
Pagi menjelang, matahari menampakkan senyumanya dengan iringan sinar mentari yang mulai meninggi. Pasangan pengantin baru itu baru terbangun saat sang surya sudah berada dipusatnya, mereka kelelahan karena acara pesta pernikahan mereka kemarin dan juga setelah melewati malam yang mendebarkan.
“Kamu tidak apa-apa, sayang?” tanya Gilang yang melihat istrinya melilitkan selimut keseluruh tubuhnya.
“Rasanya sakit. Tadi pagi waktu aku buang air kecil, rasanya panas di ke**luanku.”
Gilang yang mendengarnya langsung terduduk disebelah Tia, “Apa kita perlu kerumah sakit?”
Tia menggelengkan kepalanya dengan cepat dan memberikan ponselnya yang didalamnya terdapat sebuah artikel tentang keluhan yang dirasakannya. Gilang dengan perlahan membacanya dengan seksama dan tersenyum setelahnya.
“Syukurlah karena itu. Tapi jika rasa nyerinya sangat menganggu, kita bisa ke dokter sekarang, sayang.”
“Tidak perlu kurasa. Setelah kubaca nyeri ini akan berangsur hilang setelah beberapa saat.”
“Tapi apa masih ada yang kamu khawatirkan? Kenapa wajahmu masih kusut seperti itu.”
“Aku takut mama marah karena aku bangun kesiangan hari ini. Tadi pagi sebenarnya aku ingin bangun lebih awal, tapi karena rasa nyeri ini aku tidak mampu melakukannya.”
“Tidak apa-apa. Mama pasti mengerti jika kita kelelahan.” Gilang mengusap kepala Tia perlahan.
“Teruskan tidurmu. Aku akan ambilkan sarapan didapur dan membawakannya kesini. Kamu pasti sangat lapar.” Ucap Gilang dan disambut anggukan oleh Tia.
__ADS_1
Gilang melangkahkan kakinya menuju kedapur. Dengan Langkah ringan dan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
“Lihatlah senyum Kak Gilang, Ma.” Ucap Gaby saat melihat kakak laki-lakinya memasuki dapur.
“Apa makanan kita hari ini, dek?” tanya Gilang kepada Gaby.
“Gaby tidak Mama perbolehkan untuk memasak, Lang. Apa gunanya punya menantu jika tidak bisa membantu pekerjaan dirumah ini. Dan lihatlah hari ini, sampai sesiang ini Tia belum juga bangun. Apa dia tidak menghormati Mama yang ada dirumah ini?” protes mama kepada Gilang.
“Maa . . .” Gilang mendekati mamanya dan memeluknya dari belakang. “Kemarin kami berdua sangat lelah, Ma. Tolong mengerti, pasti mama tahu karena mama pernah mengalaminya bukan?” jelas Gilang.
“Jangan kira kalau Mama seperti Tia. Dulu setelah Mama menikah dengan ayahmu, tidak ada waktu untuk selalu memikirkan urusan hanya berduaan saja. Mama sudah harus mengurus kakekmu yang sudah sakit-sakitan. Untung saja kakekmu cepat mati tidak lama setelah Mama menikah. Sungguh merepotkan.”
“Ma!!! Bagaimanapun juga beliau adalah orang tua Mama. Bagaimana bisa Mama berbicara seperti itu. Kakek yang memberikan semua fasilitas yang sekarang kita nikmati. Bahkan setelah sepeninggal ayah.” Gilang sedikit mengeraskan suaranya dan melepaskan pelukannya.
“Hari ini Gilang akan mengajak Tia untuk makan diluar. Nanti akan aku bawakan untuk kalian berdua.” Gilang melangkah meninggalkan adik dan mamanya.
“Lihatlah sekarang yang sudah berani kasar dengan Mama setelah menikah!” bentak mama. Tapi Gilang tidak menghiraukannya dan melangkah untuk kembali ke kamarnya.
Brak . . . brak . . . Gilang membuka dan menutup pintu kamarnya dengan kasar. Hal ini membuat Tia terkejut dan langsung bangun dari tidurnya.
“Maafkan aku, sayang. Aku pasti mengejutkanmu. Berbaringlah lagi.” Gilang menyadari kesalahannya.
__ADS_1
“Ada apa, Lang? Apa mama marah kepadamu karena aku tak bangun awal?” tanya Tia dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran.
“Tidak . . . tidak, bukan hal itu. Tenang saja, tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak bisa mengontrol kekuatanku saat membuka dan menutup pintu saja. Berbaringlah lagi.” Gilang menyandarkan kepala istrinya ke bantal dengan perlahan.
Dengan perlahan Gilang mendaratkan ciumannya kepada bibir perempuan yang dicintainya. Secara perlahan juga Tia membalas ciuman itu. Gilang melepaskan ciumannya karena dirasa sudah semakin membakar gairah dan menjalar keseluruh tubuhnya.
“Kenapa?” tanya Tia saat bingung karena Gilang menghentikan ciumannya.
“Aku tidak mau menjadi hewan buas karena memaksakan kehendakku kepada istriku yang masih merasakan nyeri. Kamu tahu aku tidak akan bisa mengendalikannya jika kegiatan kita menjadi terlalu dalam.”
Tia tersenyum malu saat dia menyetujui apa yang diucapkan oleh Gilang. Hasratnya masih sangat membara setelah penyatuan keduanya dimalam sebelumnya. Tanpa dia sadari bahwa asetnya belum siap menerima gencatan senjata berikutnya. Gilang meninggalkan tempat tidurnya dan beranjak kedepan lemari bajunya.
“Kamu mau kemana, Lang?” tanya Tia saat melihat suaminya mengganti bajunya.
“Aku akan keluar sebentar untuk mencari makanan. Aku ingin mengajakmu, tapi kurasa kamu masih kesakitan.”
“Gaby juga tidak memasak hari ini, pasti mereka juga masih kelelahan.” Gilang memberikan alasan.
“Bisa menungguku sebentar saja, aku coba untuk ikut. Aku ingin keluar jalan-jalan menghirup udara segar.”
“Jangan memaksakan dirimu, sayang.”
__ADS_1
“Aku bisa mencobanya dulu, jika dirasa terlalu sakit, aku akan menunggumu dengan manis didalam kamar ini.”
Setelah beberapa saat, rasa nyeri yang Tia rasakan berangsur mereda. Dia bisa mengikuti suaminya keluar rumah untuk mencari makanan untuk mereka berdua juga mama dan adik Gilang.