CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 58


__ADS_3

“Tia? Bagaimana keadaanmu? Apa kamu tidak apa-apa?” berondong Cindy saat dia melihat Tia kembali bergabung kepestanya.


“Aku baik-baik saja, Cindy. Jangan khawatir, ada Rio yang bersamaku.”


“Terimakasih, Pak Rio. Untung ada Bapak, jika tidak, pesta ini akan berubah menjadi pertumpahan darah gara-gara b*debah seperti Reza. Padahal saya tidak mengundangnya, tapi kenapa bisa dia datang tanpa rasa malu.”


“Jaga bicaramu, Sayang. Anak kita bisa mendengarnya.” Sela Yose.


“Huft . . . aku memang harus mengubah kebiasaan burukku secara perlahan. Tolong ingatkan aku jika aku mengucapkan kata-kata buruk lagi.” Pinta Cindy pada Yose.


“Tentu saja.” Yose mengecup mesra Cindy.


“Pestanya akan berakhir dalam satu jam lagi, Tia. Jika kamu sudah merasa lelah, kamu bisa kembali kerumah.”


“Tapi bagaimana denganmu Cindy?” Tia merasa khawatir untuk meninggalkan sahabatnya.


“Apa kamu lupa? Aku wanita bersuami sekarang.” Cindy memamerkan cincin berlian yang melingkar dijarinya.


“Hampir saja aku lupa.”

__ADS_1


“Lanjutkanlah bersenang-senang dipestaku. Tak perlu mencariku nanti jika kamu ingin pulang, tapi jangan lupa memberiku kabar jika sudah sampai rumah.” Perintah Cindy.


“Iya . . . iya, sudah sana lanjutkan kegiatan kalian. Masih banyak tamu yang harus kalian berdua temui.”


Cindy melambaikan tangannya kearah Tia dan menghilang dibalik kerumunan tamu. Tia merasa lega jika sahabat satu-satunya miliknya sudah melangkah dan menemukan seseorang yang tepat baginya. Sangat terlihat jelas jika Yose merupakan pria yang bertanggung jawab.


“Mau pulang sekarang? Aku akan mengantarkanmu.” tanya Rio.


“Tidak perlu, Rio. Aku bisa pulang sendiri.” Jawab Tia singkat, lalu dia pergi meninggalkan Rio yang masih terpaku ditempatnya.


“Hay . . . pria tampan. Sendirian saja. Pasti pria ini yang kemarin sempat dibicarakan oleh Cindy.” sapa beberapa teman perempuan Cindy.


“Apapun yang kalian dengar dari Cindy, aku pastikan semuanya salah. Singkirkan tangan kalian dan menjauhlah dariku sekarang jika tidak ingin kupermalukan saat ini juga.” Ancam Rio dengan mata penuh amarah.


“Ihh . . . apa bagusnya laki-laki tamperamen seperti ini, percuma saja dia punya wajah dan tubuh yang bagus, tapi sifatnya sungguh membuat tidak nyaman. Yuk teman-teman, kita pergi saja dari sini.”


Mereka semua pergi meninggalkan Rio yang sudah berusaha menahan amarahnya. Pikirannya kalut, marah dan penyesalan menjadi satu dihatinya. Dia menyesal karena bertindak gegabah kepada Tia, dan marah karena tidak bisa mengendalikan dirinya.


‘Perusahaan S&D Group’

__ADS_1


“Bu Tia, untuk proyek ini apa lagi yang kurang?” tanya Santi, salah satu anggota tim nya.


“Tambahkan beberapa detail dibagian ini, lalu berikan ini kepada Devi.” Tia memberikan satu berkas laporan yang telah selesai Tia periksa.


“Baik, Bu.” Santi mengambil berkas yang diberikan oleh Tia. “Oh, selamat pagi Pak Rio.” Sapa Santi saat masih berada didepan Tia.


“Pagi, Santi.” Rio terus berlalu menuju ruangannya.


“Emmm . . . apa Bu Tia bertengkar dengan Pak Rio?”


“Kenapa kamu berfikir seperti itu?”


“Biasanya Pak Rio selalu mampir keruangan Bu Tia dulu saat lewat, tapi tadi . . .” Santi ragu melanjutkan kalimatnya.


“Mungkin Rio sedang ada pekerjaan yang harus dia kerjakan, jangan berfikir yang tidak-tidak. Cepat kembali kemejamu. Dan jangan lupa berikan itu pada Devi.” Perintah Tia.


“Baik, Bu.” Santi pergi dari ruangan Tia.


Sejak dari pesta pernikahan Cindy, Rio dan Tia belum saling menyapa satu sama lain. Apabila ada pekerjaan atau rapat yang mengharuskan mereka berdua berinteraksi, Rio dan Tia hanya berinteraksi secukupnya dan kembali terdiam saat bagian mereka berdua selesai.

__ADS_1


Beberapa karyawan menyadari hal itu karena sikap Rio yang terlihat jelas berbeda dari hari biasanya. Kabar ini cukup membuat geger seisi kantor karena hubungan Rio dan Tia adalah harapan mereka satu-satunya untuk terbebas dari kerja berat karena tekanan dari Rio. Dan benar saja, semenjak adanya jarak diantara keduanya, karyawan yang dibawah kepemimpinan Rio bagaikan berada dineraka saat mereka harus menyelesaikan pekerjaan dengan cepat walaupun itu harus lembur hingga larut malam.


__ADS_2