
Sudah hampir tiga minggu Tia dan Rio tidak saling menyapa ataupun berbicara diluar pekerjaan. Dan selama itu juga Rio masih meneruskan kebiasaan barunya dalam mengikuti Tia saat pulang kerja. Rio merasa khawatir pada Tia jika terjadi hal yang tidak-tidak saat perjalanan. Terutama saat lembur, seperti malam ini. Perlu beberapa menit bagi Tia untuk mendapatkan taksi karena bis sudah tidak beroperasi selarut ini.
Saat Tia turun dari taksi dan berjalan menuju rumahnya, Rio memarkirkan mobilnya dulu ditepi jalan selama 5 menit, dan setelah yakin jika Tia baik-baik saja, dia akan memutar kemudinya dan berbalik untuk pulang. Tapi baru saja beberapa meter Rio meninggalkan kawasan Tia, teleponnya berdering dan nama Tia terpampang dilayarnya.
“Halo? Tia?”
“Lepaskan! Tolong! Emmmm . . . . emmmmm.” Teriakan Tia berubah menjadi suara yang tertahan karena ditutup mulutnya.
Tidak pikir panjang, Rio langsung membanting setirnya untuk kembali kearah rumah Tia. Dengan terburu-buru, Rio memarkirkan mobilnya dipinggir jalan dengan sembrono. Pria tampan itu berlari dengan penuh khawatir.
“Tia! Tia!” merasa panggilannya tidak direspon, Rio mendobrak pintu rumah Tia dan mendapati Tia yang sudah dikekang oleh dua orang pemuda dan mulutnya disumpal dengan kain. Yang lebih membuat Rio naik pitam, dia melihat Tia menangis dalam diam karena yang dialaminya dan hanya pakaian dalam yang melekat ditubuhnya.
“Akan kubunuh kalian semua!” Rio berlari kearah dua pemuda itu dan langsung menghadiahkan bogeman mentah. Rio menghajar mereka berdua secara membabi buta.
“Hentikan, Rio! Kamu bisa membunuh mereka!” Tia berusaha menahan tubuh Rio agar segera berhenti karena kedua pemuda itu sudah tidak sadarkan diri.
Dengan cepat Rio mengambil selimut dari kamar Tia dan menutupi tubuh Tia dengan selimut itu. Karena mendengar keramaian yang berasal dari rumah Tia, beberapa warga mulai berkerumun dan melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, polisi datang kerumah Tia karena ada warga yang melaporkan kejadian malam itu. Polisi membawa kedua pelaku kekantor polisi dan meminta keterangan dari Tia. Perempuan cantik itu menjawab semua pertanyaan polisi sambil terbata-bata dan tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut yang masih dirasakannya.
“Terimakasih, Bu Tia atas keterangannya. Kami akan melakukan yang terbaik demi keadilan bagi ibu. Kami pamit dulu. Selamat malam.” Ke empat polisi itu berpamitan dan kembali kekantor jaga.
“Mbak Tia, bagaimana keadaannya?” tanya ibu-ibu tetangga Tia.
“Saya sudah tidak apa-apa, Bu.”
“Yuk mbak, masuk kekamar dulu dan ganti bajunya dengan baju yang lebih hangat.” Ajak ibu tetangga lainnya.
Beberapa ibu-ibu tetangga berempati kepada Tia dan hampir keseluruhan warga mengutuk perbuatan kedua pemuda tadi. Mereka bahkan merasa bersyukur karena Rio telah menghajarnya, karena beberapa orang tua yang memiliki anak perempuan juga terkadang dibuat resah karena tindakan pemuda yang menjadi tersangka itu.
“Saya akan membawa Tia untuk ketempat yang lebih aman, Bu. Saya rasa Tia akan ketakutan jika berada dirumah ini sendirian.” Ucap Rio pada ibu-ibu yang masih mengelilingi Tia.
“Oh, iya Mas. Tolong jaga Mbak Tia. Kasian, badannya masih begetar.”
“Baik, Bu. Terimakasih karena sudah menenangkan Tia.”
__ADS_1
“Emm . . . kalau boleh tau, Mas ini siapanya Mbak Tia?”
“Saya teman sekantornya Tia, Bu.”
“Oh iya, iya. Pantas dulu saya pernah melihat Mas mengantar Mbak Tia sekali, betulkan?”
“Betul, Bu. Jadi saya mau permisi sekarang. Ini juga sudah larut. Bapak ibu sekalian silahkan melanjutkan istirahat.”
“Hati-hati ya, Mas.” Celetuk beberapa bapak-bapak yang berada diluar rumah Tia. Mereka secara perlahan kembali masuk kerumah masing-masing dan tentu saja masih membicarakan apa yang baru saja terjadi.
“Ayo, Tia. Ikut saja kerumahku. Disana akan lebih aman.”
Tia mengikuti Rio tanpa berkata apa-apa. Rio hanya mengemasi tas Tia yang tercecer dan membawanya. Tia terus saja terdiam saat diperjalanan, mentalnya terguncang, dia tidak pernah menyangka jika akan mendapat musibah seperti yang dia lalui baru saja.
Sesampainya dirumah . . .
“Duduklah, aku akan membuatkan minuman hangat untukkmu.”
__ADS_1
Saat Rio sudah kembali dengan minuman hangat ditangannya, tangis Tia pecah. Dia menangis dan mengeluarkan semua ketakutannya, Rio memeluknya dan berusaha menenangkan Tia. Suara tangis Tia terasa begitu memilukan, tidak pernah dia mendengar seseorang menangis semenderita ini. Rio turut merasakan kesedihan yang Tia rasakan. Pria itu menepuk punggung Tia untuk menenangkannya.
Setelah cukup lama menangis, tanpa sadar, Tia tertidur karena kelelahan. Dengan pelan, Rio menggendong Tia naik kelantai atas, dan meletakkan tubuh Tia secara perlahan diatas tempat tidur. Rio mengingat dengan jelas ekpresi Tia saat dia menyelamatkannya. Diwajahnya tergambar jelas rasa takut yang sangat besar. Jika mengingat hal itu, amarahnya muncul kembali karena mengingat dia tidak langsung menghajar kedua pemuda yang dia temui saat mengantar Tia pertama kali. Ya, dua pemuda yang berkata tidak senonoh itu yang membuat Tia harus merasakan kejadian yang tidak menyenangkan.