu gunakan untuk berbaring.”
__ADS_1
Tia antusias mencobanya setelah dipersilahkan oleh pemiliknya. Sedangkan Rio naik keatas untuk mengganti bajunya dengan kaos yang lebih nyaman.