
“Kamu sudah siap?” Rio menunggu Tia dilantai satu. Pria itu sudah memakai setelan baju yang rapi, hari ini Rio menggunakan atasan batik yang didominasi warna krem dan dipasangkan dengan celana berwarna hitam. Rambut coklatnya ditata sedemikian rupa, menambah ketampanan yang terpancar diwajahnya.
“Sudah.” Jawab Tia. Rio menggenggam tangan Tia dan mengajaknya untuk menuju kegarasi. “Kamu cantik sekali hari ini.” Puji Rio saat melihat Tia menggunakan atasan berlengan panjang berwarna putih dan celana panjang berwarna coklat muda.
“Terimakasih.” Balas Tia. “Tunggu, Rio! aku punya satu persyaratan. Apa kamu bisa berjanji padaku?” Tia menghentikan langkahnya.
“Aku akan berikan semua yang kamu inginkan, Tia.”
“Kamu yakin? Kamu tidak akan mengingkari janjimu? Kamu tidak ingin bertanya dulu apa keinginanku?”
“Aku pastikan akan selalu menepati janjiku, apapun keinginanmu.”
“Baiklah, aku pegang janjimu. Jadi, ayo sekarang kita berangkat.”
Pagi itu, Rio dan Tia pergi menemui seorang ulama yang akan menikahkan mereka berdua secara agama. Rio telah membuat janji secara langsung saat Tia menerima lamarannya, tidak ada yang hadir dari keluarga Rio karena Rio belum memberitahukan kepada seluruh keluarga besarnya. Sedangkan Tia, karena dia tidak memiliki siapa-siapa, maka wali nikahnya akan diwakilkan.
Selama perjalanan, Rio berlatih menyebutkan kalimat yang akan dia ucapkan saat dihadapan penghulu nanti. Rio tampak serius menghafal seluruh kalimat yang sudah diajarkan oleh Ustaz Ahmad, kenalannya.
“Apa yang kamu gumamkan dari tadi, Rio?”
“Emm. . . aku sedang berlatih. Aku ingin berhasil dalam satu kali percobaan.
“Aku tidak percaya jika seorang Rio Erens Dewanto bisa segugup itu.”
“Aku juga manusia biasa Tia, aku akan selalu gugup jika itu berhubungan denganmu.”
“Kamu sungguh manis.” Olok Tia sambil menahan senyumnya.
“Jangan menyebutku manis, Tia. Aku pria sejati. Kata manis tidak cocok untukku.”
“Seluruh penggemarmu dikantor akan terkejut jika mengetahui sifatmu yang satu ini.”
“Aku tidak akan menunjukkannya kepada mereka, karena aku hanya milikmu, Sayang.”
“Iiiihhhh . . . bagaimana bisa kamu mengatakan hal yang memalukan seperti itu dengan sikap yang biasa saja, merinding rasanya.”
“Entahlah, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Setelah kamu menyetujui lamaranku, rasanya aku ingin segera memberikanmu seluruh kebahagiaan didunia ini.”
__ADS_1
“Jangan tergesa-gesa, Rio. Situasi kita sekarang bukanlah pada posisi sebagai pasangan dengan perasaan penuh cinta. Jujur aku belum memiliki perasaan yang berarti padamu, kamu juga sudah tahu hal itu. Aku tidak mau kamu terlalu sakit jika kemungkinan terburuk yang terjadi.”
Rio kehilangan senyumnya, “Aku tahu jika kamu menerimaku karena aku memaksamu untuk menerimaku, aku tahu dan sadar akan hal itu, tapi aku juga sudah mengatakan jika aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Jadi aku tidak perlu menahan diriku lagi untuk mendekatimu.”
“Terimakasih, Rio.”
“Untuk?” tanya Rio.
“Untuk semuanya. Bahkan untuk melindungiku, kamu mau melakukan hal seperti ini.”
“Ini bukan hanya untuk dirimu, Tia. Tapi juga untukku. Aku bersyukur bisa berada disisimu.”
Tia terdiam lagi setelah beberapa pembicaraan yang mereka lontarkan didalam mobil. Tia takut jika ia akan menyakiti Rio dengan harapan palsu. Saat ini, walau Rio memiliki arti tersendiri untuk Tia, tapi perasaan itu bukan perasaan cinta. Tia baru saja beberapa bulan yang lalu mengakhiri hubungan pernikahannya, dia takut jika perasaannya pada Rio karena pelampiasan semata.
Rio sudah memarkirkan mobilnya dihalam rumah Ustaz Ahmad yang akan menikahkan mereka berdua. Rio dan Tia sebelumnya diberikan pertanyaan tentang kenapa mereka memilih menikah secara agama saja dan bukan secara sah negara. Rio menjelaskan kondisinya jika mereka akan hidup dalam atap yang sama dan tidak ingin timbulnya fitnah dan dosa apabila terjadinya situasi yang tidak bisa terhindarkan. Tak lupa Rio juga menjelaskan jika dia benar-benar mencintai Tia dan tidak akan membuat pernikahannya sebagai bahan mainan.
Setelah mendapat penjelasan, dengan dibantu dua orang saksi dan wali nikah, mereka menikahkan Rio dan Tia. Dan tentu saja, dalam satu kali percobaan, Rio berhasil menjadi suami Tia, sah dimata agama.
“Ayo diminum, Nak.” Bu Lastri menyuguhkan teh hangat untuk Tia dan Rio. Bu Lastri adalah istri Ustaz Ahmad yang menikahkan mereka berdua.
“Duduklah disini sebentar, aku harus mengangkat telepon diluar.”
“Angkatlah. Aku akan disini dengan Bu Lastri.”
Rio mengangkat telepon yang terhubung dengan nama orang yang dikasihinya. Nomornya bukan berasal dari Indonesia, nomor itu berasal dari Amerika.
“Halo, Bunda?” sapa Rio.
“Sayang? Bagaimana kabarmu?”
“Rio baik-baik saja, Nda.” Jawab Rio dengan penuh rasa sayang.
“Apa betul kabar yang Bunda terima dari ayahmu, hm?”
“Maaf, Nda. Rio kemarin tak bisa lama untuk mengobrol, jadi Rio hanya menyampaikan kabar itu secepatnya melalui ayah.”
“Tidak masalah, yang penting kamu harus menjadi pria bertanggung jawab. Bunda penasaran siapa yang mampu mengalahkan putra Bunda yang dingin ini?”
__ADS_1
“Rio tidak pernah bersikap dingin dengan Bunda dan Ayah.”
“Betul, tapi Bunda ingat jelas jika sifatmu sedingin es jika berinteraksi dengan orang lain. Terutama dengan perempuan. Walau kamu memiliki beberapa kekasih disini, Bunda tahu jika kamu tidak benar-benar mencintai mereka, karena kamu tidak pernah menunjukkan ekspresi sayangmu.”
“Kali ini berbeda, Nda. Rio tergila-gila padanya. Bunda harus melihatnya secara langsung, Rio pastikan jika Bunda akan langsung menyukainya.”
“Tentu saja. Jika pekerjaan ayahmu disini bisa ditinggal, Bunda dan Ayah akan segera kembali ke Indonesia. Bunda ingin menemui menantu Bunda satu-satunya.”
“Jangan dulu, Nda! Rio berjanji padanya jika dia sudah mencintai Rio, maka Rio baru akan mengenalkannya kepada Bunda dan Ayah.”
“Jadi cintamu bertepuk sebelah tangan? Ckckckck . . . kamu memaksnya dengan cara apa? Kenapa sampai dia mau menikahimu?”
“Ceritanya panjang, Nda.”
“Tenang saja. Bunda akan membantumu mendapatkan hatinya. Jangan khawatir.”
“Betulkah? Terimakasih, Bunda. Aku mencintaimu.”
“Bunda juga sangat mencintaimu, Sayang. Bunda harus menemui ayahmu dulu, disini sudah malam. Selamat malam putra kesayangan Bunda.”
“Bye, Nda.” Rio menutup teleponnya dengan perasaan yang penuh bahagia.
“Ayo, Tia, kita harus pergi sekarang.” Ajak Rio saat dia kembali kedalam rumah.
“Tidak minum dulu, Nak Rio?” tanya Bu Lastri.
“Terimakasih, Bu. Tapi kamu harus segera pergi, masih ada banyak yang perlu kami kerjakan.” Rio beralasan.
“Baiklah, hati-hati dijalan.”
“Terimakasih banyak atas bantuan Ibu dan Bapak.” Ucap Tia.
“Tidak masalah, Nak. Rio juga sudah banyak membantu pesantren kami. Ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kebaikannya.” Jelas Ustaz Ahmad.
“Bapak jangan berkata seperti itu. Bantuan saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebaikan Bapak dan Ibu. Kami pamit dulu, Pak.” Pamit Rio.
“Silahkan, Nak. Hati-hati dijalan.”
__ADS_1